Ke Angkor Wat bawa batita

Kantor tempat M kerja di Jakarta kemarin punya kebijakan R&R (rest and relax), yang jatuh tempo setiap 6 bulan sekali. Tempat tujuan dibatasi pada Singapura dan Kuala Lumpur. Dan kesempatan R&R pertama kami sepakat untuk pergi ke Singapura lalu ke Angkor Wat. Lumayan kan, tiket dan akomodasi di Singapura gratis, tinggal modal sendiri untuk urusan Angkor Wat.

Keluarga saya agak ga setuju kami berangkat ke sini, mengingat Eden belum genap 2 tahun dan kehamilan saya memasuki bulan keenam. Tapi setelah cek dengan dokter, kondisi saya dan bayi sehat, plus sepakat untuk keliling santai menyesuaikan dengan kondisi Eden, berangkat lah kami.

Saya sudah browsing sana sini dan juga cari tau ke beberapa teman tentang kondisi Angkor Wat. Pertanyaan utama, apakah memungkinkan kalau kami bawa stroller? Dan jawabannya; ga bisa bawa stroller karena banyak tangga, undakan dan juga jalanan tanah kering atau basah berlumpur. M menyanggupi untuk gendong Eden, dan saya bawa ransel keperluan Eden. Aman.

Kami menginap di Palm Village Resort & Spa. Tempatnya bersih, nyaman, makanan enak dan murah, ditambah karyawan yang luar biasa ramah dan rajin ngajak main Eden jadi kami bisa sedikit santai. Secara keseluruhan kami puas banget tinggal di tempat ini. Kami pun ambil tour guide dan tuktuk dari hotel, jadi rasanya lebih aman dan nyaman. Saran saya, lebih baik memang ambil tour guide yang bukan supir. Jadi tour guide bisa antar kita keliling dan kendaraan bisa tunggu di tempat yang lain. Memudahkan kita untuk mencari rute dan melihat-lihat candi, juga praktis ga harus mutar kembali ke tempat parkir.

Selain itu, menurut saya, memilih tuktuk sebagai sarana transportasi memang paling pas. Cuaca di Siem Reap panas dan lembab, habis panas-panasan lalu duduk di tuktuk yang melaju, semilir angin tuh beuh sedep bangets deh! Mata langsung kriyep-kriyep dan perut langsung berisik minta jatah πŸ˜‹ kebayang kalau naik mobil, masuk mobil yang panas, ac belum dingin kita sudah mesti turun lagi liat candi selanjutnya.

Pertama kali kami ketemu tour guide, beliau langsung menyarankan supaya kami berganti pakaian. Saya memang pakai atasan tanpa lengan dan celana pendek, sedangkan M celana pendek di atas lutut. Tour guide kami bilang, walaupun ini tempat wisata, tetap saja namanya rumah ibadah, rumah Tuhan bagi mereka yang mempercayainya. Dan alangkah baik kalau kita menghormati dengan berpakaian yang pantas. Masuk akal sih ya, di Bali pun kita diminta memakai kain penutup kalau pakaian kita kurang pantas. Jadilah saya pakai celana pendek M, dan M pakai board-short. Satu-satunya celana yang sesuai dengan permintaan tour guide.

Untuk paket kunjungan ke Angkor Wat, kami ambil paket 3 hari walaupun hanya terpakai untuk 2 hari saja. Hari pertama kami puas dan antusias banget, hari kedua mulai agak capek dan bosan lihat candi πŸ˜„

Sepanjang perjalanan keliling candi dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, Eden tampak lumayan menikmati semua prosesnya. Ga ada rewel, ga ada marah ataupun menangis. Beberapa kali berhenti karena Eden sibuk lihat batu-batu besar yang berserak di sana sini, atau kadang sibuk ikutan lihat relief di dinding candi, semangat banget setiap kali matanya bertemu dengan sosok binatang yang dia kenal. Eden pun sempat tidur di gendongan M, lanjut tidur lagi di tuktuk dan bangun penuh semangat lagi. Eden bahkan sempat jadi obyek tontonan rombongan turis karena dia sibuk main di reruntuhan candi πŸ˜„

Untungnya perjalanan keliling candi tidak membutuhkan waktu seharian penuh. Hari pertama kami sudah di hotel sebelum jam 3 sore, dan hari kedua kami bisa kembali ke hotel untuk makan siang. Kalau mau melihat setiap jengkal candi pasti satu dua hari ga akan cukup, tapi kami merasa sudah melihat semua spot yang cantik dan terkenal, jadi sudah puas banget deh.

Awalnya saya memang ragu-ragu mau ajak Eden berlibur ke tempat yang (rasanya) sama sekali ga cocok buat anak-anak. Tapi itu artinya saya harus menahan diri untuk ga berlibur ke tempat yang saya dan M mau. Dan setelah beberapa kali mencoba pergi dengan Eden, terbukti kalau punya anak kecil ga menghalangi kita untuk berlibur. Tapiiii, harus disadari betul bahwa perjalanan dibuat sesuai kebutuhan dan rutinitas anak. Misalnya kami ga bisa pergi ke pasar malam karena Eden sudah tidur jam 7 malam. Perbekalan anak pun harus lengkap, untuk Eden, saya selalu bawa botol minum, biskuit kesukaannya, buah seperti pisang atau apel dan satu atau dua mainan. Dan yang paling penting, kerelaan hati kita untuk selalu menghibur dan membuatnya tetap semangat, karena dengan demikian perjalanan jadi terasa lebih ringan.

Yuk liburan lagi!

Iklan

Bermalam di Caravan/Holiday Park

Sejak pertama kali merasakan menginap di caravan/holiday park, rasanya saya ketagihan untuk selalu menginap di tempat seperti ini lagi. Untuk ukuran anak Jakarta yang pengalaman camping-nya cuma sepanjang persari, persami dan ospek jurusan, camping ala orang Australia ini sungguh terasa sangat mewah (pengalaman saya baru di seputar benua ini jadi belum bisa komentar tentang negara lain). Tenda yang super besar, tidur dalam sleeping bag hangat yang bisa disambung, jadi tetep bisa ndusel-ndusel M kalau saya kedinginan (iya saya baru tau kalau ada sleeping bag yang bisa disambung) πŸ˜‹ dan beralaskan kasur lipat dari busa atau kasur tiup. Bahkan ada yang bawa semacam dipan lipat juga loh! Jadi ga ada deh tuh cerita sakit punggung kalau pulang camping disini.

Pertama kali menginap, kami memang berniat tidur dalam tenda. Satu lapak untuk tenda, lengkap dengan satu power point dan satu keran air, harganya berkisar $50/malam. Kamar mandi terpisah, untuk laki-laki, perempuan dan bahkan anak-anak. Lalu ada tempat cuci baju, cuci piring, area jemur. Untuk memasak, ada area barbeque lengkap dengan meja dan kursi piknik. Sedangkan untuk anak-anak, ada kolam renang dan area bermain.

< img src=”https://blueskyandus.files.wordpress.com/2017/11/img_0483.jpg&#8221; class=”wp-image-836 size-large” height=”2400″ width=”2400″><<<
ak kemah atau caravan ini juga ada berbagai macam. Ada lapak dengan en-suite; kamar mandi pribadi yang letaknya di sebelah lapak atau tidak jauh dari lapak. Bahkan di holiday park tempat kami menginap kemarin, ada lapak yang ramah binatang peliharaan.

<<<
ain itu ada juga tempat penginapan berupa kabin sederhana sampai kabin besar dengan pemandangan cantik. Tetap judulnya ada harga ada barang.

Kabin yang kami ambil saat perjalanan darat kemarin lumayan besar, masing-masing 3 kamar dan salah satunya dengan bunk-bed. Anak-anak paling semangat deh kalau ada tempat tidur model ini, bahkan Eden pun mau ikut kakak-kakaknya tidur disini juga.

Malam pertama kami menginap di Blue Lake Holiday Park yang letaknya di seberang Blue Lake, Mt. Gambier. Kami mengambil kabin 3 kamar menghadap ke arah hutan. Dan pagi hari pas bangun, kami disambut kabut tebal dan udara yang super dingin. Bikin pemandangan sekitar area perkemahan tambah cantik.

Malam kedua kami menginap di sea view cabin Torquay Foreshore Caravan Park, dan beruntung banget bisa lihat matahari terbit yang luar biasa cantik dari teras kabin, walaupun udara dingin minta ampun, kami bisa jalan kaki ke pantai menikmati matahari terbit.

Untuk urusan dapur, kabin-kabin ini menyediakan peralatan masak dan makan yang lumayan lengkap. Syaratnya hanya seluruh perlengkapan harus dalam keadaan bersih saat check out.

Salah satu peraturan caravan/holiday park yang bikin saya lumayan nyureng waktu pertama kali baca adalah, ga boleh ada keributan di atas jam 10 malam dan ga boleh bikin api unggun. Kebayang kalau ada aturan macam ini di Indonesia, pasti ga laku ya bumi perkemahannya, udah capek nenteng gitar sepanjang jalan, eh jam 10 udah mesti bobo πŸ˜‚

Jadi, ada yang mau ajak saya liburan bareng ga ya? πŸ˜‹

Sunset dari teras kabin kami di Torquay Foreshore Caravan Park

Our First Long-Haul Flights & Jet Lag

Keceriaan saya menghadapi kepindahan kami ke Canada berangsur menipis setelah menyadari betapa panjang perjalanan yang harus ditempuh bersama dua bocah lelaki yang masih masuk kategori batita ini.

Kami mengambil pilihan rute Perth – Sydney – Vancouver – Saskatoon, dengan waktu transit masing-masing 6 jam. Total waktu perjalanan termasuk transit: 34 jam (7 jam + 13 jam + 2jam terbang).

Karena proses visa Canada saya yang panjang (nyaris 3.5 minggu), M pun harus berangkat duluan. Kami pun mempertimbangkan beberapa pilihan; kami ketemu di Sydney atau M balik ke Perth lalu sama-sama ke Saskatoon. Alhamdulillah bosnya di Canada setuju untuk M balik ke Perth jemput kami.

Sebetulnya saya lumayan percaya diri untuk pergi bertiga, apalagi kami dapat kelas bisnis. Kan biasanya pelayanan kelas itu jauh lebih ramah ya, jadi bisa lah saya minta dibantu secara bawa dua anak kecil. Tapi untung aja M ngotot balik ke Perth, soalnya walaupun duduk sebelahan, untuk urus Eden tetap saja kami harus keluar dari kursi yang ada dalam cubicle. Dan gendong bayi duduk di kursi bisnis lumayan ga nyaman karena ada kantong air bag di tali sabuk pengaman. Kayanya anak-anak bakalan jadi rewel klo M ga ikutan terbang sama kami. Maklum deh, namanya juga perdana naik kelas bisnis jarak jauh jadi lagi norak-noraknya banyak yang baru tau πŸ˜„ 

Sabuk pengaman untuk bayi ternyata ga tersedia di penerbangan Air Canada. Jadi bayi harus digendong dengan posisi kepala di pundak kita. Agak deg-degan juga takut lepas dan jatuh klo tangan semutan atau ketiduran, dan ga bisa kasih ASI juga kan dengan posisi gtu. Baru pertama ini naik pesawat yang ga nyediain sabuk pengaman untuk bayi, dan saya tetap gendong Kiran seperti biasa saat lepas landas dan mendarat, supaya tetap bisa minum ASI.

Sementara Eden gayanya udah kaya yang biasa banget naik pesawat di kelas bisnis, duwa jutak bgt deh πŸ˜„πŸ™ˆ Tapi karema makannya masih susah, dan cuma makan seadanya selama perjalanan akhirnya muntah deh persis setelah mendarat di Saskatoon. Perjalanan panjang, ga mau makan dan capek tentu saja. Alhamdulillah besoknya sudah ceria lagi. Untung Kiran masih dibantu ASI jadi lebih aman dan nyaman.


Perjalanan kami dimulai hampir tengah malam waktu Perth, dan tiba di Saskatoon persis tengah malam. Jadi kami bisa langsung tidur dan besoknya bangun siang, malah terbangun hampir tengah hari πŸ˜›. Dalam waktu hampir 2 minggu, barulah anak-anak bisa tidur pulas sesuai zona waktu yang baru.

Cerianya saya mau pulang ke Perth pun sedikit terganjal dengan rasa malas luar biasa membayangkan perjalanan panjang lagi. Kali ini rutenya Saskatoon – Vancouver – Hong Kong – Perth, dengan waktu transit 6 jam dan 3 jam. Total waktu perjalanan: 32 jam (2jam + 13.5jam + 7jam 45menit terbang).

Kali ini perjalanan lebih nyaman lagi karena Kiran dibelikan kursi sendiri. Anak bayi yang berulang tahun pertama tepat di hari keberangkatan kami ini pun tidur nyaman hampir sepanjang perjalanan. Sayangnya sempat ada turbulence jadi Kiran harus digendong dan terbangun. Tapi saya dan M sempat dong menikmati duduk manis santai ala-ala business class πŸ˜„ mumpung anak-anak tidur, kami pun makan dan sempat ikut tidur lumayan panjang.



Oiya keluar dari Canada ga ada urusan sama imigrasi. Jadi kita terbang kaya domestik aja, ga ada yang periksa apakah kita overstayed atau apapun. Kalau kata M, mereka menggunakan sistem yang sama seperti Amerika. Saya baru pertama ini keluar dari suatu negara dan ga mesti lewat proses imigrasi. 

Saya jadi ingat, loket check in untuk penumpang kelas bisnis Garuda di keberangkatan internasional bandara Soetta itu punya pintu dan petugas imigrasi sendiri loh. Petugasnya tanpa komputer, entah kalau paspor dll dibawa dulu ke loket asli dan di cek ya, karena habis check in ada petugas yang ambil alih urusan imigrasi dan kami dipersilahkan langsung ke lounge. Paspor akan dikembalikan disana. 

Kali ini perjalanan kami dimulai sekitar jam 6 pagi hari Jumat waktu Saskatoon dan tiba jam 6 pagi hari Minggu waktu Perth. Segala upaya dilakukan untuk menahan waktu tidur anak-anak, tapi akhirnya mereka tepar juga jam 3 sore. Kami pun segera tidur karena sudah kebayang kalau anak-anak pasti pola tidurnya masih kacau. Betul aja, jam 2 pagi lampu rumah sudah terang dan anak-anak sudah duduk manis minta sarapan πŸ˜„ 

Lumayan nyengir deh saya sendirian ngadepin pola tidur anak-anak yang kacau balau, karena M sudah harus berangkat lagi ke Adelaide untuk penugasan yang baru. Mata sih melek ya, tapi otak dan badan ini kya ga nyambung πŸ˜„ mana Kiran masih tetap bangun malam buat minum ASI. Bisa ngabisin segelas kopi pagi dalam keadaan masih ngebul aja kyanya udah bagus banget hahahaha…

Dan seperti kata mantra emak-emak rempong; “these too shall pass”, akhirnya anak-anak pun bisa tidur nyenyak dan jet lag pun berakhir…

Life in Suitcase(s)


Dalam kurun waktu setahun ini bisa dibilang kami mencatat rekor pindahan terbanyak; 1 tahun, 3 negara dan entah berapa rumah.

Awal Juli tahun lalu, rencana awal liburan ke Singapura dan Legoland berakhir dengan M harus langsung angkat kaki dari Indonesia. Jadi saya dan anak-anak pulang ke Jakarta tanpa M dan langsung menginap di rumah orang tua saya selama hampir satu bulan. Kemudian bulan Agustus M datang dan menjemput kami untuk pulang ke Perth.


Karena rumah kami belum habis masa sewanya jadi kami tinggal di akomodasi sementara. Jatah 3 bulan cuma kami pakai 1 bulan, kemudian pindah ke rumah orangtua M yang kebetulan akan pergi liburan satu bulan. Jadi kami house sitting, dengan perhitungan, sebelum mereka pulang kami sudah pindah. Tapi ternyata penyewa rumah kami bermasalah dan rencana lainnya pun batal. Setelah 2 bulan di rumah orangtua M, saya dan anak-anak pulang lagi ke Jakarta sambil menunggu jadwal pengembalian apartemen di Jakarta.

Setelah seluruh urusan perbaikan rumah di Perth selesai dan dapat jadwal pengembalian apartemen di Jakarta, M terbang lagi ke Jakarta menjemput kami, packing untuk pindahan barang balik ke Perth dan mengembalikan kunci apartemen. Kali ini kami resmi pindahan balik ke Perth, dan alhamdulillah langsung masuk ke rumah sendiri ❀️

Baru seru-serunya menikmati tinggal di rumah sendiri, M dapat tawaran kerja di Saskatoon, Canada. Posisi permanen, tapi M dapat kesempatan untuk “coba dulu” selama 3 bulan sambil mereka proses rekrutmen dan boleh bawa keluarga. Dan seperti sudah diduga, paspor hijau saya butuh waktu untuk dapat visa dari imigrasi Canada. M berangkat lebih dulu dan kemudian balik 3.5 minggu kemudian untuk menjemput kami.

Soal kehidupan dan cerita salju di Saskatoon akan di posting terpisah ya… Pertimbangan jarak yang bikin tiket pesawat super mahal, dan beda waktu yang bikin susah komunikasi adalah alasan terbesar kami memutuskan untuk ga lanjut di Saskatoon dan kembali ke Perth. Dan alhamdulillah, sebelum meninggalkan Saskatoon, M sudah dapat tawaran kerja lain lagi. Dan kami pun mesti pindahan lagi πŸ˜‹


Kali ini, ke Adelaide. 

Setelah hampir sebulan setengah kembali ke Perth, akhirnya kami pun pindahan lagi πŸ˜„ 30 hari di akomodasi sementara, kemudian nanti pindah ke rumah kontrakan. Mudah-mudahan kami ga perlu pindahan lagi untuk beberapa waktu ke depan. 

Alhamdulillah untuk urusan pindah antar negara kami dapat paket packing and shipment dari kantorJadi cukup beresin dan pisahin barang saja, mereka (movers) yang bungkus, masukin kardus dan angkut. Tiba ditujuan pun mereka yang bongkar dan bawa lagi kardus-kardusnya. 

Pindahan kali ini sepertinya lebih besar dampaknya buat Eden. Sejak kita keluar dari rumah, Eden selalu ngajak pulang. Mungkin karena sekarang beda rasanya buat dia, selain sudah lebih mengerti, mungkin juga merasa punya kamar sendiri dengan barang dan mainan sendiri. Waktu mobil kami diangkut truk untuk pindahan pun Eden teriak protes dengan mata penuh airmata. Saya jelaskan kalau mobilnya ga bisa naik pesawat dan akan ketemu nanti di Adelaide, wajahnya berangsur tenang. Sampai hari ini, seminggu lebih kami meninggalkan rumah di Perth, Eden masih beberapa kali bertanya kapan kita pulang ke Perth. 

Semoga aja Eden dan Kiran segera bisa adaptasi, tetap ceria dan selalu sehat. Semoga kami segera dapat rumah yang cocok dan berjodoh. Dan tentunya, semoga aja rumah di Perth dapat penyewa yang baik dan bertanggung jawab ya… Aamiin ya rabbal alamiin.

Terbang Bawa Bayi & Batita


Terbang pertama bawa Kiran dan Eden kejadian di Juli lalu. Kiran waktu itu umur 3 bulan, dan Eden umur 2 tahun 5 bulan. Rute Jakarta – Singapura pp.

Berangkat ga ada masalah karena kami pergi berempat. Pulangnya, M mendadak dapat panggilan buat langsung berangkat ke Australia, dan saya plus dua anak harus pulang ke Jakarta. Kepala saya langsung cenut-cenut πŸ™ˆ 

Masalahnya, bawaan kami ukuran 2 dewasa, jadi ga mungkin saya sendiri dengan anak-anak. Ada 2 koper besar, dan 2 stroler. Akhirnya diputuskan, adik saya datang ke Singapura menjemput kami.

Di bandara Changi, para bayi dan stroler aman sampai ke pintu pesawat. Mereka pun anteng selama penerbangan walaupun sempat delay hampir satu jam. Ketidaknyamanan muncul ketika pesawat mendarat di Jakarta.

Sudah lama sekali saya ga lagi merasakan nyamannya pulang ke Jakarta dengan garbarata, seringkali pesawat Garuda parkir jauh dari bangunan terminal dan kami menghabiskan waktu cukup lama dalam bis. 

Parahnya, M pernah tiba dari Perth dan bis membawa penumpang ke terminal domestik. Dan sekali lagi M tiba dari Balikpapan tapi bis membawa penumpang ke terminal internasional. Penumpang kebingungan sampai akhirnya ada petugas darat yang mengarahkan mereka kembali ke bis dan diantar kembali ke terminal yang seharusnya.

Anyway, kami tiba di Jakarta dan seperti biasa pesawat parkir jauh dari bangunan terminal. Stroler diserahterima di tarmac, aman? Belum!

Stroler harus naik bis dan ga ada satu lengan pun terjulur membantu kami berdua mengangkat stroler ke dalam bis. Untung adik saya gesit, jadi kami berdua bisa langsung angkat stroler ga pake ribut.

Tiba di bangunan terminal, turun dari bis pun gada bantuan, ga usah lah ngarep di bantu, di kasih jalan duluan pun ga ada. Jadi kami harus menunggu sampai bis kosong baru bisa turun. Gotong-gotong lagi judulnya. Karena bis berhenti di jalan aspal, lalu kami harus angkat lagi stroler ke trotoar, dan kemudian naik tangga. Sementara dua anak bayi ibu dalam kondisi tidur. Kalau gotong satu dan yang satu ditinggal kan riskan juga ya?

Adik saya akhirnya gendong Eden di satu tangan, sementara tangan lain nenteng stroler. Sedangkan saya, alhamdulillah ada petugas kebersihan yang bantu angkat stroler sampai atas. Semoga selalu sehat dan penuh berkah ya Pak…

Ga kebayang deh kalau saya terbang cuma sama anak-anak, stres banget tuh kayanya πŸ™„

my dearest sister yang super jagoan 😍


Terbang kedua, awal November kemarin. Hanya bertiga dengan anak-anak. Kiran 6 bulan, dan Eden 2 tahun 8 bulan. Diputuskan bahwa kami ga akan bawa stroler, hanya gendongan untuk Kiran dan tali pengaman untuk Eden. Dan tas tenteng untuk perlengkapan di pesawat.

Saya ga bawa bagasi sama sekali, karena kami tiba di Jakarta cukup larut, jadi anak-anak pasti sudah capek dan kemungkinan akan rewel kalau harus tunggu bagasi. Pengalaman kami tiba dari Perth dengan penerbangan ini, bagasi baru keluar satu jam setelah proses imigrasi kami selesai. Jadi saya ga mau ambil resiko.

Untungnya selama di Perth, Eden sudah terbiasa jalan kaki dan ga lagi duduk di stroler. Kalaupun tertidur di mobil, Eden gampang bangun dan dengan senang hati langsung jalan kaki lagi. Jarang lah dia cranky kalau pas lagi pergi-pergi. Makanya saya cukup percaya diri untuk terbang bertiga.

Di bandara Perth disediakan stroler tapi jumlahnya ga terlalu banyak. Dan di area kedatangan, stroler baru diserah terimakan di area pengambilan bagasi.

Selama di bandara Perth, Eden selalu gandeng tangan saya dan ga lari kabur sana sini. Alhamdulillah latihan kami di shopping mall membuahkan hasil πŸ˜‹ tali pengaman yang saya pasang karena takut dia kabur sama sekali ga perlu digunakan. Kiran pun duduk anteng di gendongan, sibuk celingak celinguk sana sini.

Di pesawat, Kiran tidur hampir sepanjang perjalanan. Sayangnya cuaca buruk di setengah perjalanan jadi Kiran ga boleh tidur di bassinet, harus dipangku dengan sabuk pengaman terpasang.

Eden seperti biasa sibuk dengan ini itu sampai akhirnya tidur setelah setengah perjalanan. Saya bahkan bisa makan tenang di pesawat πŸ˜‹ 

Tiba di Jakarta, saya minta bantuan pramugari untuk bawa Eden turun dari pesawat. Karena baru bangun dan mengantuk, saya ga yakin dia akan bisa aman turun tangga pesawat. Sedangkan saya gendong Kiran dan nenteng tas, rasanya beresiko kalau gandeng Eden dan ga pegangan.

Pramugari dan kru Garuda buat saya selalu sangat membantu dalam setiap penerbangan, saya ga ada keluhan deh soal ini. Mereka mampir dan ajak main anak-anak, dan ga judes dimintain tolong.

Salah satu pramugari dengan baik hati menggendong Eden sampai tarmac, dan kru darat lain membantu gendong Eden sampai bis, lalu lanjut dari turun bis sampai area imigrasi. Alhamdulillah…

Buat saya, penerbangan dengan dua anak ini semacam peringatan. Mungkin dulu waktu masih single, saya pun gada empati dan ga peduli liat ibu dan anak yang butuh bantuan. Sibuk sama diri sendiri. Besok-besok semoga saya lebih sensitif kalau ada yang butuh dibantu.

Kayanya kalau M sibuk kerja, kami sudah siap nih keliling dunia bertigaan saja πŸ˜„

Legoland Resort Malaysia – II

Setelah kelar cerita tentang Legoland Hotel, sekarang giliran cerita tentang Legoland Theme Park dan Water Park. 

4 tiket masuk theme park/water park


Kami menginap dua malam di Legoland Hotel, dan mengambil tiket terusan untuk dua hari yang berlaku konsekutif (berkelanjutan). Karena kami tiba di Legoland Resort sekitar tengah hari dan Park tutup jam 6 sore, kami putuskan untuk menggunakan tiket di hari kedua dan ketiga saja. Rencananya, kami akan ke water park di pagi hari kedua, makan siang dan kemudian ke theme park. Demikian juga dengan hari ketiga, karena bis jemputan baru akan datang jam 4.15 sore. Jadi kami akan punya cukup waktu.

Water Park


Tiket yang sudah kami beli tidak termasuk tiket masuk water park untuk Eden dan Kiran (anak di bawah 3 tahun) jadi kami harus beli tiket baru seharga @ RM11. Harga tsb termasuk 2 buah popok berenang. Lumayan deh buat tambahan, secara saya ga bawa banyak πŸ˜‹ oiya, Kiran ga ikut berenang, anak baik hati ini anteng bobo selama kami berenang.

Selain itu, untuk mendapatkan handuk, kita bisa sewa dengan harga RM30 plus deposit RM30 yang diambil saat pengembalian handuk. Kalau mau sewa gazebo juga bisa, ada beberapa pilihan paket. Tapi kalau mau pakai kursi biasa pun banyak dan kelihatannya cukup aman.


Melihat perosotan dan seluncuran, tentunya mata saya udah penuh binar-binar. Selain yang terjun tegak lurus, saya suka banget main perosotan di water park. Ralat. Saya suka banget main perosotan πŸ˜‹ Tapi mengingat punya 2 anak kecil dan salah satunya bayi yang masih perlu ASI, jadilah saya harus menahan diri.

Untunglah nana dan pop berbaik hati mau jagain Eden dan Kiran selama ibu dan daddy pergi main perosotan. Kemudian pop lanjut jagain Kiran karena ibu dan nana sibuk main di kolam ssafari sama Eden, dan daddy plus 2 anaknya ga bosan main perosotan πŸ˜„ kami akhirnya selesai setelah Kiran bangun dan mulai protes kepanasan.

Water park ini dibagi dua; area anak besar yang isinya kolam ombak dan perosotan, dan area anak kecil yang isinya kolam arus, kolam safari yang ada perosotan mini plus binatang-binatangan, dan kolam main yang sayangnya lagi renovasi.

Untuk yang malas mandi atau bilas dan mau langsung main ke theme park, bisa mengeringkan badan di Dry Station. Semacam hand dryer tapi seukuran badan dewasa πŸ˜‹ ada di beberapa tempat, dan ga gratis hehehee…

Kalau lapar pun ga perlu keluar area, ada beberapa kios dan ada resto juga dalam area water park, tapi kami ga sempat icip-icip.

Water park ini dirancang memang untuk anak-anak, jadi kalau mengharap akan menemukan perosotan yang seru mengerikan atau tinggi luar biasa untuk ukuran dewasa, anda berada di tempat yang salah πŸ˜‹ buat saya, Atlantis  Ancol dan Waterbom Bali masih lebih seru menantang.

Sekedar catatan, disarankan untuk lebih dulu ke water park. Seperti pengalaman kami kemarin, hari ketiga itu water park ditutup karena ada kandungan amoniak dalam air (lupa persisnya).  Pengumuman ini langsung dari badan pemerintah. Kebayang kalau datang jauh-jauh dan ga bisa berenang. Karena banyak anak yang sudah siap dengan perlengkapan berenang dan menangis karena ga bisa main. Untungnya ada kolam renang hotel, jadi mungkin bisa cukup menghibur. 

Theme Park


Kebetulan kamar kami menghadap di arah theme park, jadi anak-anak sudah heboh menentukan mau naik apa dan rutenya mau lewat mana dulu πŸ˜‹ 

Setelah makan siang, nana, pop dan anak-anak langsung pergi. Sedangkan kami menunggu M selesai teleconference meeting baru berangkat. 

Tiket terusan itu bisa digunakan bolak balik dalam sehari. Jadi kalau pagi sudah masuk dan mau istirahat dulu di hotel lalu siang balik lagi pun bisa. Praktis buat kami yang bawa bayi dan batita. Buat yang mau sholat pun ga usah khawatir, ada beberapa musholah tersedia di masing-masing park.

Ketika kami ketemu rombongan nana dan pop, anak-anak langsung semangat, mereka tau saya pasti mau naik segala macam roller coaster. Dan M udah lama menyerahkan urusan beginian ke saya. Dia bahagia cuma nunggu stroler di bawah πŸ˜‹

Miniatur Lego – Clark Quay Singapore


Yang paling menarik buat saya adalah miniatur bangunan terkenal di dunia yang semuanya dibuat dari Lego. Favourite saya; pelabuhan! Ada Tanah Lot dari Lego juga, dan kereeeen! ❀️ 

Seperti juga water park, permainan di theme park ini dibuat untuk anak usia sekolah deh kalau menurut saya. Jadi pergi ke Legoland Resort Malaysia itu memang betul-betul untuk anak. Walaupun tentu saja tetap seru dan menarik, apalagi buat saya yang baru pertama kali bawa Eden main ke tempat seperti ini 😍

Permainan untuk anak lumayan banyak jenisnya, apalagi kalau anak sudah usia sekolah TK. Pasti seru banget buat mereka. Dari kapal terbang, perahu, mobil dan kereta, juga ada permainan keluarga dimana ayah ibu anak semua aktif melakukan sesuatu untuk menang. Ada juga arena Lego Duplo, semacam playground untuk anak-anak balita. Untuk anak seusia Eden, ada batas minimal tinggi badan 80cm untuk bisa main. Alhamdulillah Eden lebih dari 80cm jadi ibu ga sia-sia antri sambil gendong πŸ˜‹

andalan ibu dan eden πŸ˜‹


Permainan uji nyali juga lumayan banyak, untuk anak usia belasan tahun. Ada beberapa macam jet coaster, ada permainan perahu yang kalau di Dufan namanya Niagara. Ini aselik basah kuyup parah. Pilihannya antara ganti semua pakaian termasuk sepatu, atau masuk Dry Station πŸ˜‹ entah ya beneran bakal kering atau ga.

Arena yang paling ditunggu M tentunya Star Wars. Bukan permainan uji nyali, tapi semacam film pendek. Yang paling menyenangkan adalah karena tempatnya dalam ruangan AC. Sayangnya stroler ga boleh dibawa masuk, padahal lumayan buat Kiran ngadem. Terpaksa Kiran tunggu diluar sama Nana karena lagi tidur. 


Banyak permainan yang tempatnya dalam ruangan dan tidak membolehkan stroler masuk, jadi agak susah buat kami. Gantian jaga di luar juga ga enak, kasian anak-anak menunggu. 


Selain itu yang seru tentunya hiasan Lego disana sini yang dibuat berbagai macam bentuk. Paling keren menurut saya adalah kolam musik. Jadi kalau posisi kita disebelah alat musik bass, maka suara bass akan mendominasi lagu. Begitu juga kalau kita berdiri dekat terompet, maka terompet yang mendominasi. Seru ya kalau pas banyak orang, pasti tambah keren suara musiknya.


Hari ketiga itu kami nyaris ga bisa kemana-mana. Water park ditutup, dan hujan deras plus petir ga berhenti dari pagi. Beberapa permainan di theme park pun ditutup kalau cuaca tidak memungkinkan. Anak-anak mulai uring-uringan karena tau waktu mereka ga banyak lagi.

Untunglah menjelang waktu makan siang hujan reda, jadi kami bisa pergi lagi. Beruntung hari sebelumnya kami sudah puas bermain, jadi semua senang deh πŸ˜‰

Legoland Resort Malaysia – I

Rombongan lenong di spot wajib Legoland

Setelah rusuh bikin paspor buat Kiran, akhirnya kami jadi juga liburan ke Legoland. 
Getting there…

Kami memutuskan untuk naik bis dari Singapura ke Legoland. Harganya $12/orang/trip. Lokasi keberangkatan dari Singapore Flyer dan turun langsung di Legoland. Info lengkapnya bisa dilihat disini.

Berangkat dari Singapore Flyer sekitar jam 10.30 pagi, dan tiba di Legoland sekitar jam 12 siang. Sedangkan pulangnya kami ambil jam 4.15 sore dan tiba sekitar jam 6. 

Usahakan barang bawaan dibuat seminimal mungkin, karena harus bawa turun barang saat imigrasi; 

  • Berangkat; hanya membawa dompet/tas kecil saat di imigrasi Singapura dan menurunkan semua barang bawaan saat di imigrasi Malaysia. 
  • Kembali; sebaliknya, hanya membawa dompet/tas kecil saat di imigrasi Malaysia dan menurunkan semua barang bawaan saat di imigrasi Singapura.

Dengan bayi dan balita, bawaan kami ga bisa ditawar lagi 😁 1 koper sedang dengan 2 stroler. Untung ada mertua dan 2 anak M yang sudah lumayan besar jadi ga terlalu rusuh deh…

The Hotel

Bangunan Legoland Hotel adalah yang pertama terlihat saat bis mendekati area Legoland Resort. Dilengkapi dengan 249 kamar bertema Kingdom, Pirate dan Adventure plus kolam renang dan beberapa pilihan resto.

Karena kami datang naik bis, jadi masuk dari belakang hotel yang menghadap ke theme park. Langsung disambut lift yang penuh bergambar karakter Lego, lampu disko dan musik. Seru!

pintu lift

disco time!

Keluar lift, langsung ketemu Foam Brick area, semacam area Lego Duplo tapi bahannya dari busa dengan ukuran besar. Juga dilengkapi area X-Box yang di aktifkan 2 kali sehari. Eden bahagia luar biasa, sibuk lari sana sini, susun Lego dan bermain warna.

brick foam area

Masuk ke lobby, makin seru lagi karena background area receptionist tuh penuh sama minifigures, dan bentukan Lego sejauh mata memandang, juga toko yang sumpah menggoda bangets!
Di area ini, ada kolam-kolam berisi Lego Brick yang bebas dimainkan. Jangan lupa perhatikan juga papan pengumuman karena ada waktu-waktu tertentu karakter Lego muncul disini dan di area Brick Foam. Selain itu, bisa juga tukar minifigure, tapi sayang saya ga baca lebih lanjut syarat dan ketentuan untuk program ini.

area receptionist

Karena rombongan kami terdiri dari 4 dewasa dan 4 anak, dipilihlah Kingdom Suite yang bisa menampung sesuai kebutuhan. Sayangnya di page booking kamar ga dijelaskan kalau tempat tidur yang tersedia berupa 1 kingbed dan 6 single bed (masing-masing berupa bunk bed 3 susun), jadi terpaksalah Nana dan Pop tidur di bunk bed 😁. 


Kamarnya lumayan besar, ada satu kamar tidur dengan kingbed, dua kamar mandi (satu shower dan satu tub), ruang tv menyatu dengan ruang makan, dan area bunk beds. Dalam kamar juga disediakan portable cot, jadi ga perlu lagi minta ke hotel.

Yang seru, di dalam kamar ada semacam peti harta karun dan peta petunjuknya. Jadilah anak-anak heboh cari jawabannya, sampe akhirnya berhasil buka kunci peti dan ngedapetin Lego-Lego ini. Selain Lego yang boleh dibawa pulang, disediakan juga 2 kontainer Lego Duplo yang bisa dimainkan di dalam kamar.


Untuk peralatan mandi, waktu hari pertama disediakan 1 pak toiletries di masing-masing kamar mandi yang berbentuk semacam kotak puzzle. Hari kedua saya tungguin ternyata ga nongol lagi πŸ˜‹ selain itu, ada juga yang satuan seperti pada umumnya. Semua dibungkus dalam kemasan bergambar Lego, tapi sayang isinya standar dan bukan produk Lego.

Untuk urusan perut, ada beberapa resto tersedia di hotel, dan ada juga fast food seperti KFC (ada menu nasi 😍), BK dll di samping hotel. Semacam pusat perbelanjaan kecil. 

Sarapan pagi disediakan di Brick Restaurant. Tempatnya luas banget, seru warna warni, banyak Lego pastinya, makananya beragam banget dan enak. Kami sempat balik lagi untuk makan malam dan walaupun menu buffet ga seberagam sarapan, tapi tetap enak. Untuk makan malam, taplak mejanya cuma kertas putih bergambar plus beberapa guyonan ala bule dan setiap anak dapat 4 krayon warna. Jadi bebas merdeka deh anak-anak mau corat coret di taplak itu. Sedangkan saat sarapan, kalau placemat dibalik itu kertas gambar juga. Eden happy banget coret sana sini dibantuin sama semua orang πŸ˜‹ 

Siap-siap untuk antri pada saat sarapan, karena walaupun ruangan besar, tapi pengunjungnya pun luar biasa banyak.

Selain itu ada kids activity corner, dimana anak bisa menghias cupcake-nya sendiri. Dan juga ada berbagai macam permen dan coklat yang merupakan bagian dari buffet. Jadi waspadalah wahai ibu bapak πŸ˜„

Secara keseluruhan hotel Legoland ini asik banget dan seru. Makanan enak, servis bagus dan tentunya seru karena betul-betul seperti di negeri Lego. Tapi saran saya, kalau ga suka anak-anak, sebaiknya coret aja tempat ini dari bucket list. They are everywhere, literally everywhere πŸ˜„

Cerita theme park dan water park menyusul ya…

Terbang bawa anak belum 2 tahun

  
Waktu itu saya pernah bahas soal Terbang bawa bayi sekarang saya mau cerita tentang terbang bawa anak belum genap 2 tahun. 

Waktu Eden belum bisa jalan, saya selalu berkhayal betapa seru dan lucunya kalau dia sudah bisa jalan sendiri tanpa perlu di gendong. Di satu sisi memang lucu, tapi di sisi lain bagian capek ngejar dan jagain ternyata ga terlalu lucu πŸ˜… apalagi anak seumur itu belum terlalu paham instruksi. Bawa bayi yang masih minum asi dan belum bisa jalan ternyata jauh lebih mudah. Setidaknya demikian menurut saya. 

Untungnya Eden bisa dibilang bayi yang cukup aman diajak terbang, sebagian besar waktu di pesawat biasanya dihabiskan dengan tidur. 

Terbang bawa anak belum genap 2 tahun berarti irit di kantong karena belum bayar penuh, tapi lumayan cengengesan karena harus mangku sepanjang penerbangan. Kalau pas beruntung kadang petugas darat mengosongkan kursi di sebelah jadi kita bisa lega tanpa khawatir ganggu orang lain.

  
Tantangan pertama terbang setelah Eden bisa jalan itu berat dan capek banget πŸ˜“ ga mau duduk diam dan maunya jalan kaki sepanjang koridor. Untungnya masih minum ASI jadi masih ada sedikit tidur dan nonton film di ipad. Tambah kesini mulai canggih Eden, mulai kreatif pula ibu dan daddy dalam menyiapkan perlengkapan perang di pesawat πŸ˜…

  
Berikut beberapa saran yang mungkin bisa diterapkan:

  • Perhatikan makanan yang dikonsumsi sebelum dan selama penerbangan, usahakan jangan makanan manis atau apapun yang akan memicu energi berlebih. Siapkan cemilan kesukaan anak seperti biskuit atau buah.
  • Selain asi, jus atau cemilan, permen semacam cup-a-cup bisa digunakan sebagai alternatif untuk membantu meredakan sakit telinga pada saat pendaratan. 
  • Bawa beberapa alternatif mainan yang tidak berbunyi atau keras, agar tidak mengganggu orang lain. Stiker yang murah meriah bisa mengalihkan perhatian anak untuk waktu cukup lama, biarkan dia menempel sesuka hati dan sibuk sendiri. Buku cerita, mainan kecil seperti remote/hp mainan, boneka, mobil-mobilan dan perlengkapan mewarnai juga cukup berhasil untuk membuat si kecil sibuk.
  • Pilihan terakhir, siapkan sebanyak mungkin film kesukaan anak dalam ipad/gadget 😁 usahakan film-nya tidak penuh stimulasi yang menyebabkan anak bersemangat. In the night garden, bing, giggle and hoot, charlie bear dan cloud babies adalah beberapa film yang bisa jadi pilihan.
  • Perhatikan kondisi anak. Terlalu lelah, terlalu bersemangat, dan terlalu yang lain bisa membuat emosinya berantakan dan rewel sepanjang perjalanan. 
  • Tetap lakukan rutinitas harian agar anak tidak menghadapi terlalu banyak perubahan dan stimulasi.

Jangan panik kalau ada yang menatap sinis dan memberikan komen negatif pada saat anak kita rewel dan tidak bisa diatur. Mereka ini umumnya memang ga paham apa yang kita alami. Selalu akan ada wajah penuh senyum dan sorot mata paham yang menyatakan “been there baby, hang on”. Jadi santai dan nikmati segala prosesnya, segala emosi yang kita rasakan akan dirasakan juga oleh anak dan seringnya ini bikin anak tambah rewel.

Ayo buibu, mari kita lanjut jalan-jalan lagi! πŸ˜‰

Eden Anak Indonesia

Akhirnya Eden resmi sebagai pemegang paspor hijau, warga negara Indonesia. 😍

Kenapa baru sekarang bikin paspor Indonesia?

Alasan pertama, ibunya Eden pemalas dan seneng tar-sok melulu, jadi aja batal terus deh bikin paspor. Padahal form sudah di print dan di isi, lampiran lengkap, cuma kurang pas foto aja. Tapi ya itu dia, nemuuu aja alasan untuk ga pergi ke KJRI Perth.

Sampai akhirnya M dapat kerjaan di Jakarta, dan Eden berangkat dengan paspor biru Australia. Ternyata proses urus dokumen butuh waktu lebih lama dari yang diperkirakan, jadi setiap 2 bulan Eden harus keluar Indonesia dan masuk dengan visa baru. Akhirnya kita putuskan dari pada harus mondar mandir ke Singapura, lebih baik balik ke Perth untuk urus paspor Eden.

Karena Eden lahir di Perth, jadi harus dibuatkan kutipan akta lahir oleh KJRI Perth, untuk kemudian di daftarkan di kementrian (lupa persisnya kementrian apa), kemudian di daftarkan dalam kartu keluarga, baru bisa mengajukan paspor di Indonesia.

Sedangkan untuk pengurusan di Perth, dokumen yang dibutuhkan sangat mudah. Cukup akta lahir, paspor dan visa orangtua, pas foto. Sudah. Dengan proses 4 hari kerja.

Jadi hari Jumat saya masukkan dokumen untuk pembuatan kutipan akta lahir, affidavit dan paspor. Jumat minggu depan semua dokumen sudah selesai dan bisa di ambil. Hebat kan?

Total biaya; $75, paspor $40, kutipan akta lahir $25 dan affidavit $10. 

Untuk lengkapnya, bisa lihat di http://www.kjri-perth.org.au

Kawah Putih, Jawa Barat

  
Akhir pekan kemarin kebetulan ada nikahan sepupu di Bandung, jadi sekalian lah kita minta bapakedaddy cuti sehari buat jalan-jalan. Sebetulnya agenda jalan banyak banget, tapi karena males macet dan juga Eden kayanya bosen kalau duduk kelamaan di mobil, jadilah cuma Kawah Putih dan Situ Patengang yang sukses di longok.

Lokasi kawah putih ini sekitar 50km sebelah selatan Bandung, kalau dari Jakarta, langsung aja keluar di pintu tol Kopo dan belok kanan ke arah soreang. Lalu lintas lumayan padat, selain angkot, andong/delman, sepeda motor, juga beberapa kali melewati sekolah dan pabrik berhiaskan angkot yang ngetem nunggu penumpang πŸ™ˆ

Kawah Putih ini letaknya di Gunung Patuha, dengan ketinggian 2.340m dpl, jadi cuacanya sejuk walaupun bau belerangnya kadang lumayan menyedak. Karena sedang musim kemarau, jadi air kawah surut lumayan jauh, biasanya gundukan tanah/pasir di tengah kawah tertutup air.

Yang istimewa, air di kawah ini berubah warna tergantung pada tingkat konsentrasi belerang dan pembakarannya, kadang biru, putih kehijauan ataupun coklat. Demikian juga bebatuan dan pasir disekitarnya. Makanya tempat ini jadi kelihatan sangat cantik.

  

Dibandingkan terakhir kali saya ke sini tahun 1995, sudah banyak sekali perubahan. Area parkir dan warung tertata rapi, ada mobil angkot yang bisa disewa untuk naik sampai kawah, dan juga tampak lebih bersih terawat. 

Harga tiket masuknya;

  • Wisatawan lokal Rp.18.000
  • Wisatawan mancanegara Rp.50.000
  • Pre-Wed Rp.500.000
  • Parkir atas roda 4 Rp.150.000
  • Parkir bawah roda 4 Rp.6.000

Yang dimaksud dengan parkir atas adalah mobil bisa naik sampai ke dekat kawah. Sedangkan parkir bawah berarti pengunjung parkir di area dekat gerbang masuk, dan naik ke kawah dengan angkot yang biayanya Rp.15.000/orang.

Jangan lupa untuk memperhatikan juga lama kunjungan di kawah, karena bau belerang cukup kuat, maka waktu yang diperbolehkan hanya 20 menit. Dan jangan lupa untuk berdiri di belakang tali pengaman ya, soalnya kemarin saya lihat cukup banyak yang bela-belain lompat tali supaya bisa foto lebih dekat dengan kawah. The sign is there for a reason, be safe and be considerate!