Ke Angkor Wat bawa batita

Kantor tempat M kerja di Jakarta kemarin punya kebijakan R&R (rest and relax), yang jatuh tempo setiap 6 bulan sekali. Tempat tujuan dibatasi pada Singapura dan Kuala Lumpur. Dan kesempatan R&R pertama kami sepakat untuk pergi ke Singapura lalu ke Angkor Wat. Lumayan kan, tiket dan akomodasi di Singapura gratis, tinggal modal sendiri untuk urusan Angkor Wat.

Keluarga saya agak ga setuju kami berangkat ke sini, mengingat Eden belum genap 2 tahun dan kehamilan saya memasuki bulan keenam. Tapi setelah cek dengan dokter, kondisi saya dan bayi sehat, plus sepakat untuk keliling santai menyesuaikan dengan kondisi Eden, berangkat lah kami.

Saya sudah browsing sana sini dan juga cari tau ke beberapa teman tentang kondisi Angkor Wat. Pertanyaan utama, apakah memungkinkan kalau kami bawa stroller? Dan jawabannya; ga bisa bawa stroller karena banyak tangga, undakan dan juga jalanan tanah kering atau basah berlumpur. M menyanggupi untuk gendong Eden, dan saya bawa ransel keperluan Eden. Aman.

Kami menginap di Palm Village Resort & Spa. Tempatnya bersih, nyaman, makanan enak dan murah, ditambah karyawan yang luar biasa ramah dan rajin ngajak main Eden jadi kami bisa sedikit santai. Secara keseluruhan kami puas banget tinggal di tempat ini. Kami pun ambil tour guide dan tuktuk dari hotel, jadi rasanya lebih aman dan nyaman. Saran saya, lebih baik memang ambil tour guide yang bukan supir. Jadi tour guide bisa antar kita keliling dan kendaraan bisa tunggu di tempat yang lain. Memudahkan kita untuk mencari rute dan melihat-lihat candi, juga praktis ga harus mutar kembali ke tempat parkir.

Selain itu, menurut saya, memilih tuktuk sebagai sarana transportasi memang paling pas. Cuaca di Siem Reap panas dan lembab, habis panas-panasan lalu duduk di tuktuk yang melaju, semilir angin tuh beuh sedep bangets deh! Mata langsung kriyep-kriyep dan perut langsung berisik minta jatah ๐Ÿ˜‹ kebayang kalau naik mobil, masuk mobil yang panas, ac belum dingin kita sudah mesti turun lagi liat candi selanjutnya.

Pertama kali kami ketemu tour guide, beliau langsung menyarankan supaya kami berganti pakaian. Saya memang pakai atasan tanpa lengan dan celana pendek, sedangkan M celana pendek di atas lutut. Tour guide kami bilang, walaupun ini tempat wisata, tetap saja namanya rumah ibadah, rumah Tuhan bagi mereka yang mempercayainya. Dan alangkah baik kalau kita menghormati dengan berpakaian yang pantas. Masuk akal sih ya, di Bali pun kita diminta memakai kain penutup kalau pakaian kita kurang pantas. Jadilah saya pakai celana pendek M, dan M pakai board-short. Satu-satunya celana yang sesuai dengan permintaan tour guide.

Untuk paket kunjungan ke Angkor Wat, kami ambil paket 3 hari walaupun hanya terpakai untuk 2 hari saja. Hari pertama kami puas dan antusias banget, hari kedua mulai agak capek dan bosan lihat candi ๐Ÿ˜„

Sepanjang perjalanan keliling candi dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, Eden tampak lumayan menikmati semua prosesnya. Ga ada rewel, ga ada marah ataupun menangis. Beberapa kali berhenti karena Eden sibuk lihat batu-batu besar yang berserak di sana sini, atau kadang sibuk ikutan lihat relief di dinding candi, semangat banget setiap kali matanya bertemu dengan sosok binatang yang dia kenal. Eden pun sempat tidur di gendongan M, lanjut tidur lagi di tuktuk dan bangun penuh semangat lagi. Eden bahkan sempat jadi obyek tontonan rombongan turis karena dia sibuk main di reruntuhan candi ๐Ÿ˜„

Untungnya perjalanan keliling candi tidak membutuhkan waktu seharian penuh. Hari pertama kami sudah di hotel sebelum jam 3 sore, dan hari kedua kami bisa kembali ke hotel untuk makan siang. Kalau mau melihat setiap jengkal candi pasti satu dua hari ga akan cukup, tapi kami merasa sudah melihat semua spot yang cantik dan terkenal, jadi sudah puas banget deh.

Awalnya saya memang ragu-ragu mau ajak Eden berlibur ke tempat yang (rasanya) sama sekali ga cocok buat anak-anak. Tapi itu artinya saya harus menahan diri untuk ga berlibur ke tempat yang saya dan M mau. Dan setelah beberapa kali mencoba pergi dengan Eden, terbukti kalau punya anak kecil ga menghalangi kita untuk berlibur. Tapiiii, harus disadari betul bahwa perjalanan dibuat sesuai kebutuhan dan rutinitas anak. Misalnya kami ga bisa pergi ke pasar malam karena Eden sudah tidur jam 7 malam. Perbekalan anak pun harus lengkap, untuk Eden, saya selalu bawa botol minum, biskuit kesukaannya, buah seperti pisang atau apel dan satu atau dua mainan. Dan yang paling penting, kerelaan hati kita untuk selalu menghibur dan membuatnya tetap semangat, karena dengan demikian perjalanan jadi terasa lebih ringan.

Yuk liburan lagi!

Iklan

14 thoughts on “Ke Angkor Wat bawa batita

    • Iya alhamdulillah banget, tp eden n kiran emang jarang rewel sih…
      Klo pas mereka rewel n aku bad mood, biasanya aku mandi tutup pintu deh ๐Ÿ˜„ ato ngopi lebih dari segelas sehari.

      • Aku ngerasanya klo mood lg jelek, apalg klo pas pms, anak2 pasti (berasa) lebih rewel. Makanya aku usaha bgt supaya mood tiap hari at least cukupan lah, jadi anak2 jg emosinya aman ๐Ÿ˜‹
        Trus aku klo ngomel kayanya malah lebih capek karena pake rasa bersalah yang drama baper banget hahaha… dan sementara trik yang paling manjur tuh dikasih tau dua kali lengkap pake pilihan dan konsekuensi, ketiga langsung ketok palu. Klo ini ga mempan, biasanya anak udah kondisi nangis, aku suru dia diam di satu tempat, bukan kamar, sampe dia (dan kita) tenang, baru ajak ngomong lagi deh.
        Semoga kamu juga akan nemu cara yang terbaik ya ๐Ÿ˜˜

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s