Gendut

Belakangan ini saya teramat jengah dengan kata yang satu ini; gendut.

Rasanya setiap hari akan ada perempuan yang posting foto dengan caption gendut, ataupun komentar di foto dengan kata dan kalimat serupa. Abaikan lebar pinggang, posisi miring andalan (biar perut ketutupan), lupakan lengan gelambir, salah fokus ke pipi chubby, dan lain-lain dan sebagainya dan seterusnya.

Berat saya sekarang 69 kg, dengan tinggi 154 cm.

Iya, saya gendut.

Saya sangat suka makan dan sangat malas olahraga. Jadi saya gendut, ya sudahlah.

Ada salah satu teman yang hampir selalu bilang kalau dia gendut. Entah di sosial media, ataupun di whatssap grup. Padahal dia ga gendut. Dan ini hampir setiap hari. Iya, setiap hari.

Ada satu teman yang statusnya selalu tentang upaya supaya kurus, padahal dia sekarang sudah sangat kurus dibanding beberapa tahun lalu. Sampai beberapa orang, termasuk saya, khawatir jangan-jangan dia terobsesi pengen kurus.

Dan banyak orang yang entah karena ga ada ide mau pasang caption apa di foto selfie-nya, lalu isinya hanya tentang gendut.

You know what? You really do not need excuses to post a selfie picture. Yang suka tinggal kasih jempol, yang ga suka ya tinggal lewat aja kan?

Sungguh melelahkan.

Kalau ga mau gendut ya hidup sehat lah, olahraga teratur dong. Ga usah mengeluh dan berisik setiap saat di sosial media, capek bacanya. Sama capeknya kaya baca perseteruan tiada akhir soal politik di Indonesia.

Saya termasuk yang susah kurus, tapi ga perlu juga kan ya saya bela diri kalau ada yang bilang saya gendut. Males nulisnya, tapi yang pasti bakalan lebih males bacanya.

Round is also a shape, as I would always say many times.

Saya punya beberapa teman yang anaknya sudah disuruh diet dari mulai masuk SD dengan alasan; nanti ga ada cowok yang mau loh. Atau, cowok ganteng mana mau sama cewek gendut.

Buat saya ini sudah sangat berlebihan. Tapi bukan area saya untuk komentar.

Gendut atau kurus itu urusan masing–masing, tapi kalau setiap saat dibahas… blah banget!!!

Mari berusaha melatih pikiran supaya mampu melihat diri sendiri dan sekitar dengan lebih baik dari sekedar label gendut dan kurus.

Iklan

Kasar sama anak

Beberapa hari lalu saya ga sengaja lihat video yang di share teman di facebook. Sayangnya saya ga ngerti bagaimana cari link-nya jadi cuma bisa screen captured aja πŸ™ˆ Isinya video di playground kecil, ada anak-anak main kursi putar. Salah satu anak berlari memutar kursi dan ga sengaja menabrak anak lain. Tiba-tiba seorang bapak yang duduk dekat situ langsung berdiri dan menendang si anak yang menabrak tadi dengan sekuat tenaga dan kemudian kembali duduk dengan tenang. Si anak tampak menangis kesakitan dan kelihatan kesulitan bangun dari posisi telungkupnya. Emosi saya langsung naik nyaris meledak. Semoga si bapak mendapat ganjaran atas perbuatannya dan anak kecil itu sehat ga luka atau apapun.

  
Walaupun berulang kali dengar dan lihat di media sosial kejadian-kejadian mengenaskan kekerasan pada anak, tetap ya rasa marah dan kecewa itu selalu membuncah. Kok ya bisa jahat sama anak, apalagi anak yang betul-betul masih kecil… Knock on wood deh, semoga anak dan keluarga kita selalu sehat dan selamat dalam lindungan-Nya ya, aamiin…

Seorang teman saya mengalami langsung kejadian anaknya menjadi korban kekerasan pengasuh. Seringkali saat pulang kantor, dia melihat memar dan lebam di tubuh anaknya yang waktu itu belum genap 2 tahun. Anaknya pun tampak kurus dan murung. Pengasuh selalu hanya jawab jatuh atau terbentur. Sampai suatu hari teman saya beli semacam cctv dan melihat semua kejadian yang pastinya merupakan mimpi buruk setiap orang tua. Sampai saat ini teman saya ga sanggup menceritakan apa yang dialami anaknya, selain bahwa anak diberi obat tidur dan mendapat perlakuan sangat kasar. 

Kejadian lain dialami orang tua murid di sekolah keponakan saya. Suatu hari sang ayah berkendara dan melihat anak kecil yang digendong pengemis di jalan mirip sekali dengan anaknya. Dia tlp ke rumah dan pengasuh bilang anaknya sedang tidur. Entah mungkin kontak batin atau bagaimana, si ayah turun dan berhasil mengambil anak di jalanan tsb dan membawanya pulang. Dan ketakutan itu terbukti karena si anak memang tidak di rumah tetapi disewakan pada pengemis jalanan πŸ‘Š kejadian ini tidak mereka laporkan, tetapi yang saya dengar kemudian adalah sang ibu mengundurkan diri dan mengurus sendiri anak-anaknya.

Kejadian lain yang sering bikin emosi adalah kelakuan para ibu yang membiarkan anak berlaku kasar pada anak lain. Apartemen dimana kami tinggal saat ini menyediakan ruang bermain yang cukup lengkap dan luas. Beberapa kali kami sempat ketemu anak yang lumayan nakal, dalam artian Eden dan anak lain ga boleh pegang mainan apapun. Selalu direbut dengan cara kasar, bahkan beberapa kali saya lihat dia memukul dan menendang. Untung ibunya lumayan paham dan selalu memarahi, walaupun kelihatannya tidak terlalu berpengaruh karena anaknya tetap melakukan itu sepanjang waktu mereka di ruang main. 

Yang bikin emosi adalah ketika sang ibu dengan manis duduk di sebuah sudut dan sibuk dengan gadget-nya, sementara anaknya merebut, memukul atau menendang anak lain. Kadang cuma angkat kepala sebentar dan bilang, “jangan ya…”, tanpa berbuat apapun. Tadinya saya sungkan mau memarahi anak orang, jadi saya selalu alihkan Eden dari area tempat anak tsb bermain. Tapi lama kelamaan gerah juga, jadi kalau besok-besok ada yang memukul atau menendang Eden, sepertinya saya akan menegur anak tsb. Alhamdulillah selama ini sih belum pernah kejadian ya…

Kelihatannya berlebihan mungkin, tapi saya emosi kalau anak saya dikasari sementara ibu dari anak yang melakukan itu hanya diam dan ga berbuat apapun 😀 selama masih bisa menghindar saya tetap akan pilih menghindar, tapi kalau keterlaluan ya akan saya tegur. 

Saya paham juga kalau anak-anak sesekali akan bertengkar dan 2 menit kemudian main bareng lagi. Tapi saya juga meyakini kalau mereka berbuat sesuatu yang tidak baik ya harus diingatkan saat itu juga kalau itu bukan perilaku yang baik, dengan harapan suatu hari mereka akan mengerti dan tidak mengulanginya.

Saya punya beberapa sepupu yang tidak pernah melarang anaknya, jadi si anak bisa menangis jerit-jerit dan memukul kalau ada yang mengatakan jangan atau tidak boleh. Kejadian sekali waktu mereka ke rumah ibu saya dan anaknya bermain dengan pajangan pecah belah di lemari, sepupu saya diam saja, jadi ibu saya langsung mengalihkan dan mengambil pajangan itu sambil bilang jangan. Kontan anak itu menangis histeris πŸ™ˆ ibunya cuma jawab, “dia ga boleh dibilang jangan tante, pasti ngamuk”. Well, silahkan lah ya kalau dirumah sendiri, tapi kalau bertamu kan tetap ada aturan. Ya ga sih?

Saya dan M sepakat bahwa kalau Eden melakukan sesuatu yang tidak baik harus langsung diberi tau, dan harus konsisten. Sekarang ini Eden lagi suka lempar segala barang dan manjat segala macam. Jadi kalau ketahuan, saya atau M harus menegur, memberi tepukan ringan di tangan atau pantat sebagai hukuman. Tentunya kadang rasa bersalah menggila bikin saya ga tega, tapi kalau diperhatikan, Eden tau batasan mana yang boleh dia lakukan atau ga boleh. Mukanya jail banget atau malah sok ga bersalah banget. Biasanya kalau dia merasa bersalah sih langsung minta peluk πŸ˜‹ “abuuu cuddle… daddy cuddle”. Meleleh deh 😍

Ada ide lebih baik kalau ketemu anak yang kasar sama anak kita sementara orang tua atau pengasuhnya diam saja?

Curhatan Madam Expat

Sebelum pindah ke Jakarta, beberapa teman sudah mulai meledek saya habis-habisan karena saya akan menyandang status ‘madam expat’; istri bule yang kerja di Indonesia. Segala pesan, nasihat dan cela-celaan pun bertaburan memenuhi percakapan di WhatsApp πŸ˜‹

Jadi ingat beberapa cerita soal ‘madam expat’ yang saya temui di Papua dulu, waktu saya kerja di medical service-nya perusahaan pertambangan yang dekat salju Cartenz itu…

  • Pernah ada ibu-ibu yang pas dipanggil namanya ga mau bangun dari kursi, padahal dia duduk dekat meja pendaftaran jadi ga mungkin lah ga kedengaran. Pas dipanggil ulang dengan nama belakang suaminya aka Mrs. Xxx, langsung berdiri dengan semangat sambil bilang, “that’s me, that’s me!”.
  • Ada juga yang kalau daftar ga mau lewat meja pendaftaran, maunya langsung duduk depan ruang dokter expat. Kalau diminta kembali ke ruang depan untuk daftar, langsung dengan nada tinggi bilang; “saya istri expat loh mba…”.
  • Satu lagi, saya ketemu ibu ini lagi belanja di Hero dan sibuk mondar mandir dengan high heels bletak-bletuk nyari petugas, trus dia tanya dengan logat Cinta Laura; “mmm mba, syaya chari kengkong, mana ya?. Mba-mba Hero bingung, tapi akhirnya ketahuan kalau yang dicari ibu itu ga lain dan ga bukan adalah kangkung 😁.

Jadi waktu saya mulai pacaran sama M, saya mesti tebal kuping karena semua teman yang tau kalau saya selalu bilang ga tertarik sama bule ngeledek saya habis-habisan. Nasib ya nek… πŸ˜‹ makanya ga boleh banget deh ngomong ‘ga bakalan’, nanti bisa ketula.

Saya pernah cerita sebelumnya kalau saya dituduh sebagai babysitter-nya Eden sama mba kasir di RS Brawijaya kan? Nah setelah pindah ke Jakarta, tuduhan-tuduhan macam ini makin sering saya terima. Mau marah, kok ya percuma, tapi sampai hari ini saya masih tetap ngerasa dongkol sih kalau kejadian.

  • Suatu hari berdua Eden lagi jemput M pulang kerja, nunggunya depan gerbang apartemen depan pos satpam. Setelah nanya Eden umur berapa bulan, muji-muji Eden lucu dll dst blablabla, satpam itu nanya; “trus situ siapanya?”. 
  • Petugas maintenance apartemen datang dan pas dibukain pintu mukanya asem trus nanyanya dengan nada datar ga sopan, pake nyuru-nyuru pulak; “ini dong mba…”, ato “emang kenapa ac-nya?”.
  • Plus banyak kejadian serupa yang berulang hampir setiap minggu πŸ™ˆ

Saya ga gila hormat, cuma jadi ngerasa diperlakukan sebagai masyarakat kelas dua atau seseorang yang ga perlu dihormati aja. Kalau pas jalan sama M, kadang orang tuh sampe bungkuk-bungkuk hormat, ke dia tentunya bukan ke saya.

Emangnya orang Indonesia ga umum gitu tinggal di apartemen? Atau orang yang tinggal di apartemen mesti selalu dandan rapi supaya ga disangka babysitter?

Pada prinsipnya menurut saya sih ini hal mendasar banget, bahwa semua manusia harus saling menghargai dan menghormati. Emangnya kalau saya babysitter, lalu saya ga punya hak dihargai dan boleh dibentak atau diperlakukan ga sopan? Duhhh jangan sampe deh ya saya jadi orang yang begitu. Knock on wood.

Oya, ada satu kejadian juga yang bikin saya bengong. Teman kantor saya (dulu, sekarang jadi teman kantor M), mau titip mie ayam buat saya untuk M bawa pulang. Dia tanya,”emang gpapa klo M nenteng kresek? Dia kan bule…”. Astaga benerrrrr πŸ™ˆ Emangnya kenapa kalau bule nenteng kantong kresek? 

Sungguh deh, apapun kemasannya, kita semua manusia, penghuni bumi. Yang sudah sewajarnya hidup saling menghargai dan menghormati. That’s not supposed to be so hard, right?

Nenek Kakek

Tadi malam tiba-tiba saya kangen banget sama nenek kakek; emak (ibu dari bapak saya), mbah dan papih (orangtua dari ibu saya). Kangen luar biasa yang bikin saya merasa terlempar ke masa lalu dan melihat lagi mereka dan merasakan sentuhan tangan tua mereka. Saya ga sempat kenal Abah, ayah dari bapak saya, karena beliau sudah lama meninggal dunia. 

Emak adalah perempuan pekerja keras, sepanjang usia beliau menetap di Garut. Bertani, berladang, lengkap dengan kain plus kebaya, sepatu bot dan topi caping. Kalau kami datang berlibur dan main di sawah, teriakan nyaringnya akan terdengar dari jauh, memanggil pulang untuk makan. Seingat saya, belum pernah saya lihat beliau mengenakan pakaian biasa, selalu dengan kain dan kebaya, lengkap dengan selendang yang dililit di kepala.

Beliau punya kebiasaan antik yaitu nyirih. Ada satu kotak bako yang selalu dibawa kemanapun beliau pergi. Posisi favoritnya untuk nyirih kalau berkunjung ke rumah kami adalah di teras samping kolam ikan. Kami para cucu akan duduk di hadapannya, menatap takjub dan kadang membantu melipat sirih, bako dan kelengkapannya. Emak akan terus memasukkan lipatan sirih yang sudah kami buat ke dalam mulutnya walaupun sudah penuh, ga tau diri banget deh kami ini kalau dipikir sekarang, kasian Emak 😁. Dan setelah selesai, biasanya Emak akan bercerita ataupun bernyanyi tembang sunda sambil mengusap kepala kami. Bukan usap biasa, tapi dengan gaya jari cari kutu πŸ˜„ jadi sensasinya memang beda dan gada tandingan.  

Saya lebih sering bertemu Mbah dan Papih karena mereka tinggal di Tangerang, ga jauh dari daerah tempat kami tinggal. Barang yang wajib dibawa sebelum berkunjung adalah keju apel (keju yang dibungkus kertas merah, saya ga tau namanya) dan buku TTS. Ini adalah barang wajibnya Papih. Papih akan sibuk dengan TTS-nya sambil mengunyah keju atau merokok. Yang lucu, kami para cucunya yang banyak ini selalu berebut untuk mendapatkan stiker yang selalu jadi bonus buku TTS. Di rumah orangtua saya, masih ada tuh lemari yang jadi saksi kegilaan kami sama si stiker, karena seluruh sisinya penuh tertempel stiker πŸ˜…. Waktu saya lahir, Papih bilang; “ini cucu papih ke 12, lahir tanggal 12, jam 12”. Dan setiap saya ulang tahun, selalu ada keluarga yang memberi selamat disertai kalimat tsb. 

Mbah selalu tampak sangat lembut keibuan di mata saya. Bawang goreng buatan Mbah masih jadi juara dan belum ada yang bisa nandingin rasanya. Saya selalu dapat satu toples besar untuk dibawa pulang, enaaak! Rambut Mbah panjang melewati pinggang, dan selalu digelung.

Sayang saya ga punya foto mereka disini, nanti kalau pulang mudik dan nemu foto mereka, pasti akan saya upload disini.

Semoga Allah SWT menerima iman Islam mereka, mengampuni segala dosa dan kesalahan mereka, melapangkan kuburnya, menjauhkan mereka dari siksa neraka, dan menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin…

Jemuran oh jemuran

Bahasan ini ga penting banget deh, tapi gara-gara bapak mertua yang udah pensiun jadilah kebahas soal beginian πŸ˜…

Mungkin seperti juga ibu/istri lain yang bersiap menghadapi suaminya pensiun ya, beberapa minggu sebelum tuh Nana sudah bolak balik ngomong; “what am I gonna do with him at home 24/7?”, bahkan ada komen temannya juga yang bilang; “it’s either you’re the one going crazy or him”. Hahahaha ga bener banget ya?

Tapi pas saya cerita ke ibu saya, dia juga komen hal yang sama loh. Mereka bilang, hal yang sudah biasa mereka kerjakan bertahun-tahun sendirian tiba-tiba akan dibantu/diinterupsi oleh seseorang dengan caranya sendiri. Misalnya, cara lipat cucian, cara bersih-bersih rumah, dan tentunya cara jemur pakaian.

Umumnya disini tiang jemurannya seperti payung, nah Nana itu rupanya kalau jemur baju, tiap blok jemuran harus pakai jepit yang sewarna. Sementara Pop ya mana peduli kan? Yang penting baju tergantung, selesai deh. Konon katanya pernah ada teman yang datang dan bantuin dia jemur baju, setelah si teman pulang, dia ganti lah itu jepit jemuran supaya matching seperti kebiasaannya πŸ™ˆ

Cerita belum selesai nih, karena ternyata saya pun punya kebiasaan yang mirip. Saya kalau jemur baju, jepitan baju harus sewarna. Misalnya satu kaos kan dua jepit, nah warnanya harus sama tuh πŸ˜… terus juga, kaos kaki harus bersebelahan sama kaos kaki, begitu juga pakaian dalam hahahaa… Terus terang saya ga sadar kalau punya kebiasaan ini sampai suatu hari jemur baju sama M dan dia nyodorin jepit warna suka-suka. Dia ketawa-ketawa sementara saya uring-uringan.

Ada yang punya kebiasaan khusus juga dalam urusan rumah-rumahan?

Gerai SIM-STNK Gandaria City

Salah satu agenda mudik kemarin adalah perpanjang SIM A saya yang sudah tamat bulan Februari 2014. Menurut info yang saya dapat, selama matinya belum lewat 1 tahun, masih bisa perpanjang di Polres Metro JakSel di Jl. Wijaya. Jadilah Sabtu pagi itu kami berangkat. M dan Eden nunggu di taksi karena tempat ngopi pagi itu belum ada yang buka.

Sudah cukup banyak orang mengantri disana, tapi ternyata server sedang bermasalah. Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya saya pergi. Loket buka jam 8 dan saat itu sudah jam 9, sementara loket tutup jam 12, jadi sepertinya menunggu lebih lama akan sia-sia.

Kemudian saya dapat info kalau perpanjang sim bisa dilakukan juga di;
– gerai sim keliling; untuk sim yang mati kurang dari sebulan,
– gerai sim di pusat perbelanjaan; untuk sim yang mati kurang dari setahun

Untuk wilayah JakSel, gerai sim berlokasi di Blok M Square dan Gandaria City. Buka setiap hari, jam 8-2 (akhir pekan jam 8-12). Jadi hari Senin jam 8.15 kami sudah tiba di Gandaria City yang masih gelap gulita dan terkunci di sana sini. Gerai SIM ada di lantai 1, dan sudah ada sekitar 20 orang duduk manis menanti.

Berikut prosesnya:
– menuju loket dan menunjukkan SIM dan KTP, kalau belum ada fotocopy-nya petugas akan membantu dengan biaya Rp.2000
– petugas memberikan form isian (jangan lupa bawa pulpen ya), setelah di isi segera kembalikan ke loket dan duduk manis menanti panggilan
– setelah menunggu sekitar 30 menit, nama saya dipanggil. Masuk loket untuk scan jempol, tanda tangan, konfirmasi data dan foto. Pembayaran juga dilakukan disini sebesar Rp.150.000.
– SIM pun selesai πŸ˜‰

Terus terang saya kaget juga kalau harga perpanjang ini ‘hanya’ Rp.150.000 karena seingat saya, selama ini saya harus bayar Rp.400.000-Rp.500.000 lewat perantara. Bangga rasanya mengetahui banyak lembaga negara bebenah diri dan berusaha menghilangkan proses ga resmi yang selama ini seperti sudah mengakar dan membudaya.

Ada seorang bapak yang duduk sebelah saya cerita kalau beliau juga sempat ke Polres di Wijaya hari Sabtu kemarin dan ditawarkan jasa perantara oleh seseorang. Biaya pembuatan SIM Rp.185.000 dan biaya bantuan silahkan seikhlasnya. Kami berdua tertawa setelah tau kalau perantara sudah mengambil untung dari harga resmi, pantas biaya jasa cukup seikhlasnya saja πŸ˜…

Oiya, ternyata saya peserta antrian SIM nomer 5. Mereka yang duduk antri ternyata mengurus perpanjangan STNK yang loketnya baru buka jam 9.30. Sempat agak rusuh waktu loket buka karena belum ada sistem nomor antrian, jadi mereka yang datang pertama kali kalah cepat dengan mereka yang duluan lari ke loket πŸ™ˆ semoga segera ada perbaikan untuk ini sehingga menambah kenyamanan untuk para wajib pajak.

Nasi Goreng dan Bintang

Sebetulnya malam ini ga banyak beda sama malam biasanya. Saya dan Eden jemput M pulang kantor di stasiun kereta dan sampai rumah kita masak makan malam. Bedanya malam ini saya yang jadi koki utama, karena menunya nasi goreng. Yup, hampir setiap malam M selalu masak buat kita berdua plus makan siang saya besoknya. Saya bagian urus Eden dan urus rumah aja deh πŸ˜‹

Nasi goreng selesai, Eden mulai rewel mengantuk, jadi urusan masak dilanjutkan sama M. Pas saya keluar kamar, dimeja sudah tersaji cantik di atas meja…

IMG_0015.JPG Nasi goreng ditata rapi lengkap dengan potongan tomat yang dibentuk bunga, plus telur ceplok setengah matang buat saya 😍😍😍

Setelah kenyang dan selesai ngobrol, kita berdua keluar rumah buat nyobain aplikasi barunya M; sky guide. Jadi kita bisa arahkan layar hp kemana saja dan segala benda di angkasa terpampang jelas di sana, termasuk rasi bintang segala macam. Saya paling suka deh lihat bintang, jadi tadi semangat banget kita berdua nyobain app ini.

IMG_0016-0.JPG Sayang bintang di langit ga bisa tertangkap kamera hp, jadi saya cuma foto penampakan app saja di layarnya. Silahkan dicoba ya, keren deh!

Semoga malam kalian juga menyenangkan ya…

Teman Tidur

Judulnya agak ajaib ya? Kekekkek…

Sepertinya lumayan banyak ya yang bergantung pada sesuatu untuk bisa tidur. Di keluarganya M, sepertinya memang anak-anak dikondisikan untuk punya boneka beruang yang dipeluk saat tidur. Ga peduli anak laki-laki atau perempuan. Dan disini kadang saya sering ketemu anak kecil di tempat umum yang jalan sambil memegang erat boneka maupun selimutnya, dan kadang benda-benda ini kelihatan kumal luar biasa πŸ˜‹ mungkin karena ibunya susah cari kesempatan untuk mencuci si benda teman tidur itu.

Ini boneka beruangnya M waktu kecil, masih utuh sampai sekarang.

IMG_7973.JPG
Dua keponakan saya di Jakarta juga punya teman tidur yang harus dibawa kemanapun mereka pergi.
Mas Fadhil, keponakan pertama saya, harus selalu kenyot-kenyot guling bayinya sebelum tidur. Dan sarungnya harus selalu bermotif yang sama karena jari-jarinya akan sibuk sama motif beruang si sarung guling. Untung bundanya punya 2 sarung guling jadi masih bisa gantian di cuci.
Neng Farah, adiknya, jari-jarinya harus menelusuri pinggiran sarung bantal. Untungnya lagi dia ga peduli bantalnya, yang penting sarungnya punya pinggiran buat dia pegang. Kebayang kan kemana-mana harus bawa bantal?

IMG_7968.JPG

Dua sepupu saya juga punya kebiasaan begitu, yang satu ngemut telunjuk dan yang satu pilin-pilin ujung bantal kapuk. Kan bantal kapuk biasanya ada butiran kerasnya tuh, nah itu yang dia untel-untel sampai tidur. Seingat saya mereka baru berhenti sekitar smp atau sma deh, lumayan lama ya…

Sejauh ini sih Eden ga punya kebiasaan apa-apa, semoga aja ga ada deh ya…

Ada juga yang punya teman tidur khusus begini?

Latah

Bukan, saya bukan mau membahas latah ala Mak Wok yang ecopot ecopot copot itu… Tapi ini latah yang lain.

Salah satu ibu di mom’s group punya kebiasaan ngomong sambil mengernyitkan hidung, dan tanpa saya sadari, seringkali saya jadi ikutan mengernyitkan hidung setiap kali ngobrol sama dia.

Jadi ingat seorang teman di Jakarta yang entah darimana awal mulanya, tiba-tiba cara bicaranya berubah. Bibirnya sering menyang menyong kiri kanan, repot banget lihatnya. Dan saya kok ya jadi suka menyang menyong lihat dia ngomong.

Belum lagi kalau ada yang bisik-bisik di telepon, atau bicara dengan nada yang gemulai, saya jadi ikutan juga bisik-bisik atau bicara gemulai sampai eungap sesak nafas. πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ

Kebiasaan yang umum adalah kita jadi ikutan menguap (yawning) kalau melihat orang menguap. Konon katanya ada penjelasan medis soal ini terkait salah satu syaraf atau apalah gitu di kepala. Saya lupa persisnya dan ga tau apakah info itu akurat atau ga.

Ada yang suka latah juga?

Semoga latahnya adalah semua sehat dan bahagia di akhir pekan ini ya, peyuk semuanya… 😘😘😘

Anak Lama – episode kedua

Sudah beberapa malam lagu ini mondar mandir di kepala setiap kali bangun malam untuk setor asi. Herannya saya selalu lupa untuk cari lagu ini keesokan harinya dan tadi malam saya wanti-wanti mengingatkan diri sendiri untuk cari lagu ini pagi-pagi supaya berhenti terngiang di kepala.

Begini sepenggal liriknya, dan cuma ini yang bolak balik kedengeran πŸ™ˆ,

untung saja sluruh diriku dapat ku jaga utuh, lalalalaa… kuputuskan saja taki cintanya

Kebayang ga sih? Bahkan bagian lalalala aja saya betul-betul ga ingat liriknya, tapi itu lagu ngotot ga mau pergi πŸ˜“

Akhirnya saya google dan nongol deh video ini di youtube, ada yang masih ingat? Kalau iya, pasti kamu anak lama juga hahahha…

http://youtu.be/k-KJPCxEedU