Our First Long-Haul Flights & Jet Lag

Keceriaan saya menghadapi kepindahan kami ke Canada berangsur menipis setelah menyadari betapa panjang perjalanan yang harus ditempuh bersama dua bocah lelaki yang masih masuk kategori batita ini.

Kami mengambil pilihan rute Perth – Sydney – Vancouver – Saskatoon, dengan waktu transit masing-masing 6 jam. Total waktu perjalanan termasuk transit: 34 jam (7 jam + 13 jam + 2jam terbang).

Karena proses visa Canada saya yang panjang (nyaris 3.5 minggu), M pun harus berangkat duluan. Kami pun mempertimbangkan beberapa pilihan; kami ketemu di Sydney atau M balik ke Perth lalu sama-sama ke Saskatoon. Alhamdulillah bosnya di Canada setuju untuk M balik ke Perth jemput kami.

Sebetulnya saya lumayan percaya diri untuk pergi bertiga, apalagi kami dapat kelas bisnis. Kan biasanya pelayanan kelas itu jauh lebih ramah ya, jadi bisa lah saya minta dibantu secara bawa dua anak kecil. Tapi untung aja M ngotot balik ke Perth, soalnya walaupun duduk sebelahan, untuk urus Eden tetap saja kami harus keluar dari kursi yang ada dalam cubicle. Dan gendong bayi duduk di kursi bisnis lumayan ga nyaman karena ada kantong air bag di tali sabuk pengaman. Kayanya anak-anak bakalan jadi rewel klo M ga ikutan terbang sama kami. Maklum deh, namanya juga perdana naik kelas bisnis jarak jauh jadi lagi norak-noraknya banyak yang baru tau πŸ˜„ 

Sabuk pengaman untuk bayi ternyata ga tersedia di penerbangan Air Canada. Jadi bayi harus digendong dengan posisi kepala di pundak kita. Agak deg-degan juga takut lepas dan jatuh klo tangan semutan atau ketiduran, dan ga bisa kasih ASI juga kan dengan posisi gtu. Baru pertama ini naik pesawat yang ga nyediain sabuk pengaman untuk bayi, dan saya tetap gendong Kiran seperti biasa saat lepas landas dan mendarat, supaya tetap bisa minum ASI.

Sementara Eden gayanya udah kaya yang biasa banget naik pesawat di kelas bisnis, duwa jutak bgt deh πŸ˜„πŸ™ˆ Tapi karema makannya masih susah, dan cuma makan seadanya selama perjalanan akhirnya muntah deh persis setelah mendarat di Saskatoon. Perjalanan panjang, ga mau makan dan capek tentu saja. Alhamdulillah besoknya sudah ceria lagi. Untung Kiran masih dibantu ASI jadi lebih aman dan nyaman.


Perjalanan kami dimulai hampir tengah malam waktu Perth, dan tiba di Saskatoon persis tengah malam. Jadi kami bisa langsung tidur dan besoknya bangun siang, malah terbangun hampir tengah hari πŸ˜›. Dalam waktu hampir 2 minggu, barulah anak-anak bisa tidur pulas sesuai zona waktu yang baru.

Cerianya saya mau pulang ke Perth pun sedikit terganjal dengan rasa malas luar biasa membayangkan perjalanan panjang lagi. Kali ini rutenya Saskatoon – Vancouver – Hong Kong – Perth, dengan waktu transit 6 jam dan 3 jam. Total waktu perjalanan: 32 jam (2jam + 13.5jam + 7jam 45menit terbang).

Kali ini perjalanan lebih nyaman lagi karena Kiran dibelikan kursi sendiri. Anak bayi yang berulang tahun pertama tepat di hari keberangkatan kami ini pun tidur nyaman hampir sepanjang perjalanan. Sayangnya sempat ada turbulence jadi Kiran harus digendong dan terbangun. Tapi saya dan M sempat dong menikmati duduk manis santai ala-ala business class πŸ˜„ mumpung anak-anak tidur, kami pun makan dan sempat ikut tidur lumayan panjang.



Oiya keluar dari Canada ga ada urusan sama imigrasi. Jadi kita terbang kaya domestik aja, ga ada yang periksa apakah kita overstayed atau apapun. Kalau kata M, mereka menggunakan sistem yang sama seperti Amerika. Saya baru pertama ini keluar dari suatu negara dan ga mesti lewat proses imigrasi. 

Saya jadi ingat, loket check in untuk penumpang kelas bisnis Garuda di keberangkatan internasional bandara Soetta itu punya pintu dan petugas imigrasi sendiri loh. Petugasnya tanpa komputer, entah kalau paspor dll dibawa dulu ke loket asli dan di cek ya, karena habis check in ada petugas yang ambil alih urusan imigrasi dan kami dipersilahkan langsung ke lounge. Paspor akan dikembalikan disana. 

Kali ini perjalanan kami dimulai sekitar jam 6 pagi hari Jumat waktu Saskatoon dan tiba jam 6 pagi hari Minggu waktu Perth. Segala upaya dilakukan untuk menahan waktu tidur anak-anak, tapi akhirnya mereka tepar juga jam 3 sore. Kami pun segera tidur karena sudah kebayang kalau anak-anak pasti pola tidurnya masih kacau. Betul aja, jam 2 pagi lampu rumah sudah terang dan anak-anak sudah duduk manis minta sarapan πŸ˜„ 

Lumayan nyengir deh saya sendirian ngadepin pola tidur anak-anak yang kacau balau, karena M sudah harus berangkat lagi ke Adelaide untuk penugasan yang baru. Mata sih melek ya, tapi otak dan badan ini kya ga nyambung πŸ˜„ mana Kiran masih tetap bangun malam buat minum ASI. Bisa ngabisin segelas kopi pagi dalam keadaan masih ngebul aja kyanya udah bagus banget hahahaha…

Dan seperti kata mantra emak-emak rempong; “these too shall pass”, akhirnya anak-anak pun bisa tidur nyenyak dan jet lag pun berakhir…

Advertisements

6 thoughts on “Our First Long-Haul Flights & Jet Lag

  1. Kok aku bacanya ikut ngos2an yaa, nggak kebayang 34 jam perjalanan bawa 2 anak… Untung M balik kaaaan, bisa jontor juga tuuuh kalau sendirian. Sesuatuuuuuu

  2. salut D..
    nggendong Kiran selama di pesawat .., trus mereka kena jet lag juga, sementara ibu juga mengalami hal sama
    setelah semua berakhir jadi lega ya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s