Dilangkahin

Beberapa waktu lalu sepupu saya ulang tahun, dan ramailah grup whatsapp keluarga besar dengan ucapan selamat dan doa. Salah satu sepupu saya (sebut saja Mawar πŸ˜›) mengucapkan; “selamat ulang tahun ya dek, semoga sehat selalu, panjang umur, bahagia dan cepat menemukan jodoh (setelah kakak)”.

Langsung saya samber, kenapa doanya pake setelah kakak ya? Dan tentunya ga ada jawaban. Yang berulang tahun menjawab dengan, “ketemu aja dulu boleh dong…”.

Beberapa tahun lalu saya pernah pergi sama Mawar dan ibunya yang adalah adik kandung ibu saya. Lupa saya persisnya apa yang kami bahas saat itu, tapi kalau ga salah soal anak laki-lakinya yang sudah punya calon dan siap menikah. Sementara Mawar sang kakak belum punya pacar dan tante saya ga mau kalau Mawar dilangkahi. Saat itu kedua adik saya sudah menikah, yang artinya saya sudah dua kali dilangkahi dan beliau ga tau kalau saya saat itu sudah jalan sama M. Lalu tante saya bilang; ” iya tante ga mau nanti kalau Mawar dilangkahi, terus nasibnya jadi kaya teteh ga kawin-kawin”. 

Saya sempat rada bengong juga, ga nyangka tante saya bisa ngomong gitu di depan saya kaya saya ga punya perasaan. Tapi saya males nyaut panjang lebar, saya iya-in aja tapi emosi bikin kuping saya terasa panas luar biasa. Waktu saya cerita ke ibu saya, beliau tersinggung luar biasa, tapi ya sudahlah, ga penting juga dibahas.

Sahabat baik saya waktu SD adalah teman pertama saya yang kebagian dilangkahi, adiknya 4 orang, dan dia dilangkahi oleh 3 adiknya. Saya adalah partner-nya di pernikahan adiknya yang pertama, saat itu kami sama-sama ga punya pacar πŸ˜„. Waktu adiknya yang kedua akan menikah, salah seorang teman komentar; “Gila! Dilangkahin dua kali? Gw sih mending lompat aja deh dari jembatan!”. Dan sampai saat ini, teman kami ini masih single dan sudah dua kali dilangkahi adiknya. Sahabat saya alhamdulillah sudah menikah, suaminya baik dan punya dua anak yang lucu dan sehat.

Waktu adik laki-laki saya bilang kalau dia sudah mempertimbangkan akan menikah dengan pacar yang sudah bersama sekian tahun, saya langsung bilang kalau saya ikhlas dilangkahi. Tapi rupanya ibu saya belum rela, selain karena calon istri adik saya belum lulus kuliah, ibu saya minta adik saya untuk tunggu sampai umur saya genap 30 tahun. Kalau masih belum ada jodoh baru boleh dilangkahi. Adik perempuan saya menikah dua tahun setelahnya.

Seorang teman saya, laki-laki, menikah lebih dulu dari kakak perempuannya. Ini lumayan drama. Waktu proses awal perijinan dll, kakak perempuannya setuju dan ga keberatan dilangkahi. Tapi pada saat lamaran, sang kakak histeris mengamuk minta pernikahan dibatalkan karena dia ga mau dilangkahi. Entah bagaimana akhirnya sang kakak setuju dan teman saya saat ini sudah punya tiga anak.

Saya percaya, kalau memungkinkan pasti ga ada deh satu manusia pun yang mau dilangkahi. Tapi kan kita juga ga bisa egois menghalangi jalan jodoh adik sendiri. Seperti yang sering kita dengar; “rejeki, jodoh dan mati adalah rahasia Allah, ga akan tertukar”. 

Jalani hidup dengan selalu berusaha untuk berbuat baik dan ikhlas, ga usah mikir jauh soal pahala karena itu bukan urusan kita. Cukup supaya bisa tidur tenang tiap malam. 

Selamat tidur dari belahan dunia sebelah sini 😘

Iklan

Tenant’s Drama

Waktu dapat kabar bahwa kami akan kembali ke Perth, hal yang paling bikin semangat adalah pindahan ke rumah baru. Menetap. Betapa kata menetap itu sungguh berarti setelah perjalanan pendek kami yang penuh dengan pindahan.

Dalam 2.5 tahun usianya, Eden sudah pindahan kurang lebih 6 lokasi. Jadi membayangkan pindah ke rumah dimana kita bisa bikin ini itu dengan bebas merdeka rasanya sungguh luar biasa.

Waktu pindahan dan periode berakhirnya sewa rumah pun nyaris berdekatan. Tapi rupanya rencana dan harapan harus sedikit bergeser dulu.

Penyewa yang menempati rumah kami punya catatan yang kurang baik; rumah dan pekarangan kotor, sering telat bayar. Agen yang menangani sudah memberi peringatan dan kami pun sepakat untuk tidak memperpanjang masa sewa mereka. Tapi kemudian mereka minta perpanjangan satu bulan untuk pindahan dan mengosongkan rumah. Tapi yang terjadi kemudian…?

Mereka kabur sodara-sodara!!! 

Rumah ditinggal dalam keadaan kotor dan terkunci, masih ada barang di dalam rumah, pintu garasi rusak penyok luar dalam. Tentunya mereka kabur dengan membawa seluruh kunci rumah. Mendengar laporan dari agen, rasanya marah, sakit hati dan sedih.

Yang paling parah, mereka menemukan beberapa jarum suntik di dapur! Jadi agen langsung menelpon polisi untuk dibuatkan laporan dan catatan. Sesak rasanya, apalagi mereka ini juga keluarga dengan 2 anak kecil.

Kemudian agen harus melakukan proses ambil alih rumah, karena masih ada barang di dalamnya. Mereka memasang tulisan di pintu yang isinya kurang lebih; untuk menyerah terimakan property dalam waktu satu minggu atau kepemilikan akan di ambil alih.

Setelah lewat dari satu minggu, agen pun masuk rumah dengan membawa tukang kunci. Kami meminta agar seluruh kunci di rumah diganti, mengingat mereka masih pegang kunci. Tapi ternyata drama belum selesai…

Agen melihat kaca jendela dapur pecah berantakan dan ada orang tidur di salah satu ruangan! Agen pun menghubungi polisi dan ternyata yang tidur adalah suami dari pasangan penyewa. Polisi pun langsung membawa dia pergi dalam keadaan terborgol. Karena memaksa masuk property orang lain sudah merupakan proses melanggar hukum.

Persis sebelum polisi tersebut pergi, datang mobil polisi lain. Rupanya orang tersebut sedang dicari polisi untuk sesuatu. Entah apa kami sudah ga pengen tau deh.

Takut, marah, kesal, sedih, kecewa. Semua campur aduk. Rumah yang kami pilih dan beli dengan penuh rasa cinta dan harapan, yang belum sempat ditinggali, diacak-acak begitu saja sama orang yang ga bertanggung jawab. Sigh…

Anywaaaaay…

Akhirnya setelah proses pembersihan yang dibantu oleh agen, serah terima kunci pun dilakukan.

Halaman berantakan terbengkalai, rumput liar disana sini dan pohon ga terurus tampak seperti belukar. Ditambah puntung rokok bertebaran disetiap sudutnya.

Salah satu pintu rusak seperti kena tonjok atau tendang, tembok bocel dan ada beberapa bekas bor, eternit bocel dan ada beberapa pengait, keran kamar mandi rusak, coretan di tembok, noda di tirai dan karpet, dll dst dsb… πŸ’”

Uang jaminan sebesar satu bulan sewa pun ga cukup untuk membereskan segala yang ditinggalkan penyewa. Duh betul-betul bikin emosi.

Kami sudah mulai nyicil untuk melakukan pembersihan dan perbaikan. Sewa tukang disini harganya selangit, jadi lebih baik dilakukan sendiri. Resikonya, waktu pengerjaan lama karena M tetap harus kerja sedangkan saya pegang 2 bocah jadi ga bisa bantu banyak.

Semoga setelah ini rumah kami aman selamat dan jauh dari segala kejahatan, dan kami sekeluarga selalu dalam lindungan Allah SWT. Doakan kami bisa segera pindah ya…

Dongeng sebelum senin

Musim dingin di Perth artinya hujan turun hampir setiap hari, kadang lengkap dengan angin kencang atau malah hujan butiran es. Yang terakhir ini jarang sih kejadian, tapi bukan ga mungkin.

Pagi ini pun hujan deras dan langit lumayan gelap, tapi setelah kelihatan ada sedikit langit biru, kami pun segera bergerak keluar rumah. 

Rute pagi ini; Kings Park

Sebetulnya secara kasat mata, tempat kami tinggal saat ini ada persis di bawahnya Kings Park. Tapi menuju kesana dengan jalan kaki, pilihannya cuma 2; naik tangga lewat Jacob’s Ladder, atau nanjak lewat Mounts Street.

Jacob’s Ladder itu tangga dari Mounts Bay  Road menuju Kings Park, sebanyak 246 anak tangga 😁. Tangga tentunya bukan pilihan untuk kami yang pergi dengan 2 stroler.


Jadi pilihan jatuh ke nanjak lewat Mounts Street. Jaraknya sih mungkin cuma 200-300m aja, tapi nanjaknya sumpah curam banget! Luar biasa bikin pengen kabur selimutan lagi buat pemalas kaya saya ini 😁 tapi karena saya suka banget pergi ke Kings Park, jadi marilah kita laksanakan!

sebelum nanjak

sesudah nanjak


Sepanjang nanjak ini lumayan lah bikin kesel M karena saya berisik nunjuk mau apartemen yang ini dan itu plus ribut ngos-ngosan ga nyampe-nyampe πŸ˜„ tinggi ajaaaa nanjaknyaaaaa, mo matik bener deh ah!

Karena posisi tanahnya semacam tebing, daerah ini jadi banyak dibangun apartemen mahal yang pemandangannya langsung ke pusat kota dan sungai Swan, plus berasa punya pekarangan sendiri karena sebelahan sama Kings Park.

Memasuki area Kings Park, agak aneh karena banyak banget orang berdiri dan mondar mandir. Dan mereka ga kelihatan sedang berolahraga, ataupun menikmati Kings Park karena setiap orang matanya lekat pada layar hp masing-masing. Ga salah lagi, kami sepakat bahwa mereka adalah para pemburu Pokemon. Saya sempat tanya seorang ibu yang jalan kaki sambil menggandeng anaknya yang sibuk nyureng liat hp; “are you doing the pokemon?”, dan dia jawab iya sambil nyengir. Saya kepo? Iya πŸ˜„ nanyanya juga sambil nahan ngakak. Niat banget deh mereka ini hahahhaa…

Sampai Kings Park, tujuan utama; ngopi!


Seperti juga area terbuka lain di Perth, tempat ini juga penuh orang yang bawa jalan anjingnya. Saya suka lihat binatang, tapi ga suka kalau mereka dalam jarak dekat. Saya takut binatang. Iya, ga boong 😁 saya ga nyaman kalau ada dalam jarak serentangan tangan dari mereka.


Selesai ngopi, kami putar-putar sedikit, Eden yang lagi senang jalan kaki biar puas dulu lari-larian sebelum kembali duduk di stroler.


pemandangan kota perth dan sungai swan


jalan masuk ke kings park


Nanti kapan-kapan saya publish deh cerita soal Kings Park, semoga draft yang nyangkut itu bisa segera selesai.

Udah selesai deh dongeng sebelum senin-nya. Semoga kalian juga punya dongeng yang mengenangkan buat pengantar tidur malam ini ya…

… And they lived happily ever after… Nighty nite, sleep tight 😘

Please welcome…

  
Kiran Andrew

Alhamdulillah lahir dengan sehat dan selamat melalui c-section pada hari Kamis, 14 April, dengan berat 3.3kg dan panjang 49cm.

Semoga tumbuh menjadi anak yang sehat, soleh, bahagia, pandai dan berbudi luhur. Aamiin…

  

Eden is back to the beach!

Mengingat sebelum pindah Eden seneng banget main di pantai, tentunya kami semangat banget ngajak anak bayi ini ke pantai sehari setelah sampai di Perth.

Dan ternyata, langsung mewek aja dong setelah ada pasir nempel dikakinyaaaa πŸ™ˆ histeris ga mau nurunin kaki ke pasir sama sekali. Gelantungan aja gtu kakinya, hadeuuuh…

Hari pertama, ga mau lepas dari gendongan ibu dan daddy. Yang gendong bahkan ga boleh duduk di tenda 😁 harus berdiri supaya posisi Eden jauh dari pasir.

  
Hari kedua, lumayan deh, ibu boleh duduk walaupun kakinya ga mau turun dari paha ibu.

Hari ketiga, ga berubah.

  
Hari keempat, ibu dan daddy mulai jadi penjahat. Sebelum pulang, Eden dipaksa turun di pasir, dan teriak-teriak lah anak bayinya sambil angkat kaki tinggi banget πŸ˜› tapi setelah disogok biskuit, mau juga duduk di pasir dan ga bergerak sedikitpun hihihi maap ya nak…

  
Hari kelima, tetap keukeuh ga mau kena pasir walaupun ga keberatan di ajak nyemplung πŸ‘ kebetulan hari ini kami pergi ke Port Beach yang bisa dibilang ga berombak (dibanding Trigg Island Beach yang lumayan gede ombaknya). Jadi mungkin Eden serasa di kolam renang ya…

Semoga aja sebelum waktunya pulang ke Jakarta, Eden udah inget dan suka lagi main di pasir dan pantai ya… 

Ayo Eden, siap-siap ke pantai lagi yok! πŸ˜‹

Sarapan

Apakah kamu termasuk orang yang biasa sarapan? Ibu saya selalu memastikan kalau penghuni rumah sudah sarapan sebelum berangkat sekolah atau kerja. Menu sarapan jaman kecil dulu biasanya susu, telur madu, mie rebus/goreng, nasi goreng, bubur ayam, roti bakar/roti selai atau nasi dengan lauk. Tampak berat ya untuk sarapan? πŸ˜‹

Setelah dewasa, sarapan kesukaan saya adalah segelas kopi dan sebungkus gorengan (bala-bala dan tahu isi) dari warung indomie dekat rumah. Sampai saat ini belum ada gorengan yang bisa ngalahin deh pokonya 😍

  
Pindah ke Perth lumayan nyiksa untuk urusan sarapan. Paling sering sarapan sereal dan susu, ditambah segelas kopi. Jarang banget sarapan besar yang lengkap kaya di Jakarta. Paling mentok ya roti bakar atau mie goreng/rebus. Padahal banyak waktu, tapi ga seru karena sarapannya sendirian ga ada teman ngobrol.

Pas liburan kali ini, kami nginap di rumah mertua dan selain sereal plus susu, nana (ibu mertua) bikin sarapan yang beda yaitu ‘boiled egg and dippy soldiers’.

  

Berupa roti bakar dipotong memanjang seperti prajurit yang berbaris tegap dan telur rebus setengah matang. Roti tsb lalu di cocol ke dalam telur. Boleh ditambah lada dan merica kalau suka. Rasanya? Seperti biasa, buat saya mah cuma ada enak dan enak banget πŸ˜‹ dan yang ini termasuk kategori enak.

Tapi abis lihat telur setengah matang ini saya jadi kangen telur madu bikinan ibu saya, dan tentunya jadi kangen beliau juga deh πŸ˜…

Salah satu sarapan kesukaan saya di Perth sini adalah crumpet. Semacam pancake tapi permukaannya bolong-bolong kaya bika ambon, dan dibakar lalu oles mentega dan madu. Biasanya saya pakai toaster roti biasa, tapi dirumah nana ada crumpet toaster jadi bisa lebih garing tanpa gosong. Yumm!

  
Jadi, apa menu sarapan kesukaan kamu?

Berenang yuk!

  
Saya ga jago berenang, ga bisa diving, tapi suka banget main air dan ga bosen snorkelling. Makanya sejak Eden lahir saya pengen banget dia juga doyan air, supaya bisa menjelajah dunia dengan lebih leluasa lagi (baca: supaya ibu teteup bisa jalan-jalan). Apalagi pantai di Perth kan bagus banget dan banyak kegiatan yang bisa dilakukan.

Beberapa ibu dalam Mom’s Group yang saya ikuti sudah membawa anak mereka ikut grup renang sejak anak berumur 4 bulan. Dan denger ceritanya soal kursus itu, saya kok ga sanggup ngebayanginnya 😁 ga tega. 

Program dari pemerintah juga ada, namanya state swim (bisa dicek di http://www.stateswim.com.au). Karena ada subsidi dari pemerintah, harga kursus berenang di state swimming school jauh lebih murah dibanding di tempat umum. Kalau ga salah sekitar $75/bulan, sedangkan di tempat umum bisa 2 kali lipat. Mereka punya program untuk anak usia 6 bulan, walaupun dari cerita para ibu yang saya dengar, akan lebih efektif kalau anak sudah bisa merangkak. Jadi lebih seru dan anak juga sudah lebih bisa menikmati. Program inipun saya ga jadi ajak Eden, karena berasa rempong proses kering-keringan di tempat umum. Duh, maafkan ibu yang banyak alasan ya nak…

Sepanjang summer sebelum kita pindah ke Jakarta, kita memang lagi rajin ajak Eden berenang dan main ke pantai. Jadi setelah pindah ke Jakarta, saya makin semangatlah ajak Eden main air. Dan di Jakarta, mulailah kita berburu perlengkapan renang untuk Eden, yang ternyata ga semudah berburu di Perth πŸ™ˆ

Pertama, kita cari swimming nappy dari supermarket satu ke lainnya, mall ke mall, toko ke toko dan ga ada satupun yang tampak. Cuma Mothercare yang bilang kalau pernah jual, tapi karena ga laku jadi mereka ga sedia lagi πŸ™ˆ. Untungnya daddy dapat tugas balik ke Australia untuk beberapa hari (swimming  nappy ini ternyata dijual juga di Singapura), jadilah pulang dengan koper penuh swimming nappy 😍. Swimming nappy ini bentuknya tipis, paling cuma tahan nampung 2 kali pipis, karena tujuannya memang untuk menampung pup supaya ga ada kejadian horor saat anak di kolam renang. Jadi nappy-nya ga menggembung gara-gara gel-nya sibuk nampung air.

  
Saya perhatiin emang disini ga banyak kolam renang yang mencantumkan syarat kalau anak harus memakai swimming nappy, jadi ya ga umum juga kali ya kebutuhan untuk punya nappy-nya.

Kedua, cari baju renang untuk anak segede Eden juga ternyata ga gampang. Untuk anak perempuan sih banyak model dan macam yang lucu-lucu. Walaupun akhirnya nemu, ukurannya lumayan gede jadi bisalah irit buat beberapa waktu. 

  
Kalau M bilang, mungkin bayi Indonesia jarang di ajak berenang karena takut masuk angin, dan para orangtua lebih pilih ajak anak ke mall daripada ke ruang terbuka. Analisa pertama sih saya tau banget kalau dia ngeledek, tapi ya mungkin ada benernya juga kali ya…

Sekarang ini saya hampir dua hari sekali ajak Eden berenang, dan anak bayi satu ini gayanya minta ampun deh. Sejak ngeh kalau kolam anak airnya hanya sebatas dada, dia ga mau lagi saya gandeng, lari kesana sini dan kadang lempeng aja bungkuk mau ambil sesuatu dalam air πŸ™ˆ gawat! Belakangam dia ga mau lagi main di kolam anak, mau di tempat dalam dan tentunya ibu harus gendong dan super kreatif hahahahaa… 

Pantai dan pantai…

Perth terletak di pesisir pantai, memanjang dari utara ke selatan dan menghadap ke arah barat. Jadi setiap hari bisa lihat matahari terbenam di pantai.
Dan saya yang doyan pantai ini baru tau kalau selama musim dingin, pantai akan memendek sedangkan sepanjang musim panas pantai akan luas dan lebar banget, sementara air laut dingin sepanjang tahun. Pantesan kalau musim panas tuh orang ke pantai, enak banget nyemplung walaupun matahari mencrang abis-abisan.

Sepanjang musim panas, hampir setiap minggu kami ke pantai, selain karena anaknya M ikutan Surf Life Saving Club (SLSC) juga enak aja main di pantai. Eden awalnya ga mau turun sama sekali dan ga mau nyentuh pasir, sampai akhirnya berani ngejar ombak dan menggigil kedinginan karena basah πŸ˜…

Surf Life Saving itu adalah semacam kursus dimana kita belajar untuk jadi penjaga pantai, di Australia mereka dikenal dengan sebutan Surf Life Saver, sedangkan Life Guard lebih ke area kolam renang. Untuk ikut SLSC ini usia termuda adalah Under 7 yang berarti anak usia 6 tahun. Kegiatan untuk junior; berenang, lari di pantai, board paddling dan board rescue. Bentuk papan yang digunakan berbedan dengan papan luncur untuk surfing, saya juga baru tau kalau papan luncur itu ada banyak macamnya πŸ˜‹

Balik lagi ke urusan pantai. Pantai yang paling sering kita datangi adalah Trigg Beach, karena anak-anak ikut SLSC di sini.   

tenda pantai kita

  

trigg beach

  

salah satu jalan masuk ke trigg beach

  

pasir putih sepanjang trigg beach

 

gmana ga betah kan?

Salah satu yang nyaman banget buat mereka yang ga suka ombak dan cuma pengen berenang adalah Mettam’s Pool Beach. Pantai ini dikelilingi terumbu karang, jadi ombak pecah disana dan bikin pantai tenang seperti di kolam renang, selain itu dasarnya bersih dari karang dan cuma pasir saja. Biasanya pantai ini penuh bayi atau orangtua. Dan pantai ini juga memiliki akses untuk kursi roda. Di pantai ini juga biasanya orang melakukan snorkeling, tapi saya sendiri belum sempet nyoba 😁

karang di sekeliling mettam’s pool beach

   

mettam’s pool beach


Salah satu pantai yang cukup terkenal adalah Cottesloe. Ada bangunan Indiana Tea House (sekarang jadi restoran) yang jadi icon pantai dan setiap tahun sekitar bulan Maret disini diadakan Sculpture By The Sea.   

cottesloe beach dan indiana tea house

 

salah satu pameran di Sculpture By The Sea 2015


Scarborough Beach adalah pantai yang paling lengkap fasilitasnya, dan disini biasanya pertandingan dan festival besar olahraga di adakan. Sayang saya ga punya foto pantai ini, tapi berikut silahkan dinikmati pantai diantara Sorento dan Mettam’s…  

     

Oiya, di Perth sini ada loh nude beach namanya Swanbourne Beach πŸ˜‹ dan saya kan pengen tau ya orangnyaaaaa… Jadilah M saya geret ke sana.  Jadi letaknya si pantai ini adalah di belakang markas SAS (Special Air Service), jadi dijamin gada yang bakal ngintip deh. Akses masuknya dari Scarborough Beach, jalan kaki deh sepanjang pantai. Trus pas sampe, jreng jreng! Pantainya kosong πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜… cuma ada satu opa-opa perut gendut sembunyi di balik batu. Hahhh batal deh intip-intipnya hahaha…

Pindahan (2)

– Episode Rumah Mertua Indah –

Pasti pada bingung ya, katanya sudah beli rumah baru tapi kok rumah mertua? Hehehe… Masih dari serangkaian episode (sok) drama nan misterius nih, sabar yaaaa

Jadi antara periode selesainya masa kontrak rumah dan masuk ke rumah baru ada selisih waktu sekitar 1 minggu. Rencana awal sih kita akan perpanjang masa kontrak jadi selisih waktu itu bisa disiasati, tapi lagi-lagi manusia berencana dan Allah yang menentukan. 

Kita memang tetap pindah, tapi bukan ke rumah baru. Dan jeda waktu pindahan ini 2 minggu, jadi daripada ribet 2 kali, kita putuskan untuk nebeng di rumah mertua. Kebetulan juga mereka akan liburan, jadi serumah barengnya cuma sekitar 5 hari πŸ˜‹ 

Nebeng tinggal di rumah mertua sebetulnya bukan hal baru buat saya, karena waktu kunjungan ‘cek ombak’ sebelum menikah, saya tinggal disitu. Dan waktu baru datang setelah menikah pun, kami tinggal disitu karena rumah kontrakan belum siap dan kami juga belum punya perabotan.

Drama menantu mertua alhamdulillah ga sampai kejadian, setidaknya dari sisi saya sih ga ada keluhan, entah ya kalau dari sisi mertua 😁 semoga aja tetap harum dan manis.

Yang mau saya ceritain tuh rumah mertua saya umurnya nyaris sama dengan M, hampir sama mungkin ya dengan usia rumah orangtua saya di Jakarta. Untungnya, rumah lama di Perth sini berarti lahan yang lumayan besar. Karena belakangan ini untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal, banyak rumah lama dijual dan dilahan yang sama dibangun beberapa rumah (high density).

Saya suka banget sama rumah mertua ini, seperti kepengen saya jaman dulu kalau nonton film πŸ˜‹ ada cerobong asap, halaman belakang dengan pohon besar, lorong menuju kamar dan lantai kayu yang walaupun berisik kalau diinjak tapi bikin kesan hangat dan nyaman.

Ayo mari saya undang buat sedikit ngintip beberapa spot yang bikin saya jatuh cinta dan kerasan banget di rumah mertua… 

Walaupun masih ada penampakan cerobong asap, tapi perapiannya sudah modern dan ga ada lagi api dan asapnya.  

 

Halaman belakang yang bikin saya jatuh cinta 😍  

Bird bath di halaman belakang dan depan, selalu ada aja aneka burung yang mampir dan bikin kita bisik-bisik nonton mereka.  

Dan terakhir, anak bayinya ibu bahagia banget bisa mondar mandir keliling di halaman belakang dengan nyaman dan aman.  

   

Indonesian in Perth

Kali ini saya mau ngbahas tentang belanjaan dan jajanan Indonesia di Perth. Umumnya orang Indonesia tinggal di bagian selatan Perth, jadi toko dan rumah makan Indonesia dan Asia memang lebih banyak tersebar di daerah sana. Saya yang tinggal di bagian utara memang harus niat deh judulnya kalau mau ber-Indonesia ria πŸ˜‹

Tempat belanja paling terkenal diantara orang Indonesia sepertinya adalah Toko Jakarta, Market City, Canningvale. Sampai saat ini saya belum pernah nemu tanda/tulisan kalau nama tokonya memang betul ‘Jakarta’, tapi begitulah banyak orang disini menyebutnya. Kalau pernah ke toko kelontong di Mayestik, nah toko ini mirip banget deh suasananya. 

Toko ini lumayan lengkap loh, dari bumbu, perlengkapan masak, cemilan dan minuman kemasan yang biasa dijual di Indonesia umumnya akan mudah ditemui disini. Saya bahkan beli sapu lidi disini πŸ˜‹ ga sreg banget kalau ga keprik tempat tidur pake sapu lidi. Kadang ada juga tape/peuyeum, pete dan makanan lain yang dibekukan. 

 

Enaknya kesana pagi-pagi, karena sering banyak kue jajan pasar, Kalau soal harga ya ga perlu dibahas deh ya, pastinya jauh langit dari bumi 😁 tapi ada satu kejadian yang bikin gemes patah hati. Saya beli loyang plastik buat bikin agar-agar, sampai rumah baru ngeh kalau masih ada label harga Indonesia-nya rp.9000 dan saya bayar di tokonya berapa cobaaaa? $9 sodara-sodaraaaa πŸ˜… gpapa sih sebetulnya kalau gada label harga rupiahnya ya, jadi ga peudih amat gtu…

Di daerah china town, Northbridge, juga banyak berderet toko Asia, saya pernah nemu super bubur, bahkan ada juga abon ayam! Hampir semua toko asia pasti jual teh botol, jadi saya ga bawel kangen minuman ini.

Selain itu, ada toko Kong’s di daerah Victoria Park dan ada juga Yinseng di Bentley Plaza. Saya sudah hampir 2 bulan ini kepengen banget minum susu coklat ultra, dan dapat info kalau Yinseng jual susu ultra. Bahagianyaaaa…  

Sedangkan untuk rumah makan Indonesia, favorit saya tuh Batavia Corner di East Victoria Park. Hampir tiap akhir pekan pasti kita makan disini. Dan selisih beberapa toko, ada juga Bintang Cafe. Di Perth CBD ada Resto Indonesia Indah, cuma sejak punya Eden kita ga pernah lagi ke sana secara lokasinya di basement dan cuma ada tangga jadi ribet deh bawa stroler. Trus ada juga Rumah Makan Tasik dan Rumah Makan Manise (makanan Manado) di daerah Northbridge. Dan tentunya ada ibu-ibu Indonesia yang berbaik hati menerima pesanan makanan yang enaaaaak banget 😍

Gmanapun saya cukup bahagia dengan banyak belanjaan dan jajanan Indonesia di Perth, semoga aja saya segera bisa masak ya jadi terdampar dimanapun masih aman ga ngacay melulu tiap kali liat postingan makanan πŸ˜‹