Eden Anak Indonesia

Akhirnya Eden resmi sebagai pemegang paspor hijau, warga negara Indonesia. 😍

Kenapa baru sekarang bikin paspor Indonesia?

Alasan pertama, ibunya Eden pemalas dan seneng tar-sok melulu, jadi aja batal terus deh bikin paspor. Padahal form sudah di print dan di isi, lampiran lengkap, cuma kurang pas foto aja. Tapi ya itu dia, nemuuu aja alasan untuk ga pergi ke KJRI Perth.

Sampai akhirnya M dapat kerjaan di Jakarta, dan Eden berangkat dengan paspor biru Australia. Ternyata proses urus dokumen butuh waktu lebih lama dari yang diperkirakan, jadi setiap 2 bulan Eden harus keluar Indonesia dan masuk dengan visa baru. Akhirnya kita putuskan dari pada harus mondar mandir ke Singapura, lebih baik balik ke Perth untuk urus paspor Eden.

Karena Eden lahir di Perth, jadi harus dibuatkan kutipan akta lahir oleh KJRI Perth, untuk kemudian di daftarkan di kementrian (lupa persisnya kementrian apa), kemudian di daftarkan dalam kartu keluarga, baru bisa mengajukan paspor di Indonesia.

Sedangkan untuk pengurusan di Perth, dokumen yang dibutuhkan sangat mudah. Cukup akta lahir, paspor dan visa orangtua, pas foto. Sudah. Dengan proses 4 hari kerja.

Jadi hari Jumat saya masukkan dokumen untuk pembuatan kutipan akta lahir, affidavit dan paspor. Jumat minggu depan semua dokumen sudah selesai dan bisa di ambil. Hebat kan?

Total biaya; $75, paspor $40, kutipan akta lahir $25 dan affidavit $10. 

Untuk lengkapnya, bisa lihat di http://www.kjri-perth.org.au

Iklan

Kawah Putih, Jawa Barat

  
Akhir pekan kemarin kebetulan ada nikahan sepupu di Bandung, jadi sekalian lah kita minta bapakedaddy cuti sehari buat jalan-jalan. Sebetulnya agenda jalan banyak banget, tapi karena males macet dan juga Eden kayanya bosen kalau duduk kelamaan di mobil, jadilah cuma Kawah Putih dan Situ Patengang yang sukses di longok.

Lokasi kawah putih ini sekitar 50km sebelah selatan Bandung, kalau dari Jakarta, langsung aja keluar di pintu tol Kopo dan belok kanan ke arah soreang. Lalu lintas lumayan padat, selain angkot, andong/delman, sepeda motor, juga beberapa kali melewati sekolah dan pabrik berhiaskan angkot yang ngetem nunggu penumpang 🙈

Kawah Putih ini letaknya di Gunung Patuha, dengan ketinggian 2.340m dpl, jadi cuacanya sejuk walaupun bau belerangnya kadang lumayan menyedak. Karena sedang musim kemarau, jadi air kawah surut lumayan jauh, biasanya gundukan tanah/pasir di tengah kawah tertutup air.

Yang istimewa, air di kawah ini berubah warna tergantung pada tingkat konsentrasi belerang dan pembakarannya, kadang biru, putih kehijauan ataupun coklat. Demikian juga bebatuan dan pasir disekitarnya. Makanya tempat ini jadi kelihatan sangat cantik.

  

Dibandingkan terakhir kali saya ke sini tahun 1995, sudah banyak sekali perubahan. Area parkir dan warung tertata rapi, ada mobil angkot yang bisa disewa untuk naik sampai kawah, dan juga tampak lebih bersih terawat. 

Harga tiket masuknya;

  • Wisatawan lokal Rp.18.000
  • Wisatawan mancanegara Rp.50.000
  • Pre-Wed Rp.500.000
  • Parkir atas roda 4 Rp.150.000
  • Parkir bawah roda 4 Rp.6.000

Yang dimaksud dengan parkir atas adalah mobil bisa naik sampai ke dekat kawah. Sedangkan parkir bawah berarti pengunjung parkir di area dekat gerbang masuk, dan naik ke kawah dengan angkot yang biayanya Rp.15.000/orang.

Jangan lupa untuk memperhatikan juga lama kunjungan di kawah, karena bau belerang cukup kuat, maka waktu yang diperbolehkan hanya 20 menit. Dan jangan lupa untuk berdiri di belakang tali pengaman ya, soalnya kemarin saya lihat cukup banyak yang bela-belain lompat tali supaya bisa foto lebih dekat dengan kawah. The sign is there for a reason, be safe and be considerate!

  

Australian Permanent Resident Visa

Februari kemarin sebetulnya tepat 2 tahun kita melakukan pengajuan visa. Dan waktu Temporary Resident Visa disetujui, (pengertian kita berdua) berati setelah 2 tahun dari waktu mengajukan aplikasi visa maka secara otomatis visa tersebut akan menjadi Permanent Resident. 

Dan setelah duduk manis menunggu selama 1 bulan dan ga ada kabar, akhirnya saya kirim e-mail ke petugas yang dulu mengurus visa saya di Kedutaan Australia di Jakarta. Jawaban yang diberikan berupa link untuk proses perubahan visa; http://www.immi.gov.au/contacts/forms/partner/ dan http://www.immi.gov.au/services/Pages/immiaccount.aspx

Ternyata kami harus melengkapi dan mengirimkan dokumen lagi, walaupun ga sebanyak dan selengkap sebelumnya, yang penting dokumen harus mampu menunjukkan kalau kita masih sama-sama.

Dokumen yang diperlukan selain dokumen umum, 

  1. Form 888 yang merupakan kesaksian warga negara Australia yang mengenal dan mengetahui hubungan kami, dan ditandatangani notaris/pejabat berwenang,
  2. Bukti alamat, bisa berupa copy rekening koran, tagihan listrik/air, dll,
  3. Keterangan dari kepolisian Australia bahwa saya tidak terlibat tindak kejahatan, semacam SKKB kalau di Indonesia,

Alhamdulillah prosesnya ternyata ga lama, sekitar 2 bulan setelah dokumen dikirim, kami dapat email kalau visa permanent resident saya sudah disetujui. Proses selanjutnya adalah memperbaharui setiap 5 tahun sekali untuk PR holder yang berdomisili di Australia, dan setiap tahun untuk mereka yang berdomisili di negara lain.

Berenang yuk!

  
Saya ga jago berenang, ga bisa diving, tapi suka banget main air dan ga bosen snorkelling. Makanya sejak Eden lahir saya pengen banget dia juga doyan air, supaya bisa menjelajah dunia dengan lebih leluasa lagi (baca: supaya ibu teteup bisa jalan-jalan). Apalagi pantai di Perth kan bagus banget dan banyak kegiatan yang bisa dilakukan.

Beberapa ibu dalam Mom’s Group yang saya ikuti sudah membawa anak mereka ikut grup renang sejak anak berumur 4 bulan. Dan denger ceritanya soal kursus itu, saya kok ga sanggup ngebayanginnya 😁 ga tega. 

Program dari pemerintah juga ada, namanya state swim (bisa dicek di http://www.stateswim.com.au). Karena ada subsidi dari pemerintah, harga kursus berenang di state swimming school jauh lebih murah dibanding di tempat umum. Kalau ga salah sekitar $75/bulan, sedangkan di tempat umum bisa 2 kali lipat. Mereka punya program untuk anak usia 6 bulan, walaupun dari cerita para ibu yang saya dengar, akan lebih efektif kalau anak sudah bisa merangkak. Jadi lebih seru dan anak juga sudah lebih bisa menikmati. Program inipun saya ga jadi ajak Eden, karena berasa rempong proses kering-keringan di tempat umum. Duh, maafkan ibu yang banyak alasan ya nak…

Sepanjang summer sebelum kita pindah ke Jakarta, kita memang lagi rajin ajak Eden berenang dan main ke pantai. Jadi setelah pindah ke Jakarta, saya makin semangatlah ajak Eden main air. Dan di Jakarta, mulailah kita berburu perlengkapan renang untuk Eden, yang ternyata ga semudah berburu di Perth 🙈

Pertama, kita cari swimming nappy dari supermarket satu ke lainnya, mall ke mall, toko ke toko dan ga ada satupun yang tampak. Cuma Mothercare yang bilang kalau pernah jual, tapi karena ga laku jadi mereka ga sedia lagi 🙈. Untungnya daddy dapat tugas balik ke Australia untuk beberapa hari (swimming  nappy ini ternyata dijual juga di Singapura), jadilah pulang dengan koper penuh swimming nappy 😍. Swimming nappy ini bentuknya tipis, paling cuma tahan nampung 2 kali pipis, karena tujuannya memang untuk menampung pup supaya ga ada kejadian horor saat anak di kolam renang. Jadi nappy-nya ga menggembung gara-gara gel-nya sibuk nampung air.

  
Saya perhatiin emang disini ga banyak kolam renang yang mencantumkan syarat kalau anak harus memakai swimming nappy, jadi ya ga umum juga kali ya kebutuhan untuk punya nappy-nya.

Kedua, cari baju renang untuk anak segede Eden juga ternyata ga gampang. Untuk anak perempuan sih banyak model dan macam yang lucu-lucu. Walaupun akhirnya nemu, ukurannya lumayan gede jadi bisalah irit buat beberapa waktu. 

  
Kalau M bilang, mungkin bayi Indonesia jarang di ajak berenang karena takut masuk angin, dan para orangtua lebih pilih ajak anak ke mall daripada ke ruang terbuka. Analisa pertama sih saya tau banget kalau dia ngeledek, tapi ya mungkin ada benernya juga kali ya…

Sekarang ini saya hampir dua hari sekali ajak Eden berenang, dan anak bayi satu ini gayanya minta ampun deh. Sejak ngeh kalau kolam anak airnya hanya sebatas dada, dia ga mau lagi saya gandeng, lari kesana sini dan kadang lempeng aja bungkuk mau ambil sesuatu dalam air 🙈 gawat! Belakangam dia ga mau lagi main di kolam anak, mau di tempat dalam dan tentunya ibu harus gendong dan super kreatif hahahahaa…