Nenek Kakek

Tadi malam tiba-tiba saya kangen banget sama nenek kakek; emak (ibu dari bapak saya), mbah dan papih (orangtua dari ibu saya). Kangen luar biasa yang bikin saya merasa terlempar ke masa lalu dan melihat lagi mereka dan merasakan sentuhan tangan tua mereka. Saya ga sempat kenal Abah, ayah dari bapak saya, karena beliau sudah lama meninggal dunia. 

Emak adalah perempuan pekerja keras, sepanjang usia beliau menetap di Garut. Bertani, berladang, lengkap dengan kain plus kebaya, sepatu bot dan topi caping. Kalau kami datang berlibur dan main di sawah, teriakan nyaringnya akan terdengar dari jauh, memanggil pulang untuk makan. Seingat saya, belum pernah saya lihat beliau mengenakan pakaian biasa, selalu dengan kain dan kebaya, lengkap dengan selendang yang dililit di kepala.

Beliau punya kebiasaan antik yaitu nyirih. Ada satu kotak bako yang selalu dibawa kemanapun beliau pergi. Posisi favoritnya untuk nyirih kalau berkunjung ke rumah kami adalah di teras samping kolam ikan. Kami para cucu akan duduk di hadapannya, menatap takjub dan kadang membantu melipat sirih, bako dan kelengkapannya. Emak akan terus memasukkan lipatan sirih yang sudah kami buat ke dalam mulutnya walaupun sudah penuh, ga tau diri banget deh kami ini kalau dipikir sekarang, kasian Emak 😁. Dan setelah selesai, biasanya Emak akan bercerita ataupun bernyanyi tembang sunda sambil mengusap kepala kami. Bukan usap biasa, tapi dengan gaya jari cari kutu 😄 jadi sensasinya memang beda dan gada tandingan.  

Saya lebih sering bertemu Mbah dan Papih karena mereka tinggal di Tangerang, ga jauh dari daerah tempat kami tinggal. Barang yang wajib dibawa sebelum berkunjung adalah keju apel (keju yang dibungkus kertas merah, saya ga tau namanya) dan buku TTS. Ini adalah barang wajibnya Papih. Papih akan sibuk dengan TTS-nya sambil mengunyah keju atau merokok. Yang lucu, kami para cucunya yang banyak ini selalu berebut untuk mendapatkan stiker yang selalu jadi bonus buku TTS. Di rumah orangtua saya, masih ada tuh lemari yang jadi saksi kegilaan kami sama si stiker, karena seluruh sisinya penuh tertempel stiker 😅. Waktu saya lahir, Papih bilang; “ini cucu papih ke 12, lahir tanggal 12, jam 12”. Dan setiap saya ulang tahun, selalu ada keluarga yang memberi selamat disertai kalimat tsb. 

Mbah selalu tampak sangat lembut keibuan di mata saya. Bawang goreng buatan Mbah masih jadi juara dan belum ada yang bisa nandingin rasanya. Saya selalu dapat satu toples besar untuk dibawa pulang, enaaak! Rambut Mbah panjang melewati pinggang, dan selalu digelung.

Sayang saya ga punya foto mereka disini, nanti kalau pulang mudik dan nemu foto mereka, pasti akan saya upload disini.

Semoga Allah SWT menerima iman Islam mereka, mengampuni segala dosa dan kesalahan mereka, melapangkan kuburnya, menjauhkan mereka dari siksa neraka, dan menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin…

Advertisements

8 thoughts on “Nenek Kakek

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s