Saskatoon Forestry Farm Park & Zoo

Pertama tau kalau ada kebun binatang di Saskatoon kami berdua lumayan kaget. Ga kebayang binatangnya pasti kedinginan secara suhu disini lumayan ekstrim. Dan akhirnya setelah lihat prakiraan cuaca dan katanya hari itu cuaca akan cerah bermatahari, kami pun segera berangkat ke Saskatoon Forestry Farm Park & Zoo.

Begitu mobil parkir, ternyata udara masih dingin dan salju mulai turun. Untung saja kami tetap bawa perlengkapan perang lengkap, plus payung, jadi acara kebun binatang bisa lanjut.

Kebun binatang bisa dibilang tutup selama musim dingin, jadi ga ada biaya masuk, seikhlasnya saja untuk donasi. Selain banyak binatang yang dipindah ke ruangan berpenghangat, tidak ada kantin atau penjual makanan, jadi lebih seperti taman berisi beberapa binatang. Siapa yang sangka akan bisa lihat grizzly bear, cougar, serigala, bison dan binatang khas Canada dan Amerika Utara. Oiya, ada komodo juga loh, ukuran kecil saja dan ada dalam ruangan berpenghangat bersama binatang tropik lainnya.

Selain lihat binatang, yang menarik buat saya adalah pemandangannya. Air yang membeku di tanah bikin semua tampak beda, kolam di tengah kebun binatang yang membeku bikin semuanya tampak menakjubkan. Saya ga punya cukup kata-kata deh untuk menggambarkan ini. Semoga fotonya cukup mewakili ya…

Iklan

Tentang negeri salju, Saskatoon

Saskatoon? Apa pulak itu? ๐Ÿ˜„ iya, begitu jawaban saya waktu M bilang kalau dia ditawarin kerja disana. Tapi begitu kedengeran kata salju dan Canada, saya langsung ngangguk mantap. Hayuk!

Saskatoon adalah salah satu kota di propinsi Saskatchewan, Canada. Kisaran suhu di sini antara -30 di musim dingin dan 30+ di musim panas. Dan termasuk kota yang paling banyak dapat sinar matahari se-Canada! Makanya banyak tulisan ‘Sunny Saskatoon’. Rada aneh sih secara kami datang pas musim dingin ya ๐Ÿ˜„

Berpenduduk sekitar 250.000 jiwa, mata pencaharian masyarakat di sini umumnya dari peternakan dan pertambangan potasium. Secara geografis, propinsi Saskatchewan ini datar banget dan keluar kota sedikit aja langsung disambut lahan-lahan pertanian, yang putih ketutup salju atau coklat lumpur pas saljunya udah hilang ๐Ÿ˜› tapi kebayang deh, di musim lain pasti bakal hijau cantik, atau warna warni sesuai dengan jenis tanamannya.

Kami tinggal di sebuah apartemen di pinggir sungai Saskatchewan, di area yang disebut Broadway Avenue. Lumayan strategis, selain banyak resto, ada supermarket, banyak tempat ngopi, toko pernak pernik dll. Ada toko keju namanya ‘Cheese Warehouse’ dan jual cemilan kecil yang enak-enak bangets. Area perumahan di sekitar pun tampak menyenangkan, apalagi yang rumahnya menghadap sungai, wih asik banget liatnya. Persis seberang apartemen ada sekolah, dan di halaman depannya ada miniatur rumah yang ternyata adalah perpustakaan mini. Setelah Eden tau kalau boleh ambil buku disitu, setiap lewat pasti minta mampir dan tukar buku.

Dan ternyata, tinggal di negara bersalju ga seindah yang dibayangkan.

Ketika salju baru turun, semua tampak putih cantik, syahdu, menakjubkan. Apalagi buat anak tropis yang baru pertama kali lihat salju kaya saya ๐Ÿ˜‹ begitu keluar saya baru nyadar kalau jalan di salju yang baru turun ini rasanya seperti jalan di rumput yang berembun. Lembut, bergemerisik dan tentu saja, basah. Tapi kalau jalan di atas salju yang sudah mulai mencair, wihhh harus ekstra, ekstra hati-hati. Karena permukaan tanah/lantai semua jadi licin. Bukan pemandangan aneh lihat orang terpeleset nggabruk dan konon cedera yang mengikuti juga ga cuma keseleo kecil. Kadang butuh waktu pemulihan yang cukup panjang, dan tentunya biaya secara gada tukang urut ya nek…

Selain itu, setelah salju turun, mobil pembersih salju akan lewat terutama di jalan raya dan jalan utama. Kadang mobil tersebut juga menyebarkan kerikil halus/pasir agar jalan tidak terlalu licin. Nah, ketika salju mulai cair, hilang sudah segala dongeng dan kecantikan musim dingin, yang tersisa hanya lumpur dan genangan air di sana sini. Mobil di jalan pun nyaris sewarna, coklat, tersiram lumpur jalanan hasil dari salju yang mencair. Selain itu, sampah pun mulai tampak dari balik salju yang menipis. Terutama; kotoran anjing. Jadi selain harus ekstra hati-hati melangkah karena licin, juga harus menghindar dari kotoran. Pantas saja banyak orang pakai sepatu bot karet, selain sayang sepatu kalau basah kotor berlumpur, pijakan sepatu karet juga lebih mantap dan yang penting tetap kering.

Beruntung kami kemarin tinggal di apartemen, jadi ga perlu repot membersihkan garasi dan jalan setapak di halaman. Beberapa rumah meletakkan papan sepanjang halaman, jadi seolah jembatan melintas salju ๐Ÿ˜‹ dan tumpukan salju ini lumayan tebal loh, pegal pasti kalau mesti angkut salju pakai sekop setiap hari.

Sebagian besar rumah sepertinya punya ruang bawah tanah, dan ruang depan. Ruang depan ini hanya berupa ruang kecil dengan dua pintu yang memisahkan area luar dengan area dalam, jadi angin dan udara dingin tidak ikut masuk ke area dalam rumah. Beberapa rumah makan dan area publik pun memiliki ruang semacam ini, jadi kita ga kedinginan setiap kali ada orang buka tutup pintu.

Kalau salju turun lumayan deras, sudut-sudut trotoar dan pembatas jalan sudah ga akan bisa dilihat lagi. Jadi di banyak tempat kita bisa lihat tongkat berbendera untuk penanda, supaya kendaraan ga nabrak sana sini. Selain itu, di area pemukiman kita bisa lihat banyak kendaraan yang tersambung dengan kabel listrik, ternyata untuk menghangatkan mesin jadi oli tidak membeku. Saya kurang paham juga deh ya, apakah setiap mobil otomatis punya alat ini atau harus dipasang sebagai tambahan. Untuk membersihkan es dari kaca jendela pun ga bisa pake wiper lagi, mesti disikat atau diserut. Ini dalam artian harfiah loh ya. Jadi dalam mobil sewaan itu ada alat semacam sikat/congkelan, kaya alat dapur, ternyata ya itu tadi, buat bersihin kaca dari es ๐Ÿ˜„

Kami terbiasa menyimpan botol minum dalam mobil, dan kebiasaan ini juga kami terapkan di sana. Tapi saking dinginnya, air minum dalam botol pun membeku dan kami ga bisa minum ๐Ÿ˜„ suhu udara paling parah selama kami di sana; -28 derajat celcius. Tapi sekitar awal Desember 2016, teman M kirim foto kalau suhu saat itu -32 (feels like -46). Langsung nyali ciut ๐Ÿ˜„

Sebelum berangkat, saya sempat khawatir kalau kami akan kedinginan di dalam rumah. Tapi ternyata saya dan anak-anak bisa tetap pakai celana pendek dan tidur nyaman dengan pakaian secukupnya, pemanas bekerja seharian penuh dan bikin udara dalam rumah hangat dan nyaman. Keluar rumah pun ternyata ga perlu baju berlapis, saya rasa ini karena jaket yang kami beli memang sesuai medan. Kami beli jaket di toko perlengkapan outdoor terbesar di Saskatoon, namanya Cabela. Dan karena kami beli barang sudah di akhir musim dingin, jadi potongan harganya lumayan besar, bahagia deh. Oiya karena berburu diperbolehkan di Canada, jadi di toko ini saya sempat bengong, karena segala perlengkapan berburu terpampang jelas di depan mata. Ngeri.

Untuk keluar rumah, prosesi yang dilakukan lumayan banyak. Apalagi ada dua bocah yang harus dipastikan dalam keadaan hangat dan nyaman. Semua perlengkapan perang harus sudah terpasang sebelum keluar pintu apartemen; jaket, kupluk, sepatu bot, sarung tangan dan selimut untuk Kiran. Buat saya, yang paling terasa dingin itu hidung dan paha. Terlalu malas untuk pakai celana thermal, akibatnya ya kedinginan deh. Dan pulangnya, lepasin lagi deh tuh semua satu-satu ๐Ÿ˜„ oiya jangan kaget kalau sering kesetrum sana sini gara-gara listrik statis dari segala perlengkapan tadi.

Selain Starbucks, tempat ngopi Tim Hortons adalah salah satu ciri khas Canada. Kalau menurut saya sih kopinya kurang pas untuk lidah saya. Beruntung persis di seberang apartemen ada cafe Broadway Roastery yang cocok banget buat kami. Kadang suka pengen ngopi enak siang-siang, tapi mengingat upacara pakai perlengkapan perang saya dan dua bocah, dorong stroler di salju, segala cita-cita ngopi enak pun menguap ๐Ÿ˜‹ cuma bisa ngintipin cafe dari jendela apartemen.

Beruntung banget saya bisa ngerasain salju dan menjalani episode pendek kehidupan di Canada. Pertimbangan jarak dan beda zona waktu dengan Perth (14 jam lebih dulu) dan Jakarta (13 jam lebih dulu) membuat kami memutuskan untuk kembali ke Australia, dan alhamdulillah juga sebelum meninggalkan Saskatoon M sudah dapat tawaran pekerjaan baru di Adelaide.

Semoga cerita lain tentang Canada bisa cepat tayang ya…