Central Park, Perth

Tiba-tiba kangen banget sama Central Park-nya Perth. Tempatnya sih ga besar atau cantik luar biasa, tapi menyenangkan. Taman yang merupakan bagian halaman gedung central park ini hampir selalu penuh saat makan siang. Yang pakai dasi ataupun rok cantik duduk manis dirumput atau bangku yang tersedia, sekedar ngobrol, ngopi ataupun menyantap makan siang. Ga jarang banyak juga loh yang tidur siang atau sekedar meluruskan badan sambil baca atau main gadget.

Kadang ada pertunjukan musik selama makan siang. Dan selama musim panas, pengelola taman menyediakan karpet piknik yang diletakkan di atas rumput menjelang waktu istirahat makan siang.

Waktu awal datang ke Perth saya rajin banget nongkrong disini. Baca buku, skype atau sekedar sibuk sama gadget.

Berikut beberapa penampakan Central Park yang diambil di waktu dan musim yang berbeda, tapi lupa kapan persisnya.

20140331-181203.jpg

20140331-181221.jpg

20140331-181238.jpg

20140331-181605.jpg

20140331-181622.jpg

20140331-181639.jpg

20140331-191613.jpg

Iklan

Tongue Tie (ankylglossia)

Konon katanya proses menyusui bisa bikin badan meriang demam karena payudara yang membesar bengkak akibat produksi asi, atau puting yang lecet. Jadi saya ceritanya sudah menyiapkan diri untuk itu. Alhamdulillah ga pakai meriang demam, produksi asi lancar. Tapi, puting saya luka.

Dua hari setelah pulang dari OPH, ada bidan yang melakukan kunjungan ke rumah untuk memeriksa kondisi Eden, saya dan juga membuka klip bekas jahitan. Beneran klip kaya staples bentuknya, dan dari cara dia motong saya hampir yakin kalau itu persis sama dengan staples kertas hahaha…

Waktu bidan mau nimbang Eden, dia langsung komen, “hmm he’s got a tongue tie”. Apa pulak maksudnya, saya ga ngerti. Dijelasinlah panjang lebar apa itu dan bagaimana efek sampingnya.

Berikut keterangan yang saya ketik ulang dari lembaran yang dikasih sama Lactation Consultant di OPH:

Tongue-tie occurs when the thin piece of skin under baby’s tongue (the lingual frenulum) is very short and restrict the movement of the tongue. The tongue is not free or mobile enough for the baby to attach properly to the breast. Tongue-tie occurs in about 5% of people. It is three times more common in males than females and can run in families.
Some babies with tongue-tie are able to attach to the breast and suck well. However, many have breastfeeding problems, leading to nipple damage in the mother and poor milk transfer and low weight gain in the baby.

Berikut tanda-tanda kalau tongue-tie mempengaruhi proses menyusui:
– puting luka
– puting tampak rata setelah menyusui
– ada bengkak di puting setelah menyusui
– terdengar suara klik-klik pada saat menyusui
– berat badan bayi tidak bertambah
– lidah bayi tidak keluar melebihi gusi, tidak bergerak kesamping, ujung lidah tampak rata atau persegi

Bidan yang datang berkunjung menawarkan untuk membuat perjanjian dengan Lactation Consultant di OPH supaya kami dapat kepastian apakah benar Eden punya tongue-tie dan proses lanjutan yang diperlukan.

Dua hari kemudian kami ketemu Jayne, lactation consultant. Saya diminta menyusui Eden dan dia memperhatikan kemudian memberikan pertanda apa-apa saja yang sudah benar dan yang perlu diperbaiki. Rupanya selama menyusui jari kaki saya sibuk lipat sana sini (curled toes), yang artinya saya sangat kesakitan. Selama ini saya berpikiran kalau memang sakit, jadi ya ga terlalu ambil pusing. Ga terpikir kalau ternyata ada sesuatu yang salah.

Jayne menganjurkan untuk dilakukan tindakan snipping atau gunting (frenulotomy). Tindakan ini cukup aman dan tanpa bius, butuh waktu kurang dari 1 menit dan bayi bisa langsung diberi asi. Lebih jauh juga dijelaskan bahwa tongue-tie bisa berpengaruh pada proses bicara anak, entah jadi lambat atau cadel. Diagnosa tongue-tie ini baru diperbolehkan secara resmi sekitar 2-3 tahun belakangan. Sebelumnya tidak diperbolehkan.

Berikut referensi dokter dari OPH untuk tindakan tongue-tie snipping:
– Dr. Liz Whan: 31 Hay St Subiaco, 9382.2627
– Dr. Peter Friedland: Prof of Otolaryngology, Suite 3 93 Grand Boulevard, Joondalup, 9300.9800
– Timothy Johnson: Ikids Specialist Paediatric Dentistry, 94 Stirling Highway, North Fremantle, 9433.6082 (snipping dengan laser)
– Dr. TJ Singh: Mirrabooka Medical Center, 22 Sudbury Place, 9349.6611 (kami pilih kesini atas rekomendasi Jayne)
– Dr. Hanny Ishak: Stirling Central Medical Group, 94405300

Pada hari H, saya sudah grogi dan deg-degan setengah mati. Kebayang aja Eden belum genap 2 minggu harus ‘digunting’ dibagian bawah lidahnya. Kaya apa coba sakitnya kan… Jadi pas masuk bilik tindakan, saya sudah buram dengan airmata. Saya dan M dipersilahkan tunggu diluar. Baru juga mau menye-menye nangis sedih, susternya sudah keluar lagi ngasih tau kalau proses snipping sudah selesai dan saya dipersilahkan untuk menyusui Eden. Hahahaha bengong takjub deh kita berdua.

Alhamdulillah Eden juga ga kelihatan kesakitan walaupun ada sedikit darah dimulutnya. Waktu saya menyusui, langsung terasa bedanya. Puting saya ga lagi rata bentuknya setelah selesai menyusui dan putingnya terasa lebih nyaman. Lega banget rasanya. Eden ga rewel sama sekali setelahnya, semuanya baik-baik saja.

Sampai beberapa hari setelah snipping, Eden jerit-jerit histeris pada waktu minum susu dengan posisi puting masih dalam mulutnya. Browsing di internet, rupanya memang ada periode dimana bayi merasa perih atau ga nyaman beberapa hari setelah snipping. Untungnya ga lama deh proses ini, sekitar 1 hari saja, ga tega saya lihatnya. Sebelum snipping, menyusui Eden bisa makan waktu 1 jam lebih, sekarang paling lama 30 menit, kadang bahkan cuma 15 menit.

Kalau tertarik untuk tahu lebih lanjut, bisa buka website berikut:
Australian Breastfeeding Association
Tongue Tie Net
Lawrence Kotlow Paediatric Dentist (breastfeeding booklet 2013)
The Royal Women’s
Biological Nurturing
Bryn Palmer

Lahiran dan Morfin

Setelah bolak balik usg untuk memastikan posisi plasenta, akhirnya diputuskan bahwa operasi caesar akan dilakukan pada minggu 39, hari Jumat, 28 Feb. Keputusan ini diambil karena posisi plasenta yang rendah (3,7cm) dan juga posisi bayi yang masih tinggi, plus usia saya yang masuk batasan resiko lebih tinggi. Karena dari awal sudah dijelaskan soal ini, jadi saya dan M langsung setuju tanpa pikir panjang lagi. Saya pikir juga daripada sudah kesakitan kontraksi ternyata tetap harus caesar, ya mending nurut aja deh.

Btw, saya sempet ngalamin kontraksi 4 hari berturut-turut mulai tgl. 16 Feb. Entah kontraksi palsu atau betulan, tapi sakitnya lumayan bikin saya meringis menye-menye. Untungnya pas adik saya lagi di Perth, dan dia jago mijat hahahaa jadilah saya dapat pijatan khusus darinya. I love u buncil, muahhh…

Akhirnya dua hari kemudian, 28 Feb, jam 6 pagi kami (saya, M dan ibu saya) sudah cek-in di Osborne Park Hospital (OPH). Hari itu ada 4 pasien untuk caesar dengan jadwal jam 8, 10, 12, 14. Kemungkinan saya akan kebagian jam 14. Kami langsung diantar ke kamar rawat inap dan ga lama saya disiapkan untuk masuk ruang operasi.

Ganti baju dengan baju rumah sakit yang cuma tali diikat sana sini, pakai kaos kaki khusus untuk mencegah pembengkakan pembuluh darah dan juga jarum untuk infus sudah dipasang ditangan kanan. Kaos kaki ini harus saya pakai sampai seminggu ke depan karena saya belum boleh banyak bergerak paska operasi.

Ternyata hari itu banyak pasien urgent caesar sehingga jadwal saya mundur terus. Sekitar jam 12 siang baru dapat kepastian kalau saya baru akan masuk kamar operasi jam 5 sore. Jadilah ibu saya pulang untuk istirahat dan baru kembali nanti menjelang waktu operasi. Tiba-tiba sekitar setengah 4 bidan mengabari kalau saya akan masuk jam 4. Ibu saya tergopoh-gopoh lari dari rumah yang berjarak sekitar 300m, dengan suhu 37 derajat, demi untuk ketemu saya sebelum operasi. Alhamdulillah masih sempat ketemu persis ketika saya hampir keluar koridor maternity ward. Ahhh, i love you, Enin! (Besok harinya ibu saya sakit kepala dan ga enak badan, hiks…)

Salah satu bidan yang mengantar dan menemani selama operasi namanya Lesley. Usianya mungkin sekitar 60 tahun, dan Bahasa Indonesia-nya lancar. Beliau pernah tinggal di Solo selama 11 tahun, dan anak-anaknya lahir di Surabaya, Solo dan Kediri. Rasanya seperti ketemu orang sekampung deh, senaaaang…

Masuk ruang operasi, saya lumayan khawatir sama M. Mengingat phobianya, saya takut dia pingsan di ruang operasi. Alhamdulillah sih sukses dia nemenin saya tanpa ada tragedi hehehe…

Saya dibius setengah badan dengan suntikan dipunggung, apalah itu istilahnya saya lupa. Ga lama dicek, dan ternyata leher ke bawah saya mati rasa. Mulai deh prosesnya. Entah apa yang terjadi dibalik kain yang dibentang depan muka saya, pokoknya ga lama sudah kedengaran tangis bayi dan ada bayi kecil digendong sama dokter anak. Rasanya antara bingung, takjub, bahagia, terharu, segala macam deh. Alhamdulillah banget. Eden lahir sehat dan lengkap. Tapi karena dikeluarkan dengan bantuan alat, jadi beberapa bagian tubuhnya agak bengkak dan memerah.

Selama operasi, hidung saya tiba-tiba gatal luar biasa dan beberapa kali terasa mual seperti mau muntah. Rupanya tubuh saya ga kuat dengan morfin, dan reaksinya luar biasa banget. Kembali ke kamar, masih dengan tubuh mati rasa dan pakai kateter, saya muntah-muntah, setengah sadar dan menggigil. Disini baru perjuangan dimulai.

Saya langsung harus menyusui Eden, untung masih ada M dan ibu saya membantu. Karena saya cuma bisa gerakin tangan dan kepala. Jam 9.30 malam, M dan ibu saya harus pulang. Kebayang ga sih dengan kondisi masih seperti di atas, saya ditinggal? Ibu saya frustasi luar biasa, mau protes pun Bahasa Inggris beliau terbatas banget. Jadi pasrah lah mereka pulang ninggalin saya.

Nyaris semalaman bidan nungguin di kamar, setiap kali eden nangis dia yang angkat dan taruh di dada saya. Kalau haus atau muntah dan dia pas lagi cek pasien lain, saya pencet bel dan panggil dia. Tentunya ga langsung datang detik itu juga, jadi ya semalaman saya bobok berteman kantong muntah. Plus malam itu saya disodorin oksigen dan dokter datang untuk cek kondisi saya. Ga begitu paham deh saya si dokter ngomong apa, cuma dia ga mau saya pakai oksigen dan menawarkan alternatif obat. Saya manut aja deh, ga bisa mikir. Paginya, suster bilang kalau kondisi saya tadi malam cukup gawat. Karena setengah sadar, napas saya pendek dan bikin detak jantung saya meningkat diatas 100. Makanya saya diberi oksigen. Ngeri ya… Sendirian puuun… Kalau ada apa-apa gimana coba tuh ya? Duh alhamdulillah semua baik-baik aja deh.

Paginya kondisi saya jauh lebih baik. Efek morfin hanya tersisa sebagai pain killer aja. Menurut bidan dan dokter, reaksi tubuh saya termasuk kasus langka. Kalau ga salah nangkap, menurut mereka tubuh saya bersih jadi si morfin betul-betul maksimal efeknya. Waktu mereka tanya apakah saya punya alergi, ya saya jawab ga punya. Manalah saya tau kalau alergi morfin kan?

Selama di rumah sakit, Eden ga dimandiin dong nek… Karena bukan tugas bidan mandiin, tapi kalau mau ya nanti mereka ngajarin. Lah saya turun tempat tidur aja perjuangan ya, gimana mau mandiin anak. Kateter baru dilepas 24 jam setelah operasi, yang berarti saya baru boleh mandi juga. Dan begitu kateter dilepas, saya harus bergerak, turun dari tempat tidur dan urus anak. Malam terakhir di rumah sakit, Eden nangis ga berhenti, cegukan dan muntah. Saya panik mati gaya ga tau harus ngapain lagi, akhirnya pencet bel manggil bidan. Yang bidan lakuin? Gendong Eden dan made him burp, lalu langsung serahin balik ke saya. Whoaaa pengen nangis bener rasanya…

Malam terakhir Eden diambil darah untuk dilakukan 12 macam tes, soal ini nanti saya bahas dipostingan lain aja ya… Dan sepagian hari Senin sebelum cek-out dari OPH, bidan menjelaskan tentang banyak hal. Dari soal menyusui, kontrasepsi, baby blues dll dsb. Lengkap deh. Eden juga diperiksa dulu sama dokter anak, dan saya diperiksa dokter kandungan. Oiya, pas cek-in hari Jumat juga kita sempat diberi penjelasan soal ini dan itu sama physioterapist. Tapi karena long weekend dan mereka libur jadi gada kunjungan lanjutan selama saya di rumah sakit.

Setelah semua beres, kita diantar bidan sampai ke pintu keluar OPH. Sebelum Eden diangkat dari box dan dipindah ke baby capsul, bidan memeriksa sekali lagi fisiknya. Setelah dia ok sama kondisi Eden, kita dipersilahkan pergi. Ga ada administrasi sama sekali loh, nyelonong aja blas. Gratis tis semuanya. Cuma ya itu, kita harus bawa baby wipes, nappy dan baju bayi sendiri. Sebetulnya rumah sakit menyediakan baju sih, tapi kok kasian bajunya buluk bener. Makanan rumah sakitnya juga enak, walaupun pas sarapan saya ngarep banget bakal lihat bubur ayam atau nasi goreng dengan telor ceplok. Nasib deh, dapatnya cuma roti bakar atau sereal.

Oiya, kalau mau nonton tv di kamar, kita harus sewa minimal 3 hari dengan biaya $27. Lumayan sih pilihan channelnya, plus remote yang ada speakernya jadi ga ganggu tetangga. Tapi saya mah milih molor aja daripada nonton tv deh…

Selain soal morfin sih saya gada keluhan sama pelayanan kesehatan di OPH. Segala macam urus sendiri kan pada dasarnya memang gaya hidup disini, ga banyak support person seperti di Indonesia yang lengkap dari asisten sampai keluarga.

Baiklah, Eden sudah mulai melek lagi nih, nanti ceritanya lanjut dipostingan lain ya… Selamat long weekend Indonesia…

Helow World!

Alhamdulillah akhirnya Lil Aussie udah lahir dengan sehat dan selamat di akhir Februari kemarin.

Eden Arya, lahir 28Feb, berat 3.3kg.

Smoga tumbuh jd anak yg sehat, soleh, ceria, pinter dan berbudi baik 😘

20140312-105152.jpg