Ayo Sekolah!

Tahun depan Eden genap berusia 4 tahun, waktu tuh beneran ga kerasa ya, kemarin masih diuwel-uwel eh tau-tau mau sekolah aja. Segera setelah kami dapat rumah di Adelaide, langsung cek batas usia untuk masuk sekolah, lalu daftar untuk tahun ajaran 2018. Tahun ajaran sekolah di Australia mengikuti kalender, mulai akhir Januari, sampai sekitar pertengahan Desember. Terbagi atas 4 term, dengan libur panjang sebelum Natal sampai akhir Januari, liburan musim panas.

Alhamdulillah rumah kami tepat berseberangan dengan sekolah, bel sekolah dan suara anak-anak pun bisa terdengar sampai rumah. Dari daftar peringkat sekolah, sekolah pemerintah ini tidak menduduki posisi terbaik, hanya rata-rata saja. Tapi kalau lihat fasilitas sekolah, saya rasanya sudah bahagia luar biasa. Apalagi setelah acara Parents Information Day beberapa minggu lalu, dimana para guru berbicara dan menerangkan apa dan bagaimana cara mereka belajar dan mengajar di sekolah.

“We have a nice garden outside and we let the children do some gardening, we encourage them not to pick flowers because flowers make the butterflies and bees come and help them live. We encourage them not to squeeze bugs and insects because we need them to make the garden grow… so the children can appreciate that every living thing matters and is important”.

“Our school and community are very diverse, we respect and appreciate them. Children would not see the difference unless we point it out to them”.

Kalimat pertama sempet bikin saya pengen sembunyi di bawah kursi karena saya paling males mikir ini binatang bahaya atau ga, mending langsung pejret aja daripada daripada ๐Ÿ˜‹ sekarang saya harus usaha lebih baik deh, dari pada nanti Eden cerita ke gurunya kalau ibunya tukang mejretin serangga.

Kalimat kedua bikin saya langsung mikir kondisi di Indonesia, dan berdoa semoga kami bisa mengajarkan anak-anak untuk menghargai perbedaan.

Selain itu, mereka juga memperkenalkan bahasa isyarat kepada anak-anak dengan menempelkan gambar alfabet dan bahasa isyarat di banyak benda dan permainan. Misalnya gambar bahasa isyarat pintu di tempel di pintu masuk kelas, gambar bahasa isyarat rumah di tempel dalam rumah bermain kecil di halaman.

Sekolah ini mengusung konsep Climate Change Focus dengan melakukan hal-hal yang ramah lingkungan sebagai berikut;

Masuk dalam kelas, kita bisa melihat ada 2 kotak besar berisi kardus bekas, kertas koran dan sejenisnya. Benda-benda ini kemudian digunakan anak-anak dalam proses belajar. Mainan di dalam kelas pun umumnya berupa benda yang bisa disusun, dipasang dan digunakan untuk bercerita. Misalnya balok berbagai ukuran yang digunakan sebagai pendukung sudut dinosaurus, atau binatang dan kendaraan yang bisa di bongkar pasang dengan media balok, kereta api kayu beserta rel yang harus dibongkar pasang setiap kali dimainkan. Di sudut kelas ada juga dapur karena anak-anak juga diajarkan memasak dan membantu urusan dapur.

Ruang kelas dibuat berbeda tema disetiap meja dan sudutnya. Ada meja melukis/menggambar/mewarnai, meja menggunting dan menempel, meja puzzle, meja kain felt dan berbagai guntingan bentuk, meja play dough, sudut dinosaurus, sudut mainan binatang dan balok, sudut mainan bayi, sudut dapur, sudut dress up, sudut baca buku dan banyak lainnya.

Sedangkan di halaman, ada area playground, kolam pasir, kebun, kolam lumpur, rumah kebun, nature playground dengan balok kayu dan batang pohon dan lainnya.

Dalam kelas preschool setiap hari Jumat pagi, keterlibatan orangtua sangat diharapkan. Misalnya membantu menyiapkan buah (memotong dan menata dalam piring), membersihkan/mencuci perangkat makan dan meja, dan semua mainan, meja dan kursi harus dirapikan kembali sebelum kelas berakhir. Dan untuk kelas kindergarten, orangtua diharapkan kesediaan untuk membantu dengan membersihkan kelas (ga tau juga ya sejauh apa urusan bersih-bersih yang dilakukan), mencuci perlengkapan/peralatan melukis dan banyak hal lainnya. Jadi sekolah selalu dalam keadaan rapi dan bersih saat anak-anak datang dan demikian juga saat mereka meninggalkan sekolah.

Pada saat kami datang di kelas perkenalan untuk anak, pulangnya setiap anak dibekali tas berisi buku-buku. Terlihat ada pesan menu yang sebaiknya disediakan dan dibawa untuk bekal ke sekolah. Aturan yang cukup keras di sekolah ini adalah tidak membawa makanan yang mengandung kacang-kacangan karena tingginya tingkat alergi yang mungkin terjadi. Selain hanya boleh membawa minuman berisi air putih, bekal makanan hanya boleh buah, biskuit kering (tanpa krim atau gula), sayuran atau pun yoghurt dalam kemasan gelas sehingga anak dapat melatih motorik dengan sendok. Jadi jus buah, coklat, permen dan kue manis tidak diperbolehkan duduk manis dalam kotak bekal ๐Ÿ˜‹ ini juga salah satu alasan terkuat saya belajar memasak. Supaya bisa bikin bekal yang enak dan sehat untuk anak sekolah.

Selamat memulai petualangan baru ya kak, doa ibu dan daddy insya allah ga akan pernah putus mengiringi langkah kakak selamanya. Semoga selalu soleh, baik budi dan sehat ๐Ÿ˜˜

Iklan

Ke Angkor Wat bawa batita

Kantor tempat M kerja di Jakarta kemarin punya kebijakan R&R (rest and relax), yang jatuh tempo setiap 6 bulan sekali. Tempat tujuan dibatasi pada Singapura dan Kuala Lumpur. Dan kesempatan R&R pertama kami sepakat untuk pergi ke Singapura lalu ke Angkor Wat. Lumayan kan, tiket dan akomodasi di Singapura gratis, tinggal modal sendiri untuk urusan Angkor Wat.

Keluarga saya agak ga setuju kami berangkat ke sini, mengingat Eden belum genap 2 tahun dan kehamilan saya memasuki bulan keenam. Tapi setelah cek dengan dokter, kondisi saya dan bayi sehat, plus sepakat untuk keliling santai menyesuaikan dengan kondisi Eden, berangkat lah kami.

Saya sudah browsing sana sini dan juga cari tau ke beberapa teman tentang kondisi Angkor Wat. Pertanyaan utama, apakah memungkinkan kalau kami bawa stroller? Dan jawabannya; ga bisa bawa stroller karena banyak tangga, undakan dan juga jalanan tanah kering atau basah berlumpur. M menyanggupi untuk gendong Eden, dan saya bawa ransel keperluan Eden. Aman.

Kami menginap di Palm Village Resort & Spa. Tempatnya bersih, nyaman, makanan enak dan murah, ditambah karyawan yang luar biasa ramah dan rajin ngajak main Eden jadi kami bisa sedikit santai. Secara keseluruhan kami puas banget tinggal di tempat ini. Kami pun ambil tour guide dan tuktuk dari hotel, jadi rasanya lebih aman dan nyaman. Saran saya, lebih baik memang ambil tour guide yang bukan supir. Jadi tour guide bisa antar kita keliling dan kendaraan bisa tunggu di tempat yang lain. Memudahkan kita untuk mencari rute dan melihat-lihat candi, juga praktis ga harus mutar kembali ke tempat parkir.

Selain itu, menurut saya, memilih tuktuk sebagai sarana transportasi memang paling pas. Cuaca di Siem Reap panas dan lembab, habis panas-panasan lalu duduk di tuktuk yang melaju, semilir angin tuh beuh sedep bangets deh! Mata langsung kriyep-kriyep dan perut langsung berisik minta jatah ๐Ÿ˜‹ kebayang kalau naik mobil, masuk mobil yang panas, ac belum dingin kita sudah mesti turun lagi liat candi selanjutnya.

Pertama kali kami ketemu tour guide, beliau langsung menyarankan supaya kami berganti pakaian. Saya memang pakai atasan tanpa lengan dan celana pendek, sedangkan M celana pendek di atas lutut. Tour guide kami bilang, walaupun ini tempat wisata, tetap saja namanya rumah ibadah, rumah Tuhan bagi mereka yang mempercayainya. Dan alangkah baik kalau kita menghormati dengan berpakaian yang pantas. Masuk akal sih ya, di Bali pun kita diminta memakai kain penutup kalau pakaian kita kurang pantas. Jadilah saya pakai celana pendek M, dan M pakai board-short. Satu-satunya celana yang sesuai dengan permintaan tour guide.

Untuk paket kunjungan ke Angkor Wat, kami ambil paket 3 hari walaupun hanya terpakai untuk 2 hari saja. Hari pertama kami puas dan antusias banget, hari kedua mulai agak capek dan bosan lihat candi ๐Ÿ˜„

Sepanjang perjalanan keliling candi dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, Eden tampak lumayan menikmati semua prosesnya. Ga ada rewel, ga ada marah ataupun menangis. Beberapa kali berhenti karena Eden sibuk lihat batu-batu besar yang berserak di sana sini, atau kadang sibuk ikutan lihat relief di dinding candi, semangat banget setiap kali matanya bertemu dengan sosok binatang yang dia kenal. Eden pun sempat tidur di gendongan M, lanjut tidur lagi di tuktuk dan bangun penuh semangat lagi. Eden bahkan sempat jadi obyek tontonan rombongan turis karena dia sibuk main di reruntuhan candi ๐Ÿ˜„

Untungnya perjalanan keliling candi tidak membutuhkan waktu seharian penuh. Hari pertama kami sudah di hotel sebelum jam 3 sore, dan hari kedua kami bisa kembali ke hotel untuk makan siang. Kalau mau melihat setiap jengkal candi pasti satu dua hari ga akan cukup, tapi kami merasa sudah melihat semua spot yang cantik dan terkenal, jadi sudah puas banget deh.

Awalnya saya memang ragu-ragu mau ajak Eden berlibur ke tempat yang (rasanya) sama sekali ga cocok buat anak-anak. Tapi itu artinya saya harus menahan diri untuk ga berlibur ke tempat yang saya dan M mau. Dan setelah beberapa kali mencoba pergi dengan Eden, terbukti kalau punya anak kecil ga menghalangi kita untuk berlibur. Tapiiii, harus disadari betul bahwa perjalanan dibuat sesuai kebutuhan dan rutinitas anak. Misalnya kami ga bisa pergi ke pasar malam karena Eden sudah tidur jam 7 malam. Perbekalan anak pun harus lengkap, untuk Eden, saya selalu bawa botol minum, biskuit kesukaannya, buah seperti pisang atau apel dan satu atau dua mainan. Dan yang paling penting, kerelaan hati kita untuk selalu menghibur dan membuatnya tetap semangat, karena dengan demikian perjalanan jadi terasa lebih ringan.

Yuk liburan lagi!

Belajar Masak

Setiap kali saya bilang kalau saya ga bisa masak, orang cuma senyum atau komentar, “nanti juga terbiasa”. Sebagian besar ga tau bahwa saya, betul-betul ga bisa kerja di dapur. Termasuk M. Ibu saya ga suka masak dan dengan demikian beliau ga pernah nyuruh kami di dapur. Baru sekitar 1.5 dekade ini saja ibu saya mulai masak. Waktu kami kecil, setiap kali asisten mudik, pasti kami ketring atau bapak saya yang masak.

Separah apa ibu saya? Ada cerita yang hampir selalu diulang saat kumpul keluarga besar bapak, tentang ibu saya yang mencoba bikin agar-agar tapi karena kesal agar-agarnya ga juga mengeras, dibuanglah seloyang agar-agar ke saluran air yang kemudian berjajar mengental disana ๐Ÿ˜‹

Pertama kali menemani M masak, saya ceritanya berbasa basi nanya apa yang bisa dibantu. Kemudian M nyodorin peeler dan wortel, saya nyureng tapi gengsi juga kan, jadi saya ketuk-ketuk si wortel pake peeler, karena memang itu pertama kali saya pegang peeler dan ga ngerti gimana cara pakainya.

M : what are you doing?

Saya : doing this (?)

M : seriously?!

Saya : I told you I can’t cook (mulai nada tinggi plus bibir cemberut)

M : I didn’t think you were that bad

Grrrrr… I am (or was) that bad!

Suatu hari waku kerja di Papua dulu, bos saya yang tau saya ga bisa masak minta bantuin saya belanja sayuran ke supermarket. Beliau mau menjamu tamu dari Jakarta. Rupanya perubahan raut wajah saya terlalu tampak sehingga beliau membatalkan dan memanggil salah satu karyawan yang memang pintar masak ๐Ÿ˜„ jawaban saya waktu beliau tanya apakah saya tau barang-barang (sayuran) yang ada dalam daftar belanjaan; kan nanti ada labelnya kan bu? Hihihi

Masih di Papua, hari itu kami mau ada acara makan-makan, lalu ikutan lah saya ke pasar tradisional Timika. Kami berempat dan saya disuruh jalan paling depan, belanjaan pertama, kangkung. Setelah lama jalan, teman saya tanya, “itu dari tadi banyak kangkung bagus kok lo ga berhenti sih?”, saya jawab, “heh? Yang mana yang kangkung emangnya?”. Langsung deh posisi jalan berubah, saya paling belakang jatah nenteng keresek belanjaan ๐Ÿ˜„

Ada sepupu saya pernah bilang, “kirain kuliah di Bandung dan tinggal sendiri, plus kerja di Papua bikin kamu mandiri dan bisa masak mba…”. Di Bandung banyak warung makan, di Papua ada mess hall yang menyediakan makan 3 kali sehari, plus teman-teman dan bos yang rajin masak dan ngundang saya makan di rumahnya. Jadi dua hal tersebut ga berpengaruh sama pengalaman dapur saya.

Setelah menikah, saya mulai mencoba resep-resep yang super mudah. Dan lumayan berhasil. Tapi saya baru serius belajar sekitar awal tahun ini. Karena Eden mulai lahap makan dan makin rajin setelah Kiran mulai mengkonsumsi makanan padat. Untungnya ada oven jadi saya bisa mulai belajar bikin masakan tanpa takut kena cipratan minyak ๐Ÿ˜‹

Dan melihat keseriusan saya, M pun mulailah rajin beliin saya perlengkapan perang di dapur. Bikin saya tambah semangat coba berbagai macam resep ๐Ÿ˜ masih pilih resep yang super mudah dan praktis tentu saja. Eden dan Kiran masih rajin longokin ibunya dan protes kalau ibunya kelamaan di dapur. Namanya juga anak baru kan, jadi resep sederhana pun butuh waktu lebih lama dari “kata resep”.

Alhamdulillah anak-anak dan M lebih sering suka hasil masakan saya, dan saya juga membiasakan anak-anak mencoba dulu masakan dan makanan baru, kalau ternyata ga suka ya ga apa-apa. Tapi saya ga mau kalau keputusan ga suka itu cuma dari hasil jilat, harus masuk dulu satu dua suap ๐Ÿ˜„ kalau ternyata tetap ga suka ya sudah. Saya berharap selera makan anak-anak lebih mirip saya yang bebas merdeka daripada M yang ga banyak pilihan.

Proses belajar masak ini ga selalu sukses, contohnya pas saya bikin lasagna beberapa hari lalu. Setelah lapisan atas dipasang, saya bingung kenapa saus putihnya masih ada. Lalu saya angkat lagi lapisan atas dan tambahkan saus putih di bawahnya. Setelah beberapa saat masuk oven, barulah saya sadar kalau harusnya si saus putih tadi saya taruh di atas lapisan penutup. Jadilah lasagna saya ngetril atasnya ๐Ÿ˜„ untungnya rasa dan tekstur tetap bagus dan enak (kecuali si lapisan atas tentu saja) jadi kami tetap lahap makan banyak.

Hasil masak terakhir yang rasanya sukses berat adalah Chicken and Cheese Sausages, penampakan cantik dan rasanya pun enak banget. Yang begini selalu bikin saya makin semangat di dapur.

Ada yang punya resep super gampang? Yuk kita cobain sama-sama…

Bermalam di Caravan/Holiday Park

Sejak pertama kali merasakan menginap di caravan/holiday park, rasanya saya ketagihan untuk selalu menginap di tempat seperti ini lagi. Untuk ukuran anak Jakarta yang pengalaman camping-nya cuma sepanjang persari, persami dan ospek jurusan, camping ala orang Australia ini sungguh terasa sangat mewah (pengalaman saya baru di seputar benua ini jadi belum bisa komentar tentang negara lain). Tenda yang super besar, tidur dalam sleeping bag hangat yang bisa disambung, jadi tetep bisa ndusel-ndusel M kalau saya kedinginan (iya saya baru tau kalau ada sleeping bag yang bisa disambung) ๐Ÿ˜‹ dan beralaskan kasur lipat dari busa atau kasur tiup. Bahkan ada yang bawa semacam dipan lipat juga loh! Jadi ga ada deh tuh cerita sakit punggung kalau pulang camping disini.

Pertama kali menginap, kami memang berniat tidur dalam tenda. Satu lapak untuk tenda, lengkap dengan satu power point dan satu keran air, harganya berkisar $50/malam. Kamar mandi terpisah, untuk laki-laki, perempuan dan bahkan anak-anak. Lalu ada tempat cuci baju, cuci piring, area jemur. Untuk memasak, ada area barbeque lengkap dengan meja dan kursi piknik. Sedangkan untuk anak-anak, ada kolam renang dan area bermain.

< img src=”https://blueskyandus.files.wordpress.com/2017/11/img_0483.jpg&#8221; class=”wp-image-836 size-large” height=”2400″ width=”2400″><<<
ak kemah atau caravan ini juga ada berbagai macam. Ada lapak dengan en-suite; kamar mandi pribadi yang letaknya di sebelah lapak atau tidak jauh dari lapak. Bahkan di holiday park tempat kami menginap kemarin, ada lapak yang ramah binatang peliharaan.

<<<
ain itu ada juga tempat penginapan berupa kabin sederhana sampai kabin besar dengan pemandangan cantik. Tetap judulnya ada harga ada barang.

Kabin yang kami ambil saat perjalanan darat kemarin lumayan besar, masing-masing 3 kamar dan salah satunya dengan bunk-bed. Anak-anak paling semangat deh kalau ada tempat tidur model ini, bahkan Eden pun mau ikut kakak-kakaknya tidur disini juga.

Malam pertama kami menginap di Blue Lake Holiday Park yang letaknya di seberang Blue Lake, Mt. Gambier. Kami mengambil kabin 3 kamar menghadap ke arah hutan. Dan pagi hari pas bangun, kami disambut kabut tebal dan udara yang super dingin. Bikin pemandangan sekitar area perkemahan tambah cantik.

Malam kedua kami menginap di sea view cabin Torquay Foreshore Caravan Park, dan beruntung banget bisa lihat matahari terbit yang luar biasa cantik dari teras kabin, walaupun udara dingin minta ampun, kami bisa jalan kaki ke pantai menikmati matahari terbit.

Untuk urusan dapur, kabin-kabin ini menyediakan peralatan masak dan makan yang lumayan lengkap. Syaratnya hanya seluruh perlengkapan harus dalam keadaan bersih saat check out.

Salah satu peraturan caravan/holiday park yang bikin saya lumayan nyureng waktu pertama kali baca adalah, ga boleh ada keributan di atas jam 10 malam dan ga boleh bikin api unggun. Kebayang kalau ada aturan macam ini di Indonesia, pasti ga laku ya bumi perkemahannya, udah capek nenteng gitar sepanjang jalan, eh jam 10 udah mesti bobo ๐Ÿ˜‚

Jadi, ada yang mau ajak saya liburan bareng ga ya? ๐Ÿ˜‹

Sunset dari teras kabin kami di Torquay Foreshore Caravan Park

Our First Long-Haul Flights & Jet Lag

Keceriaan saya menghadapi kepindahan kami ke Canada berangsur menipis setelah menyadari betapa panjang perjalanan yang harus ditempuh bersama dua bocah lelaki yang masih masuk kategori batita ini.

Kami mengambil pilihan rute Perth – Sydney – Vancouver – Saskatoon, dengan waktu transit masing-masing 6 jam. Total waktu perjalanan termasuk transit: 34 jam (7 jam + 13 jam + 2jam terbang).

Karena proses visa Canada saya yang panjang (nyaris 3.5 minggu), M pun harus berangkat duluan. Kami pun mempertimbangkan beberapa pilihan; kami ketemu di Sydney atau M balik ke Perth lalu sama-sama ke Saskatoon. Alhamdulillah bosnya di Canada setuju untuk M balik ke Perth jemput kami.

Sebetulnya saya lumayan percaya diri untuk pergi bertiga, apalagi kami dapat kelas bisnis. Kan biasanya pelayanan kelas itu jauh lebih ramah ya, jadi bisa lah saya minta dibantu secara bawa dua anak kecil. Tapi untung aja M ngotot balik ke Perth, soalnya walaupun duduk sebelahan, untuk urus Eden tetap saja kami harus keluar dari kursi yang ada dalam cubicle. Dan gendong bayi duduk di kursi bisnis lumayan ga nyaman karena ada kantong air bag di tali sabuk pengaman. Kayanya anak-anak bakalan jadi rewel klo M ga ikutan terbang sama kami. Maklum deh, namanya juga perdana naik kelas bisnis jarak jauh jadi lagi norak-noraknya banyak yang baru tau ๐Ÿ˜„ 

Sabuk pengaman untuk bayi ternyata ga tersedia di penerbangan Air Canada. Jadi bayi harus digendong dengan posisi kepala di pundak kita. Agak deg-degan juga takut lepas dan jatuh klo tangan semutan atau ketiduran, dan ga bisa kasih ASI juga kan dengan posisi gtu. Baru pertama ini naik pesawat yang ga nyediain sabuk pengaman untuk bayi, dan saya tetap gendong Kiran seperti biasa saat lepas landas dan mendarat, supaya tetap bisa minum ASI.

Sementara Eden gayanya udah kaya yang biasa banget naik pesawat di kelas bisnis, duwa jutak bgt deh ๐Ÿ˜„๐Ÿ™ˆ Tapi karema makannya masih susah, dan cuma makan seadanya selama perjalanan akhirnya muntah deh persis setelah mendarat di Saskatoon. Perjalanan panjang, ga mau makan dan capek tentu saja. Alhamdulillah besoknya sudah ceria lagi. Untung Kiran masih dibantu ASI jadi lebih aman dan nyaman.


Perjalanan kami dimulai hampir tengah malam waktu Perth, dan tiba di Saskatoon persis tengah malam. Jadi kami bisa langsung tidur dan besoknya bangun siang, malah terbangun hampir tengah hari ๐Ÿ˜›. Dalam waktu hampir 2 minggu, barulah anak-anak bisa tidur pulas sesuai zona waktu yang baru.

Cerianya saya mau pulang ke Perth pun sedikit terganjal dengan rasa malas luar biasa membayangkan perjalanan panjang lagi. Kali ini rutenya Saskatoon – Vancouver – Hong Kong – Perth, dengan waktu transit 6 jam dan 3 jam. Total waktu perjalanan: 32 jam (2jam + 13.5jam + 7jam 45menit terbang).

Kali ini perjalanan lebih nyaman lagi karena Kiran dibelikan kursi sendiri. Anak bayi yang berulang tahun pertama tepat di hari keberangkatan kami ini pun tidur nyaman hampir sepanjang perjalanan. Sayangnya sempat ada turbulence jadi Kiran harus digendong dan terbangun. Tapi saya dan M sempat dong menikmati duduk manis santai ala-ala business class ๐Ÿ˜„ mumpung anak-anak tidur, kami pun makan dan sempat ikut tidur lumayan panjang.



Oiya keluar dari Canada ga ada urusan sama imigrasi. Jadi kita terbang kaya domestik aja, ga ada yang periksa apakah kita overstayed atau apapun. Kalau kata M, mereka menggunakan sistem yang sama seperti Amerika. Saya baru pertama ini keluar dari suatu negara dan ga mesti lewat proses imigrasi. 

Saya jadi ingat, loket check in untuk penumpang kelas bisnis Garuda di keberangkatan internasional bandara Soetta itu punya pintu dan petugas imigrasi sendiri loh. Petugasnya tanpa komputer, entah kalau paspor dll dibawa dulu ke loket asli dan di cek ya, karena habis check in ada petugas yang ambil alih urusan imigrasi dan kami dipersilahkan langsung ke lounge. Paspor akan dikembalikan disana. 

Kali ini perjalanan kami dimulai sekitar jam 6 pagi hari Jumat waktu Saskatoon dan tiba jam 6 pagi hari Minggu waktu Perth. Segala upaya dilakukan untuk menahan waktu tidur anak-anak, tapi akhirnya mereka tepar juga jam 3 sore. Kami pun segera tidur karena sudah kebayang kalau anak-anak pasti pola tidurnya masih kacau. Betul aja, jam 2 pagi lampu rumah sudah terang dan anak-anak sudah duduk manis minta sarapan ๐Ÿ˜„ 

Lumayan nyengir deh saya sendirian ngadepin pola tidur anak-anak yang kacau balau, karena M sudah harus berangkat lagi ke Adelaide untuk penugasan yang baru. Mata sih melek ya, tapi otak dan badan ini kya ga nyambung ๐Ÿ˜„ mana Kiran masih tetap bangun malam buat minum ASI. Bisa ngabisin segelas kopi pagi dalam keadaan masih ngebul aja kyanya udah bagus banget hahahaha…

Dan seperti kata mantra emak-emak rempong; “these too shall pass”, akhirnya anak-anak pun bisa tidur nyenyak dan jet lag pun berakhir…

Life in Suitcase(s)


Dalam kurun waktu setahun ini bisa dibilang kami mencatat rekor pindahan terbanyak; 1 tahun, 3 negara dan entah berapa rumah.

Awal Juli tahun lalu, rencana awal liburan ke Singapura dan Legoland berakhir dengan M harus langsung angkat kaki dari Indonesia. Jadi saya dan anak-anak pulang ke Jakarta tanpa M dan langsung menginap di rumah orang tua saya selama hampir satu bulan. Kemudian bulan Agustus M datang dan menjemput kami untuk pulang ke Perth.


Karena rumah kami belum habis masa sewanya jadi kami tinggal di akomodasi sementara. Jatah 3 bulan cuma kami pakai 1 bulan, kemudian pindah ke rumah orangtua M yang kebetulan akan pergi liburan satu bulan. Jadi kami house sitting, dengan perhitungan, sebelum mereka pulang kami sudah pindah. Tapi ternyata penyewa rumah kami bermasalah dan rencana lainnya pun batal. Setelah 2 bulan di rumah orangtua M, saya dan anak-anak pulang lagi ke Jakarta sambil menunggu jadwal pengembalian apartemen di Jakarta.

Setelah seluruh urusan perbaikan rumah di Perth selesai dan dapat jadwal pengembalian apartemen di Jakarta, M terbang lagi ke Jakarta menjemput kami, packing untuk pindahan barang balik ke Perth dan mengembalikan kunci apartemen. Kali ini kami resmi pindahan balik ke Perth, dan alhamdulillah langsung masuk ke rumah sendiri โค๏ธ

Baru seru-serunya menikmati tinggal di rumah sendiri, M dapat tawaran kerja di Saskatoon, Canada. Posisi permanen, tapi M dapat kesempatan untuk “coba dulu” selama 3 bulan sambil mereka proses rekrutmen dan boleh bawa keluarga. Dan seperti sudah diduga, paspor hijau saya butuh waktu untuk dapat visa dari imigrasi Canada. M berangkat lebih dulu dan kemudian balik 3.5 minggu kemudian untuk menjemput kami.

Soal kehidupan dan cerita salju di Saskatoon akan di posting terpisah ya… Pertimbangan jarak yang bikin tiket pesawat super mahal, dan beda waktu yang bikin susah komunikasi adalah alasan terbesar kami memutuskan untuk ga lanjut di Saskatoon dan kembali ke Perth. Dan alhamdulillah, sebelum meninggalkan Saskatoon, M sudah dapat tawaran kerja lain lagi. Dan kami pun mesti pindahan lagi ๐Ÿ˜‹


Kali ini, ke Adelaide. 

Setelah hampir sebulan setengah kembali ke Perth, akhirnya kami pun pindahan lagi ๐Ÿ˜„ 30 hari di akomodasi sementara, kemudian nanti pindah ke rumah kontrakan. Mudah-mudahan kami ga perlu pindahan lagi untuk beberapa waktu ke depan. 

Alhamdulillah untuk urusan pindah antar negara kami dapat paket packing and shipment dari kantorJadi cukup beresin dan pisahin barang saja, mereka (movers) yang bungkus, masukin kardus dan angkut. Tiba ditujuan pun mereka yang bongkar dan bawa lagi kardus-kardusnya. 

Pindahan kali ini sepertinya lebih besar dampaknya buat Eden. Sejak kita keluar dari rumah, Eden selalu ngajak pulang. Mungkin karena sekarang beda rasanya buat dia, selain sudah lebih mengerti, mungkin juga merasa punya kamar sendiri dengan barang dan mainan sendiri. Waktu mobil kami diangkut truk untuk pindahan pun Eden teriak protes dengan mata penuh airmata. Saya jelaskan kalau mobilnya ga bisa naik pesawat dan akan ketemu nanti di Adelaide, wajahnya berangsur tenang. Sampai hari ini, seminggu lebih kami meninggalkan rumah di Perth, Eden masih beberapa kali bertanya kapan kita pulang ke Perth. 

Semoga aja Eden dan Kiran segera bisa adaptasi, tetap ceria dan selalu sehat. Semoga kami segera dapat rumah yang cocok dan berjodoh. Dan tentunya, semoga aja rumah di Perth dapat penyewa yang baik dan bertanggung jawab ya… Aamiin ya rabbal alamiin.

Dilangkahin

Beberapa waktu lalu sepupu saya ulang tahun, dan ramailah grup whatsapp keluarga besar dengan ucapan selamat dan doa. Salah satu sepupu saya (sebut saja Mawar ๐Ÿ˜›) mengucapkan; “selamat ulang tahun ya dek, semoga sehat selalu, panjang umur, bahagia dan cepat menemukan jodoh (setelah kakak)”.

Langsung saya samber, kenapa doanya pake setelah kakak ya? Dan tentunya ga ada jawaban. Yang berulang tahun menjawab dengan, “ketemu aja dulu boleh dong…”.

Beberapa tahun lalu saya pernah pergi sama Mawar dan ibunya yang adalah adik kandung ibu saya. Lupa saya persisnya apa yang kami bahas saat itu, tapi kalau ga salah soal anak laki-lakinya yang sudah punya calon dan siap menikah. Sementara Mawar sang kakak belum punya pacar dan tante saya ga mau kalau Mawar dilangkahi. Saat itu kedua adik saya sudah menikah, yang artinya saya sudah dua kali dilangkahi dan beliau ga tau kalau saya saat itu sudah jalan sama M. Lalu tante saya bilang; ” iya tante ga mau nanti kalau Mawar dilangkahi, terus nasibnya jadi kaya teteh ga kawin-kawin”. 

Saya sempat rada bengong juga, ga nyangka tante saya bisa ngomong gitu di depan saya kaya saya ga punya perasaan. Tapi saya males nyaut panjang lebar, saya iya-in aja tapi emosi bikin kuping saya terasa panas luar biasa. Waktu saya cerita ke ibu saya, beliau tersinggung luar biasa, tapi ya sudahlah, ga penting juga dibahas.

Sahabat baik saya waktu SD adalah teman pertama saya yang kebagian dilangkahi, adiknya 4 orang, dan dia dilangkahi oleh 3 adiknya. Saya adalah partner-nya di pernikahan adiknya yang pertama, saat itu kami sama-sama ga punya pacar ๐Ÿ˜„. Waktu adiknya yang kedua akan menikah, salah seorang teman komentar; “Gila! Dilangkahin dua kali? Gw sih mending lompat aja deh dari jembatan!”. Dan sampai saat ini, teman kami ini masih single dan sudah dua kali dilangkahi adiknya. Sahabat saya alhamdulillah sudah menikah, suaminya baik dan punya dua anak yang lucu dan sehat.

Waktu adik laki-laki saya bilang kalau dia sudah mempertimbangkan akan menikah dengan pacar yang sudah bersama sekian tahun, saya langsung bilang kalau saya ikhlas dilangkahi. Tapi rupanya ibu saya belum rela, selain karena calon istri adik saya belum lulus kuliah, ibu saya minta adik saya untuk tunggu sampai umur saya genap 30 tahun. Kalau masih belum ada jodoh baru boleh dilangkahi. Adik perempuan saya menikah dua tahun setelahnya.

Seorang teman saya, laki-laki, menikah lebih dulu dari kakak perempuannya. Ini lumayan drama. Waktu proses awal perijinan dll, kakak perempuannya setuju dan ga keberatan dilangkahi. Tapi pada saat lamaran, sang kakak histeris mengamuk minta pernikahan dibatalkan karena dia ga mau dilangkahi. Entah bagaimana akhirnya sang kakak setuju dan teman saya saat ini sudah punya tiga anak.

Saya percaya, kalau memungkinkan pasti ga ada deh satu manusia pun yang mau dilangkahi. Tapi kan kita juga ga bisa egois menghalangi jalan jodoh adik sendiri. Seperti yang sering kita dengar; “rejeki, jodoh dan mati adalah rahasia Allah, ga akan tertukar”. 

Jalani hidup dengan selalu berusaha untuk berbuat baik dan ikhlas, ga usah mikir jauh soal pahala karena itu bukan urusan kita. Cukup supaya bisa tidur tenang tiap malam. 

Selamat tidur dari belahan dunia sebelah sini ๐Ÿ˜˜

ย Rumah Kardus – Prakarya


Sudah lama saya pengen bikin mainan buat Eden, rumah sudah mirip pojokan pemulung saking banyaknya kotak bekas, botol dan tutup botol, gulungan tisu dll dsb. Buat saya dan M yang ‘gatelan’ lihat sesuatu yang ga teratur, pojokan ini sungguh bikin senewen ๐Ÿ˜„ tapi demi niat suci emak-emak yang pengen berkarya buat anaknya, ya tahan rasa lah jadinya…

Sejak pindah lagi ke Perth dan barang berdatangan, mulailah ada tumpukan kardus berbagai ukuran yang sungguh menggoda untuk dibuat ini dan itu. Dan pilihan pun jatuh pada kardus tertinggi, lalu mulailah proyek rumah kardus buat Eden.

Kardus besar itu cukup lama cuma duduk manis ditengah ruangan, dan cuma satu sisi yang selesai dikerjakan; lorong/pipa dari kertas gulung bekas tisu. Eden selalu suka main berlama-lama disini, hampir setiap hari pasti ada waktu yang dihabiskan disini. Main pakai pompom, mainan atau apa saja yang muat masuk dalam gulungan tisu.


Bagian kedua, bikin atap rumah kardus, pasang genteng, buat jendela dan pintu ๐Ÿ˜‹ Gentengnya saya cuma buat dari kertas lipat yang digunting dua sudutnya, lalu ditempel dengan isolasi. Desain dasar pembuatan rumah kardus bisa dilihat di gambar bawah.

Desain rumah kardus, dapat dari Pinterest tapi lupa ng-save link-nya

Karena Eden suka sekali main di halaman, lihat benda langit dan segala penghuni taman, jadilah saya pilih tema taman untuk menghias salah satu sisi rumah kardus.

Matahari dibuat dari piring kertas yang digunting dan ditempel dengan kertas lipat, demikian juga awan, dibuat dari piring kertas yang dilumuri lem dan ditempeli bola kapas. Sedangkan untuk hujan, hanya tali plastik ditempel stiker bulat warna warni yang kemudian ditempel di sisi belakang piring kertas awan.

Bunga-bunga dibuat dari kertas tatakan cupcake, diberi stiker bulat ditengahnya. Untuk batang dan daun, kertas lipat dilipat dan gunting sesuai ukuran yang diinginkan. Sedangkan pot bunga, gelas styrofoam saya belah dua dan ditempel. Kumbang dan lebah, saya ambil dari stiker bahan yang dibeli beberapa waktu lalu di toko craft.

Selanjutnya, bagian pintu. Sempet mikir lama itu gagang pintu mo dibikin gmana, sampe akhirnya cuma dibolongin aja deh ๐Ÿ™ˆ trus buat nutupin logo perusahaan pemilik kardus, dipasanglah potongan Lego Star Wars dari kardus mainan. Iya betul, daddy yang main Lego-nya, Eden main guntingan kardusnya aja ๐Ÿ˜„ Ditambah kotak surat dan huruf E untuk penanda rumah juragan kecilnya ibu, dan bel dari lonceng dan pipe cleaner. Lonceng ini bagian kesukaan ibu, kayanya lucu aja ๐Ÿ˜‹


Terakhir, bagian sisi yang ada jendelanya. Sisi atas, saya buat balon udara dari kertas lipat, pipe cleaner dan cetakan cupcake. Ditambah stiker awan dan pesawat yang dibuat dari jepit jemuran, potongan sedotan dan stiker bulat.

Sisi bawah, saya buat binatang-binatang dari piring kertas, kertas lipat, kertas busa, pompom dan mata mainan. Jadilah penguin, kodok, domba dan ayam. 


Bagian dalam, untuk alas saya potong kertas lipat berbentuk lingkaran, kotak dan segitiga, ditempel dikertas putih dan dilapis plastik laminating. Lalu ditambah jam dinding dari piring kertas dan pipe cleaner. Dan selesailah rumah juragan kecil ๐Ÿ˜๐Ÿ’ƒ


Sekarang Eden punya tembok yang bebas ditempeli gambar tempel, stempel dan digambar dengan pensil, krayon atau apapun. Apakah berarti tembok ibu aman? Tentu tidak sodara-sodara, karena ada satu sisi yang dihias stempel penguin pas ibu lagi sibuk vakum kamar ๐Ÿ˜„

Terbang Bawa Bayi & Batita


Terbang pertama bawa Kiran dan Eden kejadian di Juli lalu. Kiran waktu itu umur 3 bulan, dan Eden umur 2 tahun 5 bulan. Rute Jakarta – Singapura pp.

Berangkat ga ada masalah karena kami pergi berempat. Pulangnya, M mendadak dapat panggilan buat langsung berangkat ke Australia, dan saya plus dua anak harus pulang ke Jakarta. Kepala saya langsung cenut-cenut ๐Ÿ™ˆ 

Masalahnya, bawaan kami ukuran 2 dewasa, jadi ga mungkin saya sendiri dengan anak-anak. Ada 2 koper besar, dan 2 stroler. Akhirnya diputuskan, adik saya datang ke Singapura menjemput kami.

Di bandara Changi, para bayi dan stroler aman sampai ke pintu pesawat. Mereka pun anteng selama penerbangan walaupun sempat delay hampir satu jam. Ketidaknyamanan muncul ketika pesawat mendarat di Jakarta.

Sudah lama sekali saya ga lagi merasakan nyamannya pulang ke Jakarta dengan garbarata, seringkali pesawat Garuda parkir jauh dari bangunan terminal dan kami menghabiskan waktu cukup lama dalam bis. 

Parahnya, M pernah tiba dari Perth dan bis membawa penumpang ke terminal domestik. Dan sekali lagi M tiba dari Balikpapan tapi bis membawa penumpang ke terminal internasional. Penumpang kebingungan sampai akhirnya ada petugas darat yang mengarahkan mereka kembali ke bis dan diantar kembali ke terminal yang seharusnya.

Anyway, kami tiba di Jakarta dan seperti biasa pesawat parkir jauh dari bangunan terminal. Stroler diserahterima di tarmac, aman? Belum!

Stroler harus naik bis dan ga ada satu lengan pun terjulur membantu kami berdua mengangkat stroler ke dalam bis. Untung adik saya gesit, jadi kami berdua bisa langsung angkat stroler ga pake ribut.

Tiba di bangunan terminal, turun dari bis pun gada bantuan, ga usah lah ngarep di bantu, di kasih jalan duluan pun ga ada. Jadi kami harus menunggu sampai bis kosong baru bisa turun. Gotong-gotong lagi judulnya. Karena bis berhenti di jalan aspal, lalu kami harus angkat lagi stroler ke trotoar, dan kemudian naik tangga. Sementara dua anak bayi ibu dalam kondisi tidur. Kalau gotong satu dan yang satu ditinggal kan riskan juga ya?

Adik saya akhirnya gendong Eden di satu tangan, sementara tangan lain nenteng stroler. Sedangkan saya, alhamdulillah ada petugas kebersihan yang bantu angkat stroler sampai atas. Semoga selalu sehat dan penuh berkah ya Pak…

Ga kebayang deh kalau saya terbang cuma sama anak-anak, stres banget tuh kayanya ๐Ÿ™„

my dearest sister yang super jagoan ๐Ÿ˜


Terbang kedua, awal November kemarin. Hanya bertiga dengan anak-anak. Kiran 6 bulan, dan Eden 2 tahun 8 bulan. Diputuskan bahwa kami ga akan bawa stroler, hanya gendongan untuk Kiran dan tali pengaman untuk Eden. Dan tas tenteng untuk perlengkapan di pesawat.

Saya ga bawa bagasi sama sekali, karena kami tiba di Jakarta cukup larut, jadi anak-anak pasti sudah capek dan kemungkinan akan rewel kalau harus tunggu bagasi. Pengalaman kami tiba dari Perth dengan penerbangan ini, bagasi baru keluar satu jam setelah proses imigrasi kami selesai. Jadi saya ga mau ambil resiko.

Untungnya selama di Perth, Eden sudah terbiasa jalan kaki dan ga lagi duduk di stroler. Kalaupun tertidur di mobil, Eden gampang bangun dan dengan senang hati langsung jalan kaki lagi. Jarang lah dia cranky kalau pas lagi pergi-pergi. Makanya saya cukup percaya diri untuk terbang bertiga.

Di bandara Perth disediakan stroler tapi jumlahnya ga terlalu banyak. Dan di area kedatangan, stroler baru diserah terimakan di area pengambilan bagasi.

Selama di bandara Perth, Eden selalu gandeng tangan saya dan ga lari kabur sana sini. Alhamdulillah latihan kami di shopping mall membuahkan hasil ๐Ÿ˜‹ tali pengaman yang saya pasang karena takut dia kabur sama sekali ga perlu digunakan. Kiran pun duduk anteng di gendongan, sibuk celingak celinguk sana sini.

Di pesawat, Kiran tidur hampir sepanjang perjalanan. Sayangnya cuaca buruk di setengah perjalanan jadi Kiran ga boleh tidur di bassinet, harus dipangku dengan sabuk pengaman terpasang.

Eden seperti biasa sibuk dengan ini itu sampai akhirnya tidur setelah setengah perjalanan. Saya bahkan bisa makan tenang di pesawat ๐Ÿ˜‹ 

Tiba di Jakarta, saya minta bantuan pramugari untuk bawa Eden turun dari pesawat. Karena baru bangun dan mengantuk, saya ga yakin dia akan bisa aman turun tangga pesawat. Sedangkan saya gendong Kiran dan nenteng tas, rasanya beresiko kalau gandeng Eden dan ga pegangan.

Pramugari dan kru Garuda buat saya selalu sangat membantu dalam setiap penerbangan, saya ga ada keluhan deh soal ini. Mereka mampir dan ajak main anak-anak, dan ga judes dimintain tolong.

Salah satu pramugari dengan baik hati menggendong Eden sampai tarmac, dan kru darat lain membantu gendong Eden sampai bis, lalu lanjut dari turun bis sampai area imigrasi. Alhamdulillah…

Buat saya, penerbangan dengan dua anak ini semacam peringatan. Mungkin dulu waktu masih single, saya pun gada empati dan ga peduli liat ibu dan anak yang butuh bantuan. Sibuk sama diri sendiri. Besok-besok semoga saya lebih sensitif kalau ada yang butuh dibantu.

Kayanya kalau M sibuk kerja, kami sudah siap nih keliling dunia bertigaan saja ๐Ÿ˜„

Drama Sebelum Tidur

Kalau lagi senang sesuatu, biasanya benda tsb selalu dibawa Eden masuk kamar dan diletakkan di meja samping tempat tidur. Kadang mainan, buku, gambar tempel atau potongan puzzle.

Tapi beberapa hari ini, yang dibawa masuk mulai seru. Kemarin sempat beberapa malam bawa masuk boneka Upsy Daisy dari film In The Night Garden. Boneka diletakkan di atas bantal atau di samping tempat tidur.

Lalu saya nemu boneka punya keponakan, Lala dan Dipsy-nya Telletubbies. 

Dan drama benerrrrrr…

Eden minta Lala dan Dipsy juga bobo pake selimut, geletak di sebelahnya.

Malam kedua, Lala dan Dipsy juga ikut bangun dan minum kalau Eden haus.

Dan berlanjut beberapa malam dengan tokoh yang sama, sampai tadi malam.

Yang di ajak tidur; Lala, Dipsy dan kue tart mainan. Selain upacara seperti biasa, tadi malam ada acara ulang tahun dulu. Pake nyanyi happy birthday dan tiup lilin ๐Ÿ˜‚

Saya yang selalu pura-pura tidur kalau nemenin Eden nyaris nyengir lebar deh ๐Ÿ˜‹ untung malam ini ga bawa mainan apa-apa, langsung molor dengan manis.

penampakan peserta bobo tadi malam, lengkap dengan kue tart ๐Ÿ˜‹