Bermalam di Caravan/Holiday Park

Sejak pertama kali merasakan menginap di caravan/holiday park, rasanya saya ketagihan untuk selalu menginap di tempat seperti ini lagi. Untuk ukuran anak Jakarta yang pengalaman camping-nya cuma sepanjang persari, persami dan ospek jurusan, camping ala orang Australia ini sungguh terasa sangat mewah (pengalaman saya baru di seputar benua ini jadi belum bisa komentar tentang negara lain). Tenda yang super besar, tidur dalam sleeping bag hangat yang bisa disambung, jadi tetep bisa ndusel-ndusel M kalau saya kedinginan (iya saya baru tau kalau ada sleeping bag yang bisa disambung) ๐Ÿ˜‹ dan beralaskan kasur lipat dari busa atau kasur tiup. Bahkan ada yang bawa semacam dipan lipat juga loh! Jadi ga ada deh tuh cerita sakit punggung kalau pulang camping disini.

Pertama kali menginap, kami memang berniat tidur dalam tenda. Satu lapak untuk tenda, lengkap dengan satu power point dan satu keran air, harganya berkisar $50/malam. Kamar mandi terpisah, untuk laki-laki, perempuan dan bahkan anak-anak. Lalu ada tempat cuci baju, cuci piring, area jemur. Untuk memasak, ada area barbeque lengkap dengan meja dan kursi piknik. Sedangkan untuk anak-anak, ada kolam renang dan area bermain.


Lapak kemah atau caravan ini juga ada berbagai macam. Ada lapak dengan en-suite; kamar mandi pribadi yang letaknya di sebelah lapak atau tidak jauh dari lapak. Bahkan di holiday park tempat kami menginap kemarin, ada lapak yang ramah binatang peliharaan.

Selain itu ada juga tempat penginapan berupa kabin sederhana sampai kabin besar dengan pemandangan cantik. Tetap judulnya ada harga ada barang.

Kabin yang kami ambil saat perjalanan darat kemarin lumayan besar, masing-masing 3 kamar dan salah satunya dengan bunk-bed. Anak-anak paling semangat deh kalau ada tempat tidur model ini, bahkan Eden pun mau ikut kakak-kakaknya tidur disini juga.

Malam pertama kami menginap di Blue Lake Holiday Park yang letaknya di seberang Blue Lake, Mt. Gambier. Kami mengambil kabin 3 kamar menghadap ke arah hutan. Dan pagi hari pas bangun, kami disambut kabut tebal dan udara yang super dingin. Bikin pemandangan sekitar area perkemahan tambah cantik.

Malam kedua kami menginap di sea view cabin Torquay Foreshore Caravan Park, dan beruntung banget bisa lihat matahari terbit yang luar biasa cantik dari teras kabin, walaupun udara dingin minta ampun, kami bisa jalan kaki ke pantai menikmati matahari terbit.

Untuk urusan dapur, kabin-kabin ini menyediakan peralatan masak dan makan yang lumayan lengkap. Syaratnya hanya seluruh perlengkapan harus dalam keadaan bersih saat check out.

Salah satu peraturan caravan/holiday park yang bikin saya lumayan nyureng waktu pertama kali baca adalah, ga boleh ada keributan di atas jam 10 malam dan ga boleh bikin api unggun. Kebayang kalau ada aturan macam ini di Indonesia, pasti ga laku ya bumi perkemahannya, udah capek nenteng gitar sepanjang jalan, eh jam 10 udah mesti bobo ๐Ÿ˜‚

Jadi, ada yang mau ajak saya liburan bareng ga ya? ๐Ÿ˜‹

Sunset dari teras kabin kami di Torquay Foreshore Caravan Park

Iklan

Australian Permanent Resident Visa

Februari kemarin sebetulnya tepat 2 tahun kita melakukan pengajuan visa. Dan waktu Temporary Resident Visa disetujui, (pengertian kita berdua) berati setelah 2 tahun dari waktu mengajukan aplikasi visa maka secara otomatis visa tersebut akan menjadi Permanent Resident. 

Dan setelah duduk manis menunggu selama 1 bulan dan ga ada kabar, akhirnya saya kirim e-mail ke petugas yang dulu mengurus visa saya di Kedutaan Australia di Jakarta. Jawaban yang diberikan berupa link untuk proses perubahan visa; http://www.immi.gov.au/contacts/forms/partner/ dan http://www.immi.gov.au/services/Pages/immiaccount.aspx

Ternyata kami harus melengkapi dan mengirimkan dokumen lagi, walaupun ga sebanyak dan selengkap sebelumnya, yang penting dokumen harus mampu menunjukkan kalau kita masih sama-sama.

Dokumen yang diperlukan selain dokumen umum, 

  1. Form 888 yang merupakan kesaksian warga negara Australia yang mengenal dan mengetahui hubungan kami, dan ditandatangani notaris/pejabat berwenang,
  2. Bukti alamat, bisa berupa copy rekening koran, tagihan listrik/air, dll,
  3. Keterangan dari kepolisian Australia bahwa saya tidak terlibat tindak kejahatan, semacam SKKB kalau di Indonesia,

Alhamdulillah prosesnya ternyata ga lama, sekitar 2 bulan setelah dokumen dikirim, kami dapat email kalau visa permanent resident saya sudah disetujui. Proses selanjutnya adalah memperbaharui setiap 5 tahun sekali untuk PR holder yang berdomisili di Australia, dan setiap tahun untuk mereka yang berdomisili di negara lain.

Pantai dan pantai…

Perth terletak di pesisir pantai, memanjang dari utara ke selatan dan menghadap ke arah barat. Jadi setiap hari bisa lihat matahari terbenam di pantai.
Dan saya yang doyan pantai ini baru tau kalau selama musim dingin, pantai akan memendek sedangkan sepanjang musim panas pantai akan luas dan lebar banget, sementara air laut dingin sepanjang tahun. Pantesan kalau musim panas tuh orang ke pantai, enak banget nyemplung walaupun matahari mencrang abis-abisan.

Sepanjang musim panas, hampir setiap minggu kami ke pantai, selain karena anaknya M ikutan Surf Life Saving Club (SLSC) juga enak aja main di pantai. Eden awalnya ga mau turun sama sekali dan ga mau nyentuh pasir, sampai akhirnya berani ngejar ombak dan menggigil kedinginan karena basah ๐Ÿ˜…

Surf Life Saving itu adalah semacam kursus dimana kita belajar untuk jadi penjaga pantai, di Australia mereka dikenal dengan sebutan Surf Life Saver, sedangkan Life Guard lebih ke area kolam renang. Untuk ikut SLSC ini usia termuda adalah Under 7 yang berarti anak usia 6 tahun. Kegiatan untuk junior; berenang, lari di pantai, board paddling dan board rescue. Bentuk papan yang digunakan berbedan dengan papan luncur untuk surfing, saya juga baru tau kalau papan luncur itu ada banyak macamnya ๐Ÿ˜‹

Balik lagi ke urusan pantai. Pantai yang paling sering kita datangi adalah Trigg Beach, karena anak-anak ikut SLSC di sini.   

tenda pantai kita

  

trigg beach

  

salah satu jalan masuk ke trigg beach

  

pasir putih sepanjang trigg beach

 

gmana ga betah kan?

Salah satu yang nyaman banget buat mereka yang ga suka ombak dan cuma pengen berenang adalah Mettam’s Pool Beach. Pantai ini dikelilingi terumbu karang, jadi ombak pecah disana dan bikin pantai tenang seperti di kolam renang, selain itu dasarnya bersih dari karang dan cuma pasir saja. Biasanya pantai ini penuh bayi atau orangtua. Dan pantai ini juga memiliki akses untuk kursi roda. Di pantai ini juga biasanya orang melakukan snorkeling, tapi saya sendiri belum sempet nyoba ๐Ÿ˜

karang di sekeliling mettam’s pool beach

   

mettam’s pool beach


Salah satu pantai yang cukup terkenal adalah Cottesloe. Ada bangunan Indiana Tea House (sekarang jadi restoran) yang jadi icon pantai dan setiap tahun sekitar bulan Maret disini diadakan Sculpture By The Sea.   

cottesloe beach dan indiana tea house

 

salah satu pameran di Sculpture By The Sea 2015


Scarborough Beach adalah pantai yang paling lengkap fasilitasnya, dan disini biasanya pertandingan dan festival besar olahraga di adakan. Sayang saya ga punya foto pantai ini, tapi berikut silahkan dinikmati pantai diantara Sorento dan Mettam’s…  

     

Oiya, di Perth sini ada loh nude beach namanya Swanbourne Beach ๐Ÿ˜‹ dan saya kan pengen tau ya orangnyaaaaa… Jadilah M saya geret ke sana.  Jadi letaknya si pantai ini adalah di belakang markas SAS (Special Air Service), jadi dijamin gada yang bakal ngintip deh. Akses masuknya dari Scarborough Beach, jalan kaki deh sepanjang pantai. Trus pas sampe, jreng jreng! Pantainya kosong ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… cuma ada satu opa-opa perut gendut sembunyi di balik batu. Hahhh batal deh intip-intipnya hahaha…

London Court, Perth

Ini adalah lokasi favorit saya di Perth City. Tempat ini berupa gang kecil yang berisi cafe dan toko, menghubungkan antara Hay Street Mall dengan St Georges Terrace.

London Court dibangun tahun 1937 dan digunakan sebagai tempat tinggal dan area komersial bagi para penambang emas.

Di atas gerbang yang berada di Hay Street Mall, ada jam yang berdentang setiap 15 menit, dan jam ini adalah replika dari ‘great clock’ yang berada di Rouen, Prancis. Dibagian atas jam terdapat patung 4 ksatria yang disebut ‘tournament of armoured knights’, yang berputar pada saat jam berdentang. Semacam jam di plaza senayan tapi jauuuh lebih sederhana.

Sedangkan di atas gerbang yang berada di St Georges Terrace terdapat jam yang merupakan replika dari ‘big ben’.

Di masing-masing sisi bagian dalam gerbang, terdapat patung yang saling berhadapan yaitu patung Sir Walter Raleigh dan Dick Whittington. Untuk tau lebih lanjut soal London Court silahkan klik disini ya…

Berikut beberapa foto London Court ๐Ÿ˜‰

20140622-144314-52994226.jpg

20140622-144313-52993705.jpg

20140622-144314-52994758.jpg

20140622-144315-52995291.jpg

20140622-144313-52993201.jpg

Baby Rhyme Time

20140622-130312-46992795.jpg
Pic dari http://www.buggybuddys.com.au

Hari Rabu kemarin akhirnya saya sama Eden main ke perpustakaan di Karrinyup, untuk ikutan acara Baby Rhyme Time yang diadakan setiap Rabu jam 10.30 – 11.00. Saya lumayan kaget karena pesertanya ternyata lumayan banyak, mungkin ada sekitar 30 anak (bayi dan balita) yang didampingi ibu, bahkan ada juga nenek kakek yang ikut datang. Selain penuh sama orang, perpustakaan juga penuh sama pram/stroller yang parkir ๐Ÿ˜‹

Acaranya gerak dan lagu. Duh, lumayan juga deh buat saya yang besar dengan lagu nina bobo, ambilkan bulan atau naik-naik ke puncak gunung, saya jadi harus menghafal lagu baru. Yang saya tau cuma lagu twinkle twinkle little star, itupun ga hafal ๐Ÿ˜ฌ untung waktu kunjungan ke posyandu yang pertama itu dapat satu tas isi buku-buku dan salah satunya soal rhyme time, lengkap dengan dvd-nya. Jadi lumayan deh buat membantu saya menghafal.

20140622-130313-46993817.jpg

Kegiatan gerak lagu dan membaca ini kelihatannya memang serius digalakkan oleh pemerintah, melalui kegiatan di perpustakaan wilayah. Setiap minggu selalu ada acara seperti berikut;
baby rhyme time untuk anak di bawah 2 tahun, kegiatannya gerak dan lagu.
storytime, diadakan 2 kali seminggu untuk anak usia 2-6 tahun, kegiatannya baca buku/mendongeng, gerak dan lagu, juga mewarnai.

Sepanjang acara Eden terlihat nyaman dan menikmati, ga ikutan nangis walaupun ada beberapa bayi yang jerit-jerit menangis. Dan sekarang saya jadi rutin menambahkan rhyme time dalam kegiatan Eden sehari-hari.

Walaupun sudah beberapa kali ke perpustakaan di Karrinyup ini, dan suka banget lihat kids corner-nya, pengalaman baru ke perpus sama Eden ini terasa beda banget. Semoga Eden nantinya akan suka baca dan alhamdulillah kalau juga suka nulis ya…

Untuk keterangan lebih lengkap soal pengenalan buku untuk anak bisa dilihat disini.

Eden daftar sekolah

Ini judulnya ga bohong deh, karena selang 3 minggu lahir, Eden sudah kami daftarkan untuk sekolah year 6-12 ๐Ÿ™ˆ

Waktu saya hamil, seorang teman sudah mengingatkan untuk segera mendaftarkan Eden sekolah setelah lahir. Saya ketawa ga percaya. Gila kali ya, puput pusar pun mungkin belum sudah mau daftar sekolah.

Dan ternyata bener aja loh nek…

Untuk sekolah swasta favorit, harus daftar segera setelah lahir. Inipun bukan jaminan diterima, baru untuk dapat kursi ujian masuk. Sadis ya… Di beberapa sekolah swasta lain masih bisa daftar 2/5 tahun sebelumnya.

Yang lebih ngeri lagi, day care favorit pun demikian saking banyaknya peminat. Saat ini sih saya belum ada rencana untuk kerja lagi, jadi belum perlu day care. Lah nanti kalau berubah pikiran gmana? Hadeuh…

Sekolah tempat kami mendaftarkan Eden namanya Hale, sekolah khusus anak laki-laki. Sekolah ini berdiri sejak tahun 1858, dan menempati lahan seluas 43 hektar. Untungnya M adalah old boy (alumni ya, bukan bocah tua ๐Ÿ˜‹), jadi Eden dijamin akan dapat tempat di Hale.

Doakan semoga daddy dan ibu ada rejekinya ya nak, supaya Eden bisa sekolah dan belajar dengan sebaik-baiknya.

Ngontrak di Perth

Akhir April kemarin genap setahun kita tinggal di rumah kontrakan ini. Dan kayanya sampe April tahun depan masih akan disini secara awal tahun kemarin agen-nya udah nanya mau perpanjang atau ga.

Cari rumah disini tuh beda banget sama di Jakarta atau Bandung. Hampir semua rumah dijual atau disewakan lewat agen real estate. Jadi kita tinggal cari secara on line lewat salah satu website seperti real estate atau yang lain. Lalu masukkan lokasi yang diinginkan, kisaran harga, tipe properti (rumah, townhouse, dll), jumlah kamar dan kamar mandi, juga kapasitas parkir kendaraan. Nanti keluar deh tuh pilihannya.

Setelah itu, kita bisa lihat jadwal open house-nya. Saya sempat kaget karena jadwal open house ini rata-rata cuma 15 atau 30 menit. Jadi waktu kemarin kita cari rumah itu, harus lihat betul-betul lokasinya supaya ga nyasar dan telat.

Begitu sampai di lokasi yang mau kita lihat, agen akan menyambut kita di ruang depan atau dapur untuk meminta data kita (nama, tlp dan email) dan kalau ga terlalu rame pengunjung biasanya dia akan nanya apakah kita cari rumah untuk ditinggalin atau investasi, apakah ini pertama kali kita beli rumah (ada semacam subsidi dari pemerintah untuk first time buyer), juga apakah rumah ini kelihatan cocok sama yang kita cari. Setelah itu dia akan membiarkan kita keliling lihat rumah. Ga ada tuh yang ngintilin kita selama keliling.

Biasanya kalau saya dan M ngerasa rumahnya bisa dipertimbangkan, kami akan keliling area tsb untuk cari tau apakah dekat dengan taman, sekolah maupun shopping mall. Dan kami juga selalu cek waktu komuter M nanti ke kantor, untungnya hal ini bisa gampang banget dicek melalui transperth. Lengkap dari berapa jauh jarak dari rumah ke halte atau stasiun terdekat plus waktu tempuhnya sampai tiba di tujuan. Btw saya pernah bahas soal transperth ini disini.

Rumah kontrakan kita sekarang ini buat saya cukup banget dari segi ruang dan lokasi. Yang bikin malas itu karpet dan pilihan lampunya yang ampun deh oma-oma banget. Lokasi yang nyaman ini bikin agak susah cari rumah karena memang strategis banget. Dekat pantai, shopping mall, stasiun kereta dan halte bis, juga dekat mertua.

Sebelum menempati rumah kontrakan, kami harus bayar security bond sebesar biaya sewa 1 bulan. Security bond ini kemudian dibayarkan oleh agen real estate ke Department of Bond and Housing (cmiiw). Harga sewa biasanya dibuat mingguan, tapi kita bisa bayar mingguan, dua mingguan, bulanan atau langsung setahun penuh.

Setiap 1.5 bulan, agen real estate akan datang untuk inspeksi. Biasanya sebulan sebelum mereka akan kirim surat pemberitahuan supaya kita bisa siap-siap. Enaknya ngontrak itu kita ga perlu khawatir sama urusan perbaikan.

Misalnya nih kan sudah mulai banyak hujan, kemarin ada orang datang membersihkan saluran air di atap supaya ga mampet. Lalu sempat bocor di atas dapur, kami tinggal lapor aja mereka yang urus perbaikan dan juga cat ulang temboknya. Enaknya lagi, kita ga perlu ngurusin si tukang-tukang ini. Mereka akan bersihkan dan vakum ruangan setelah selesai kerja, ga usah repot sediain minum/makan, bahkan tip. Bagian terakhir saya suka ragu, tapi keliatannya ga umum buat mereka karena biasanya pada pamit dan langsung ngeloyor.

Kalau lihat ga banyak biaya yang mesti kita keluarin untuk beresin ini itu, kayanya enakan ngontrak ya? Tapi kalau lihat biaya sewa yang kita keluarin, rasanya pengen cepet-cepet dialihkan jadi biaya cicilan rumah. Doakan kami segera berjodoh dengan rumah baru ya…

Enak Ga Enak-nya Perth

Hari ini tepat setahun yang lalu saya berangkat dari Jakarta ke Perth dengan menyandang status baru. Pastinya belum banyak sih yang saya tahu soal kehidupan di sinj, tapi berikut beberapa yang bisa kepikiran buat diceritain soal Perth.

Langit Biru – Udara Bersih – Kulit Busik

Dari pertama kali M kirim foto penampakan Perth, saya langsung ga bisa lupa sama langitnya yang biru bersih dan seringkali ga berawan. Cantik banget! Ga tau ya, saya suka banget sama langit biru, atau sunset dan sunrise plus langit malam yang penuh bintang dan yang cantik. Intinya sih saya suka langit. Jiwa melankolis (baca: cengeng) saya langsung nongol dan kadang disertai airmata yang bikin pandangan cantiknya jadi agak buram.
Sampai hari ini, setiap kali ada yang nanya apa yang paling saya suka soal Perth, jawaban saya konsisten; the blue sky!
Langit biru ini berubah jadi gelap penuh bintang kalau malam, bersih jelas banget. Walaupun belum ngalahin cantiknya malam berbintang di perairan menuju TN Komodo sana sih ya, tapi jelas menang dari langit malamnya Jakarta.

Terus ya, banyak banget burung berkeliaran bebas. Pagi-pagi memang gada suara ayam berkokok, tapi suara burung macem-macem bikin ceria. Apalagi kalau bukan musim panas, udaranya sejuk dan masih bisa ketemu embun pagi.

Kulit muka saya termasuk yang disebut kilang minyak saking berlimpahnya produksi. Tapi itu di Jakarta. Disini? Kulit saya kering, dan jadi dekil. Saya bukan orang yang takut matahari dan ga keberatan kulit gosong kalau liburan. Tapi disini, ampun deh, duduk di mobil aja kaki atau tangan saya bisa belang saking panas terik. Ini kaki saya ngebekas sendal jepit aja susah bener ilangnya. Pokoknya saya ngerasa kulit saya jadi ga sekeren biasanya (sok keren bener hihihi).

Ga Macet – Sepi

Ada sih macet kalau pas jam sibuk, tapi kalau dibanding Jakarta ya segitu ga macet lah. Seberang rumah saya ini termasuk jalan utama berlajur 4 yang masuk dalam daftar jalan negara (punya nomor urut), tapi mobil yang lewat diluar jam sibuk itu betul-betul ga banyak. Kayanya masih lebih banyak mobil yang mondar mandi di jalanan rumah saya di Jakarta yang cuma pas buat 2 mobil.
Hal ini juga tentunya didukung sama fasilitas transportasi yang bagus, jadi orang ga malas naik kendaraan umum. Ditambah biaya parkir harian di area CBD yang bikin naik darah karena mahalnya.
Kondisi ga macet ini tentunya sebanding sama jumlah penduduknya yang ga begitu banyak. Saya suka ledekin M, saya bilang Perth itu alien land secara ga ada manusianya. Menyenangkan sih buat saya yang udah mulai malas sama hiruk pikuk dan eungapnya kehidupan kota. Tapi kadang berasa sendirian juga, terutama di atas jam 5 sore. Bisa dibilang ga ada manusia berkeliaran deh. Dan rumah-rumah nyaris ga ada yang punya lampu taman, dan ga ada juga yang nyalain lampu teras. Cuma mengandalkan lampu jalan aja. Jadi rasanya kaya lewat jalan kosong tanpa rumah, gelap.

Mahal

Masih susah buat saya untuk ga menghitung kurs AUD dengan IDR kalau mau belanja. Untuk makanan ya ga usah dibahas deh ya, apalagi kalau jajan di restoran indonesia yang kita tau harganya berapa di tanah air. Di Jakarta, dengan harga sama saya sudah bisa dapat barang bagus bermerk di Metro misalnya. Disini, harga segitu baru dapat barang di Target, Big W ataupun K-Mart (semacam Matahari kalau di Indonesia). Dan barang di Myer dan David Jones juga ga keren tapi harganya bikin saya kangen Jakarta. Memang sih kalau pas lagi sale harganya jadi lumayan banget, tapi saya belum nemu merk atau toko yang barangnya cocok buat selera dan penampakan. Kalau bule kan putih bening dan rata-rata tinggi langsing gtu ya, jadi pakai warna dan model apa saja kelihatan cocok. Nah kalau saya yang kulit coklat asia dan sedikit bulat nan ga terlalu tinggi ini pasti jadi ajaib deh…

Less Mall – More Outdoor

Mall disini jauh banget kalau dibanding Jakarta. Paling tinggi hanya 2 lantai dan tetap luasnya ga sebanding. Isinya kurang lebih sama deh ya, walaupun buat saya tetap lebih keren Jakarta. Mall disini ga ada arena bermain semacam Lollipop, ada mainan berkoin di beberapa sudut atau arena bermain di beberapa bioskop.
Oiya, yang pasti di sini ga ada Starbucks tapi banyak tempat ngupi cantik dan lucu. Saya ga komplen deh bagian ini.
Area hijau bertebaran di banyak tempat, mungkin setiap berapa blok ada satu taman deh, lengkap dengan playground. Seperti dekat rumah kita sekarang, ada 2 taman besar dan salah satunya lengkap dengan danau kecil ditengahnya. Taman-taman besar malah dilengkapi dengan perlengkapan fitnes juga, nanti saya cerita dipostingan lain deh ya…

Makanan

Ini yang paling berat.
Cari tempat makan halal itu ga mudah, biasanya cuma nemu di resto Indonesia atau kebab. Diluar itu, bismillah aja deh, selama saya ga makan yang ga halal-nya gpapa deh. Sekarang saya jadi lebih rajin milih menu vegetarian, biar berasa lebih aman dan halal. Padahal belum tentu juga kali ya… Bagian halal ini M serius banget sih, jadi agak aman lah secara dia lebih paham dari saya.
Paling ga enak kalau pas ga punya apa-apa di rumah, dan males pergi. Ga bisa ngarepin abang jualan lewat, atau sekedar jalan kaki ke pojokan atau seberang jalan buat beli nasi goreng kambing. Yang jualan keliling cuma mobil eskrim dan itupun ga setiap hari.
Makanan Indonesia memang juara deh, dari rasa sampai jenis macamnya. Hadohhh jadi pengen pulaaaang…

Pajak – Fasilitas

Dulu jaman masih kerja, setiap kali lihat besarnya gaji yang dipotong buat bayar pajak itu rasanya dongkol. Jumlahnya lumayan bisa buat beli bubur ayam sama gerobaknya (ngarep), dan entah ada dimana itu duit pajak yang sudah kita setor.
Disini walaupun potongan pajaknya juga bikin eungap, tapi banyak yang bisa kita nikmati secara cuma-cuma dan kelihatan bentukannya. Jalan bebas hambatan gratis, fasilitas umum bagus, dan fasilitas kesehatan gratis.

Hmmm kayanya segitu dulu deh review setahunan saya di Perth. Kalau ditanya betah atau ga, saya betah bangeeeet… Yang berat itu kalau pas kangen orang rumah, kangen teman-teman baik dan kangen makanan. Saya bisa melowjelow sukilala dan bikin M putar otak biar saya ceria lagi hahaha…

Lahiran dan Morfin

Setelah bolak balik usg untuk memastikan posisi plasenta, akhirnya diputuskan bahwa operasi caesar akan dilakukan pada minggu 39, hari Jumat, 28 Feb. Keputusan ini diambil karena posisi plasenta yang rendah (3,7cm) dan juga posisi bayi yang masih tinggi, plus usia saya yang masuk batasan resiko lebih tinggi. Karena dari awal sudah dijelaskan soal ini, jadi saya dan M langsung setuju tanpa pikir panjang lagi. Saya pikir juga daripada sudah kesakitan kontraksi ternyata tetap harus caesar, ya mending nurut aja deh.

Btw, saya sempet ngalamin kontraksi 4 hari berturut-turut mulai tgl. 16 Feb. Entah kontraksi palsu atau betulan, tapi sakitnya lumayan bikin saya meringis menye-menye. Untungnya pas adik saya lagi di Perth, dan dia jago mijat hahahaa jadilah saya dapat pijatan khusus darinya. I love u buncil, muahhh…

Akhirnya dua hari kemudian, 28 Feb, jam 6 pagi kami (saya, M dan ibu saya) sudah cek-in di Osborne Park Hospital (OPH). Hari itu ada 4 pasien untuk caesar dengan jadwal jam 8, 10, 12, 14. Kemungkinan saya akan kebagian jam 14. Kami langsung diantar ke kamar rawat inap dan ga lama saya disiapkan untuk masuk ruang operasi.

Ganti baju dengan baju rumah sakit yang cuma tali diikat sana sini, pakai kaos kaki khusus untuk mencegah pembengkakan pembuluh darah dan juga jarum untuk infus sudah dipasang ditangan kanan. Kaos kaki ini harus saya pakai sampai seminggu ke depan karena saya belum boleh banyak bergerak paska operasi.

Ternyata hari itu banyak pasien urgent caesar sehingga jadwal saya mundur terus. Sekitar jam 12 siang baru dapat kepastian kalau saya baru akan masuk kamar operasi jam 5 sore. Jadilah ibu saya pulang untuk istirahat dan baru kembali nanti menjelang waktu operasi. Tiba-tiba sekitar setengah 4 bidan mengabari kalau saya akan masuk jam 4. Ibu saya tergopoh-gopoh lari dari rumah yang berjarak sekitar 300m, dengan suhu 37 derajat, demi untuk ketemu saya sebelum operasi. Alhamdulillah masih sempat ketemu persis ketika saya hampir keluar koridor maternity ward. Ahhh, i love you, Enin! (Besok harinya ibu saya sakit kepala dan ga enak badan, hiks…)

Salah satu bidan yang mengantar dan menemani selama operasi namanya Lesley. Usianya mungkin sekitar 60 tahun, dan Bahasa Indonesia-nya lancar. Beliau pernah tinggal di Solo selama 11 tahun, dan anak-anaknya lahir di Surabaya, Solo dan Kediri. Rasanya seperti ketemu orang sekampung deh, senaaaang…

Masuk ruang operasi, saya lumayan khawatir sama M. Mengingat phobianya, saya takut dia pingsan di ruang operasi. Alhamdulillah sih sukses dia nemenin saya tanpa ada tragedi hehehe…

Saya dibius setengah badan dengan suntikan dipunggung, apalah itu istilahnya saya lupa. Ga lama dicek, dan ternyata leher ke bawah saya mati rasa. Mulai deh prosesnya. Entah apa yang terjadi dibalik kain yang dibentang depan muka saya, pokoknya ga lama sudah kedengaran tangis bayi dan ada bayi kecil digendong sama dokter anak. Rasanya antara bingung, takjub, bahagia, terharu, segala macam deh. Alhamdulillah banget. Eden lahir sehat dan lengkap. Tapi karena dikeluarkan dengan bantuan alat, jadi beberapa bagian tubuhnya agak bengkak dan memerah.

Selama operasi, hidung saya tiba-tiba gatal luar biasa dan beberapa kali terasa mual seperti mau muntah. Rupanya tubuh saya ga kuat dengan morfin, dan reaksinya luar biasa banget. Kembali ke kamar, masih dengan tubuh mati rasa dan pakai kateter, saya muntah-muntah, setengah sadar dan menggigil. Disini baru perjuangan dimulai.

Saya langsung harus menyusui Eden, untung masih ada M dan ibu saya membantu. Karena saya cuma bisa gerakin tangan dan kepala. Jam 9.30 malam, M dan ibu saya harus pulang. Kebayang ga sih dengan kondisi masih seperti di atas, saya ditinggal? Ibu saya frustasi luar biasa, mau protes pun Bahasa Inggris beliau terbatas banget. Jadi pasrah lah mereka pulang ninggalin saya.

Nyaris semalaman bidan nungguin di kamar, setiap kali eden nangis dia yang angkat dan taruh di dada saya. Kalau haus atau muntah dan dia pas lagi cek pasien lain, saya pencet bel dan panggil dia. Tentunya ga langsung datang detik itu juga, jadi ya semalaman saya bobok berteman kantong muntah. Plus malam itu saya disodorin oksigen dan dokter datang untuk cek kondisi saya. Ga begitu paham deh saya si dokter ngomong apa, cuma dia ga mau saya pakai oksigen dan menawarkan alternatif obat. Saya manut aja deh, ga bisa mikir. Paginya, suster bilang kalau kondisi saya tadi malam cukup gawat. Karena setengah sadar, napas saya pendek dan bikin detak jantung saya meningkat diatas 100. Makanya saya diberi oksigen. Ngeri ya… Sendirian puuun… Kalau ada apa-apa gimana coba tuh ya? Duh alhamdulillah semua baik-baik aja deh.

Paginya kondisi saya jauh lebih baik. Efek morfin hanya tersisa sebagai pain killer aja. Menurut bidan dan dokter, reaksi tubuh saya termasuk kasus langka. Kalau ga salah nangkap, menurut mereka tubuh saya bersih jadi si morfin betul-betul maksimal efeknya. Waktu mereka tanya apakah saya punya alergi, ya saya jawab ga punya. Manalah saya tau kalau alergi morfin kan?

Selama di rumah sakit, Eden ga dimandiin dong nek… Karena bukan tugas bidan mandiin, tapi kalau mau ya nanti mereka ngajarin. Lah saya turun tempat tidur aja perjuangan ya, gimana mau mandiin anak. Kateter baru dilepas 24 jam setelah operasi, yang berarti saya baru boleh mandi juga. Dan begitu kateter dilepas, saya harus bergerak, turun dari tempat tidur dan urus anak. Malam terakhir di rumah sakit, Eden nangis ga berhenti, cegukan dan muntah. Saya panik mati gaya ga tau harus ngapain lagi, akhirnya pencet bel manggil bidan. Yang bidan lakuin? Gendong Eden dan made him burp, lalu langsung serahin balik ke saya. Whoaaa pengen nangis bener rasanya…

Malam terakhir Eden diambil darah untuk dilakukan 12 macam tes, soal ini nanti saya bahas dipostingan lain aja ya… Dan sepagian hari Senin sebelum cek-out dari OPH, bidan menjelaskan tentang banyak hal. Dari soal menyusui, kontrasepsi, baby blues dll dsb. Lengkap deh. Eden juga diperiksa dulu sama dokter anak, dan saya diperiksa dokter kandungan. Oiya, pas cek-in hari Jumat juga kita sempat diberi penjelasan soal ini dan itu sama physioterapist. Tapi karena long weekend dan mereka libur jadi gada kunjungan lanjutan selama saya di rumah sakit.

Setelah semua beres, kita diantar bidan sampai ke pintu keluar OPH. Sebelum Eden diangkat dari box dan dipindah ke baby capsul, bidan memeriksa sekali lagi fisiknya. Setelah dia ok sama kondisi Eden, kita dipersilahkan pergi. Ga ada administrasi sama sekali loh, nyelonong aja blas. Gratis tis semuanya. Cuma ya itu, kita harus bawa baby wipes, nappy dan baju bayi sendiri. Sebetulnya rumah sakit menyediakan baju sih, tapi kok kasian bajunya buluk bener. Makanan rumah sakitnya juga enak, walaupun pas sarapan saya ngarep banget bakal lihat bubur ayam atau nasi goreng dengan telor ceplok. Nasib deh, dapatnya cuma roti bakar atau sereal.

Oiya, kalau mau nonton tv di kamar, kita harus sewa minimal 3 hari dengan biaya $27. Lumayan sih pilihan channelnya, plus remote yang ada speakernya jadi ga ganggu tetangga. Tapi saya mah milih molor aja daripada nonton tv deh…

Selain soal morfin sih saya gada keluhan sama pelayanan kesehatan di OPH. Segala macam urus sendiri kan pada dasarnya memang gaya hidup disini, ga banyak support person seperti di Indonesia yang lengkap dari asisten sampai keluarga.

Baiklah, Eden sudah mulai melek lagi nih, nanti ceritanya lanjut dipostingan lain ya… Selamat long weekend Indonesia…

Akhir Pekan di Augusta

Augusta letaknya di selatan Perth, sekitar 320km. Dan kalau kesini, harus siap-siap kedinginan karena musim panas pun udara disini terhitung sejuk. Kalau ada dana lebih, sebaiknya berangkat sekitar bulan Juni, jadi bisa ikut tur untuk lihat ikan paus. Konon kalau beruntung sih cukup berdiri di pinggir pantai, nanti bisa kelihatan gerombolan paus yang lagi mampir dalam proses migrasinya. Sayangnya 2 kali kesana saya ga beruntung, mungkin harus balik lagi ya? Kekekekkekk…

Waktu pertama kali ke Augusta bulan Juni 2012, kita mampir dulu di Bunbury, 180km dari Perth. Lumayan sempet lihat gerombolan lumba-lumba dari pantainya, dan juga naik ke menara untuk lihat pemandangan kota dari atas. Perjalanan kedua, April 2013, kita ga lagi mampir Bunbury, tapi langsung ke Margaret River.

20140206-090643.jpg

Kita mampir untuk makan siang di Margaret River, yang jaraknya 277km dari Perth. Margaret River ini kota kecil tapi cantik dan menyenangkan. Ada fudge factory, dimana kita bisa lihat langsung proses pembuatan fudge. Silahkan dicoba berbagai macam rasa fudge sebelum akhirnya memutuskan akan beli yang mana, karena mereka menyediakan banyak tester untuk setiap rasanya.

20140206-090327.jpg

Sebetulnya ada 2 rute dari Margaret River ke Augusta, scenic route lewat hutan Karry dan beberapa gua, sedangkan rute lainnya jalan biasa tanpa pemandangan cantik atau obyek wisata. Karry ini nama sejenis pohon di Australia, modelnya tinggi langsing menjulang. Pokonya kalau dengar kata hutan disini, jangan berpikiran seperti hutan kita di Indonesia ya… Beda banget! Diperjalanan membelah hutan kerry ini ada tempat berhenti untuk lihat pemandangan. Teduh, tenang, damai, pokonya beneran kaya di hutan deh…

20140206-090739.jpg

Di rute ini juga ada beberapa gua, antara lain Lake Cave, Jewel Cave dan Mammoth Cave. Tapi menurut M, Jewel Cave paling spektakular, jadilah kita cuma mampir disini aja. Untuk masuk ke gua, kita harus ikut tur, dimana nanti guide akan mengantar kita keliling. Lampu yang menyala nanti hanya tempat-tempat dimana kita berhenti. Ada semacam panggung di beberapa sudut, banyak tangga dan jembatan, juga lorong yang dibangun sedemikian rupa supaya ga mengganggu bebatuan dan bentuk gua. Jangan kaget karena nanti guide akan mematikan seluruh penerangan dalam gua, supaya kita tau apa itu yang namanya kegelapan total. Ada satu bagian dimana stalaktit itu entah saya lupa bagaimana penjelasannya, tapi stalaktit itu bentuknya kecil dan tumbuh kembali ke atas dan menyamping. Cantik menakjubkan, seperti peri-peri kecil bergelantungan.

20140206-090836.jpg

Tidak terlalu jauh dari Jewel Cave, kita sudah tiba di Augusta. Setelah cek-in, kita langsung menuju Mercusuar Leeuwin untuk ikut tur terakhir. Kita bisa masuk ke pekarangan mercusuar secara gratis, tapi untuk masuk dan naik ke atas mercusuar harus bayar tiket dan ikut tur. Walaupun sudah yang kedua kali, tetap buat saya pemandangan disini keren banget. Disana juga tempat bertemunya laut selatan dan laut india, kalau ngapung lempeng blas bisa sampe Antartika, kalau ngapungnya lempeng ke barat bisa nyampe Afrika Selatan. Kekekkekeek… Kebangetan ya ngapungnya?

20140206-090940.jpg

Kakek nenek M dari pihak ibu dulu tinggal di Augusta, jadi semacam mudik kayanya buat dia jalan-jalan kesini. Satu-satunya bakery yang ada di kota ini berdiri sejak tahun 1948, dan rumah kakek nenek M dulu persis ada di belakang bakery ini. Tempatnya kecil dan menyenangkan, menghadap ke sungai dan laut. Cocok banget buat sarapan. Di trip kita yang pertama, kita cuma beli roti aja disini dan sarapan di pinggir sungai. Nongkrongin burung pelikan yang anteng banget menikmati pagi.

20140206-090529.jpg

Selesai sarapan, kita muter-muter Augusta yang cuma seucrit itu dan lanjut arah balik menuju Perth. Rute balik bisa lewat Margaret River seperti waktu berangkat, atau lewat rute lain dan mampir di Pemberton untuk naik pohon raksasa ‘The Gloucester Tree’.

20140206-091050.jpg

Nah, masuk kota Pemberton, kalau mau ke pohon Gloucester kita harus mampir ke visitor centernya untuk beli tiket. Itu pohon tingginya 60m dan untuk naik betul-betul ga ada pengaman. Tangganya hanya berupa semacam besi beton yang ditancapkan melingkar ke atas disekeliling pohon. Dan ada beberapa bagian dimana dahan pohon yang besar itu bikin proses manjat jadi susah. Siap-siap memar dengkul atau malah kencang betis, tergantung panjang tungkai kaki kita deh… Sampai atas, ada sedikit bangunan semacam rumah pohon untuk menikmati pemandangan sekitar. Mungkin selama manjat tadi saya sibuk konsentrasi ya, jadi pas sampai rumah pohon ini baru kerasa tinggi dan agak takut. Pohonnya goyang-goyang kena angin nek, wihhhh ngeriiii… Perjalanan turun sih ga terlalu susah, lumayan cepat juga, mungkin karena ga sabar aja sih kali pengen cepat berpijak di tanah hahahaa…

Keluar dari Pemberton, kita mampir ke perkebunan anggur ‘Lost Lake’. Beli oleh-oleh buat mama papa Masbul yang punya koleksi wine cukup banyak, juga lihat perkebunannya. Kapan lagi mampir-mampir ke tempat beginian kan? Kekekekekk…

20140206-091158.jpg

Rute pulang arah sini agak kurang menarik, atau mungkin saya yang memang udah teler kecapean abis manjat pohon, jadi banyakan meremnya nih mata sepanjang jalan. Kita mampir di Manjimup buat makan siang, abis itu langsung blassss ke Perth.

Beberapa tips lagi untuk rute ini:
1. Cek jadwal tur di tempat tujuan wisata, supaya kita bisa tiba di tempat ga terlalu sore ataupun harus menunggu lama. Rata-rata tur memakan waktu 45menit – 1jam.
2. Pastikan bawa bekal karena kota-kota wisata ini umumnya kota kecil yang hanya punya beberapa tempat makan yang waktu bukanya terbatas. Kasihan kan kalau kelaparan, apalagi kalau bawa anak kecil.
3. Jangan lupa cek perkiraan cuaca di tempat tujuan supaya ga salah kostum, juga siapkan sepatu yang nyaman terutama kalau mau manjat pohon Gloucester.