Phobia

Entah apakah ketakutan saya sama binatang satu ini masuk kategori Phobia atau hanya ketakutan saja. Tapi cuma lihat mainan atau bonekanya aja, badan saya sudah semriwing dingin ga enak, kaki lemas dan deg-degan. Binatang melata yang bahkan saya memilih untuk tidak menuliskan atau mengucapkannya. Binatang berawalan U, empat huruf. Paham kan maksud saya?

Sahabat baik saya jaman kuliah dulu cinta banget sama binatang ini, dan kadang dia bawa ke kampus dan disimpan dalam ranselnya. Karena tau phobia dan reaksi saya, dia ga selalu bilang kalau dia bawa binatang itu. Tapi perasaan saya selalu tau dan hampir selalu benar. Reaksi saya ga menjerit atau histeris teriak-teriak. Tapi airmata ga bisa berhenti turun, dan saya biasanya diam di tempat. Boro-boro mau kabur, jalan aja susah banget. Semacam blank ketakutan. Beberapa teman kampus merasa saya cari-cari perhatian, dan ga menganggap serius ketakutan saya. Saya toh ga perlu juga meyakinkan mereka, karena saya lihat banyak orang menjadikan penderita phobia ini objek lucu-lucuan. Dan ini tentu saja bukan sesuatu yang lucu.

Reaksi lain yang kadang bikin orang sebal adalah, saya reflek melempar buku atau majalah yang salah satu halamannya bergambar binatang tsb (dan butuh waktu buat saya mungut lagi si korban lemparan itu). Ada seorang dokter gigi expat dulu waktu saya kerja di Papua, kami sedang seru membahas cerita jalan-jalan dan melihat album fotonya. Sampai tiba pada foto dia dan binatang, reflek saya keluar dan dia tampak bt. Setelah agak tenang, baru saya minta maaf sambil menjelaskan kalau saya punya phobia. Entah dia percaya atau ga, saya ga terlalu ambil pusing.

Di kantor terakhir kemarin, ada beberapa teman baik yang suka menyortir majalah NatGeo langganan saya. Mereka akan membantu melipat halaman atau menempelkan post-it di gambar binatang. Jadi saya tetap bisa baca dengan nyaman. Sekarang jatah itu pindah ke M, dia mesti lihat dulu dan kalau aman baru saya duduk manis sambil baca.

Sepupu saya yang jail minta ampun ternyata juga punya phobia. Phobia sama karet gelang!!! Aneh kan? Laki-laki, jail dan usil minta ampun, ternyata takut karet gelang. Setiap kali kita beli makanan yang dibungkus karet gelang, dia pasti gakan sentuh kecuali kalau saya buka dan sajikan. Saya pikir tadinya dia manja, jadi saya buka dan lempar karet gelangnya ke dia. Reaksinya diluar dugaan. Dia loncat, mata berair dan wajahnya pucat. Itu pertama kali saya tau kalau dia phobia karet gelang.

M ini lain lagi ceritanya. Dia sejak awal sudah kasih tau kalau dia takut jarum suntik, dan pernah pingsan setelah disuntik. Beberapa waktu lalu, M harus melakukan cek darah sehubungan dengan asuransinya. Petugas yang mengambil darah datang ke rumah, dan semua proses dilakukan di rumah. M juga sudah jelaskan kalau dia takut dan pernah pingsan.

Malam sebelum hari H, ekspresinya sudah mulai ajaib. Kelihatan kalau dia gelisah, dan sejak bangun tidur tangan dan badannya dingin. Begitu petugas datang, wajahnya mulai pucat. Dan badannya bergetar hebat ketika diminta berbaring di tempat tidur. Saya ga perlu jelasin lagi selanjutnya ya, tapi kali ini M ga pingsan. Saya yang deg-degan setengah mati liat reaksinya.

Setelah selesai, petugas melakukan proses interview riwayat medis dll. Baru saya tau apa-apa saja yang memicu phobia M muncul, dan salah satunya adalah duri pohon mawar! Sementara di halaman banyak banget pohon mawar, hadeuh kasian suamiku…

Saya ingat di Jakarta ada salah satu stasiun TV yang sering sekali memanfaatkan phobia orang lain untuk bahan lelucon. Dan entah kenapa juga bagi banyak orang, ekspresi ketakutan orang lain adalah sesuatu yang dianggap lucu. Mungkin memang lebih banyak orang berani ya di dunia ini… Tapi saya lebih berharap akan lebih banyak orang dengan empati dan kepedulian bahwa phobia itu ada dan ga bisa dengan mudah dikendalikan.

Iklan

Birth Preparation Class II

Postingan ini telat banget, secara ini hari Rabu dan besok adalah kelas terakhir. Gara-garanya udah ngetik panjang lebar, eh entah kenapa bukan mencet publish malah delete. Jadi males deh ngetik ulang lagi semuanya. But anyway, semoga ga bosen ya karena akan jadi rapelan nih.

Kelas kedua ini diadakan di ruang rawat inap ibu melahirkan, karena kebetulan ruang kelas yang sebelumnya kita gunakan sedang dalam proses renovasi. Lumayan jadi bisa sekalian liat tempat kita nginap nanti.

Berhubung ini fasilitas pemerintah, jadi ga ada kelas-kelasan. Ruang rawat inap di bangsal melahirkan hanya 2 macam. Kamar untuk pasien ibu hamil/melahirkan yang sakit, satu kamar sendiri. Sedangkan untuk ibu melahirkan, satu kamar berempat. Support person tidak diperbolehkan menginap, tapi boleh tinggal lebih lama untuk membantu menjaga bayi apabila sang ibu butuh istirahat. Jadi disini bayi ga tidur di ruang bayi, tetapi di ruangan rawat inap ibu. Makanya kamar mandi yang di dalam kamar rawat inap ini juga besar, karena para ibu biasanya membawa box bayinya masuk apabila mereka perlu ke kamar mandi. Bidan dan suster tentu akan membantu, tapi sepertinya akan jauh berbeda dengan perawatan di Jakarta. Pasien disini sepertinya diharapkan untuk mandiri, supaya cepat terbiasa juga kali ya. Bayi boleh digendong selama berada dalam kamar rawat inap, tapi kalau keluar pintu dan jalan-jalan harus diletakkan di box bayi.

Lama rawat inap untuk proses melahirkan natural 48jam, sedangkan untuk proses melahirkan caesar 96jam. Itu maksimal, tapi tentu saja mereka ga akan mengusir kita kalau memang kita dianggap masih memerlukan penanganan medis.

Selesai membahas tentang kamar, Bidan Peta menerangkan tentang penawar rasa sakit untuk proses melahirkan.
Yang pertama adalah pengalihan perhatian pasien dari rasa sakit. Bisa berupa berendam di bath-tub, pijat, TENS (semacam alat pijat), berjalan-jalan, dll. Kenapa jalan dan ga tiduran aja? Karena umumnya tiduran akan memperlambat proses melahirkan dan juga membuat ibu merasa lebih tidak nyaman.
Yang kedua adalah dengan gas Nitrous Oxide (laughing gas). Gas yang membantu ibu mengurangi rasa sakit. Bisa dilakukan terus menerus sampai menjelang waktu melahirkan.
Kemudian morfin (pethidine). Efek samping dari penggunaan morfin adalah, apabila bayi lahir dalam waktu kurang dari 4 jam setelah morfin disuntikkan ke tubuh ibu, maka tubuh bayi tsb harus berjuang keras mengolah sendiri morfin. Kasihan bayinya, makanya harus diperhitungkan waktu perkiraan lahir apabila akan dilakukan penggunaan morfin.
Pilihan terakhir adalah epidural. Apabila proses epidural sudah dimulai, maka ibu harus berbaring di tempat tidur dan segala peralatan pun mulai dipasangkan. Antara lain alat ukur kontraksi, alat ukur detak jantung bayi, dll. Karena ibu dalam keadaan bius dan tidak lagi mampu merasakan sakit atau apapun disekitar perut. Seperti pilihan di atas, apabila bayi lahir dalam waktu kurang dari 4jam atau efek epidural masih sangat kuat, kemungkinan akan diperlukan alat bantu (vacuum, dll) atau bahkan bisa berakhir dengan proses caesar. Bagaimana mau mendorong bayi keluar kalau kita tidak bisa merasakan apapun di bagian perut kan?
Apabila ibu memilih untuk dilakukan induksi, maka sejak awal ibu harus berbaring di tempat tidur dan peralatan pun mulai dipasang.

Saya berharap sih akan bisa bertahan dengan gas, tapi biar bagaimanapun, kami berdua memilih untuk keep all the obove options open. Secara ga tau nanti kemampuan dan kekuatan saya akan bisa sejauh apa menjalani proses melahirkan.

Selanjutnya, giliran phisioterapist Ocean yang ngomong. Kali ini topiknya adalah pelvic muscle.
Bagaimana menjaga agar pelvic muscle kita tetap kuat, supaya kalau (ini contoh mudahnya) batuk atau bersin ga langsung blas pipis. Huiii kemarin-kemarin saya suka ngeledek ibu dan adik saya, sekarang giliran saya nih usaha supaya ga kualat kekekeke…

Saya baru tau loh kalau ternyata laki-laki juga sebaiknya melatih pelvic muscle mereka hahahaa kirain perempuan aja yang punya dan bisa senam kegel ya?
Cara melatih pelvic muscle yang paling mudah adalah setelah pipis. Lakukan 3 kali latihan pelvic muscle setelah kita selesai, baru bebersih dan beranjak. Susah-susah gampang ya, soalnya yang tau kan cuma kita sendiri, ga kelihatan dari penampakan fisik.
Dan ternyata, posisi tubuh waktu pipis di toilet umum dengan nyaris duduk itu tidak dianjurkan. Karena hasil pipis kita ga maksimal, juga pelvic muscle-nya bekerja lebih sulit, antara menahan tubuh dan mengeluarkan cairan tubuh. Jadi lebih baik dibersihkan dulu aja dudukan toiletnya, atau ditutup dengan tisu sebelum kita gunakan.

Oiya, di awal pertemuan kami diperkenalkan dengan 2 orang bidan magang. Selama periode magang, mereka diharapkan mendampingi 22 pasien ibu hamil/melahirkan. Terserah kita mau mereka hadir di setiap sesi kunjungan ke rumah sakit, atau hanya pada saat melahirkan. Kalau yang saya dengar sih, keberadaan mereka ini lumayan membantu. Setidaknya kita akan ketemu wajah yang sama setiap kali kunjungan. Jadi ingat saya harus hubungi mereka untuk janjian minggu depan.

Walaupun Peta dan Ocean menerangkan dan memeragakan segala hal dengan cukup santai, ga bisa dipungkiri loh kalau di beberapa bagian nyali saya ciut dan jidat/hidung berkerut. Deg-degan neeeek…

Sepedaan di Perth

Sudah lama sekali rasanya sejak masa-masa saya main sepeda. Apalagi kalau bahas soal BMX, mungkin terakhir awal masuk SMP ya? Oiya, sempet juga punya sepeda (kecil) waktu kerja di Papua, lumayan buat keliling Kuala Kencana yang cantik itu.

Sampai di Perth, saya beli sepeda lagi. Walaupun tetap lebih banyak nongkrong di gudang, tapi lumayanlah saya lebih rajin dibanding di Jakarta.

Dari ujung utara Perth yaitu Joondalup, sampai ujung selatan yaitu Mandurah, jalur sepeda terbentang bebas merdeka. Pemerintah memang berupaya serius menggalakkan masyarakat untuk menggunakan transportasi umum dan sepeda untuk pergi ke kantor. Selain itu juga tersedia parkiran sepeda dan shower room di banyak gedung perkantoran.

Umumnya jalur sepeda ini bersisian dengan jalan bebas hambatan dan jalur kereta api. Sedangkan di jalan biasa, selalu tersedia jalur khusus sepeda dan pejalan kaki. Dibeberapa taman kota, jalur sepeda terpisah dari jalur pejalan kaki. Jadi yang sibuk jogging dan jalan kaki ga perlu khawatir tertabrak sepeda.

Sejauh ini jalur sepedaan favorit saya ya sepanjang pantai. Setelah itu di taman-taman kota. Saya juga pernah nyobain sepedaan dari rumah sampai Perth City, yang jaraknya sekitar 12km. Berarti kalau pp kan jadi 24km ya? Ihhh pengen nangis deh pas rute pulang dan lewat jalan menanjak yang panjang, udah mo ngambek nyerah aja saya hahaha…

Kemarin sore M bela-belain jalan kaki dari kantor ke stasiun kereta Leederville (sekitar 30menit) demi membungkam rengekan saya yang minta diambilkan beberapa foto jalur sepeda. Dan hasil fotonya banyak banget sampai bingung sendiri milih yang mana yang mau dipublish.

Dijalur yang ramai, rambu-rambu untuk pengendara sepeda ga kalah lengkap sama kendaraan bermotor. Peringatan untuk mengurangi kecepatan, mendahulukan jalur lain dan berbagi dengan pejalan kaki, sampai jalur berwarna hijau yang dibuat slip-proofed supaya kalau ng-rem lebih pakem. Bagian ini yang saya minta M untuk fotoin hehehehhe…

Oiya, November 2013 kemarin ada juga acara maraton dengan sepeda “The Santos Great Bike Ride”. Ada yang 10km (family ride), 53km (challenge ride) dan 98km (ultimate ride). Mertua saya yang memang hobi sepedaan ikut event ini kemarin, sepertinya boleh juga dicoba ikutan besok deh.

Kalau mau praktis bersepeda dengan balita, bisa menggunakan trailer. Semacam keranjang yang disambung ke sepeda, bisa diisi 2 balita dan lengkap dengan safety belt. Kalau lihat orang sih sepertinya cukup praktis dan aman ya, tapi kita belum ada rencana untuk beli buat Lil Aussie sih.

Langit biru, udara bersih, jalur khusus, kayanya gada alasan buat saya malas sepedaan disini ya?

20140123-144622.jpg

20140123-144636.jpg

20140123-144701.jpg

20140123-144712.jpg

20140123-144722.jpg

20140123-144739.jpg

20140123-144904.jpg

20140123-145324.jpg

Peanut Butter

20140121-143855.jpg

Ga tau kenapa, saya tuh suka banget sama segala hal yang ada peanut butter-nya. Roti bakar dengan selai kacang, terutama merk Sk*ppy itu… Peanut butter pancake-nya Nanny tsb yang enak banget… Peanut butter ice cream di salah satu gerai ternama… Pokoknya saya suka deh.

Jadi ketika beberapa waktu lalu ada iklan peanut butter ice cream keluaran salah satu supermarket di Australia sini, saya buru-buru meluncur buat beli. Entah jadwal mereka meleset atau memang banyak peminat, saya selalu menemukan rak di freezer itu kosong.

Baru beberapa minggu setelahnya saya akhirnya berhasil nemu si es krim itu, dan tentu saja enaaaaak… Klo ga inget ini itu, bisa habis sendiri sekaligus deh tuh satu mangkuk 500ml 😛

Sekarang saya sudah stok di rumah, daripada nanti kehabisan lagi. Jadi, silahkan mampir sini ya buat icip-icip dan makan es krim bareng 😉

Merindu si T

Belakangan ini saya kangeeen banget pengen tengkurap. Ga pernah nyangka bakalan ada periode dalam hidup saya akan merindukan posisi ini. Kebayang enaknya baca atau mainan gadget sambil tengkurap dan kaki ditekuk goyang-goyang santai.

Ada sepupu saya yang katanya bisa santai tidur tengkurap bahkan sampai hati terakhir sebelum melahirkan. Duh, saya kok ga tega ya rasanya, walaupun sudah pake bantal segala rupa. Tetap kasihan ngebayangin Lil Aussie kegencet di dalam perut.

Tenang ya dek, ibunya sabar menanti kok sampe nanti bisa tengkurap lagi…

Siapa yang sangka, kalau ternyata tengkurap itu juga salah satu nikmat dunia… 😋

Sukilala

Jadi ya, saya tuh orangnya cengeng. Kalau marah seringnya malah keluar air mata dan bukan ngomel-ngomel. Dan jangan tanya kalau sudah lagi PMS, segala hal bisa bikin saya tiba-tiba berkaca-kaca atau bahkan nangis tersedu-sedu sambil gigit bantal. M sudah hafal betul deh kebiasaan jelek saya ini, dan dia ini yang paling tahan banting menghadapi emosi saya yang sering naik turun ga jelas.

Kadang ada sesuatu yang nyangkut dipikiran saya, tapi ga enak hati mau nanya atau ngomel, jadi keluarnya malah uring-uringan ga jelas. Kadang lucu juga sih, banyak orang bilang saya kalau ngomong seenak hati dan ceplas ceplos. Sementara buat saya, segitu itu sudah banyak banget remnya hahaha… Mungkin ceplas ceplos urusan becandaan ya, kadang suka kecepetan mulut daripada otak, jadi blas ga pake saringan dan bikin orang sebal.

Anyway, semenjak berbadan dua, emosi saya jadi tambah mirip roller-coaster. Kadang cuma gara-gara M boboknya ngebelakangin saya, rasanya kaya dicuekin, trus langsung mewek. Parah.

Sampai suatu hari beberapa bulan lalu, saya nangis dan ga inget deh penyebabnya apa. Trus dia seperti biasa pukpuk saya dengan baik hati dan manisnya, trus manggil saya dengan sebutan Sukilala. Heh? Nama baru apalagi neeeeh…? Trus dia cengengesan, ambil ipon dan ketik-ketik, trus disodorin ke saya yang masih agak buram air mata.

20140113-095928.jpg

Wehhh ngeselin banget ya… Terdengar lucu, tapi maknanya itu dalam dan ngeledek banget.

Sejak itu kalau saya sudah menunjukkan tanda-tanda kumat cengengnya, dia langsung ngeliatin saya dengan muka jail dan bilang, “here comes my sukilala princess…”. Dan saya tentu saja jadi gengsi setengah mati lah mo nerusin mewek.

USG – 32 minggu

Akhirnya sampai juga di minggu ke-32, dan waktunya USG! 😋

Bukan apa-apa, soalnya hasil usg terakhir di minggu ke-20, posisi plasentanya agak rendah dan menutup jalan lahir. Saya sempat ketakutan karena langsung kepikiran placenta previa.

Teringat kejadian yang cukup traumatis waktu dulu saya kerja di klinik-nya salah satu perusahaan tambang di Papua. Tetangga depan rumah terdiagnosa kehamilan dengan placenta previa, dimana ibunya meninggal karena kehabisan darah. Alhamdulillah anaknya selamat. Tapi mengetahui proses yang terjadi sama mereka sudah membuat nyali saya ciut dan mata langsung buram penuh airmata.

Alhamdulillah dr. Robbins bilang kalau saya bukan placenta previa, hanya posisinya rendah saja dan kalau tidak ada perubahan terlihat di usg minggu ke-32, kemugkinan besar saya harus melahirkan secara caesar. Kalau positif placenta previa, saya pasti sudah harus bedrest total karena tidak boleh banyak bergerak. Lega banget rasanya. Langsung semangat lagi deh.

Saya pikir, melahirkan natural atau caesar ga terlalu masalah, yang penting saya dan Lil Aussie sehat dan lancar proses lahirnya.

Anyway, akhirnya ketemu lagi sama Lil Aussie walaupun cuma lihat di screen. Alhamdulillah plasenta sudah bergeser dan terlihat ada celah sekitar 3cm. Menurut petugas sonographer, saya bisa melahirkan dengan cara natural. Tapi dr. Robbins masih mau memastikan dengan usg lagi nanti di minggu ke-36. Dan keputusan terakhir nanti ada di tangan RS Osborne Park.

Apapun keputusannya, pasti jalan terbaik untuk saya dan Lil Aussie. Sekarang kita fokus aja untuk persiapan fisik melahirkan yang katanya butuh tenaga dan kemampuan bertahan yang bagus.

C’mon Lil Aussie, let’s get ourselves ready 😍

Birth Preparation Class I

Akhirnya kamis malam kemarin kami berdua ikutan Birth Preparation Class. Diadakan dalam 4 kali pertemuan setiap hari Kamis, jam 615-830 malam. Kelas ini gratis, dan diadakan di RS Osborne Park dimana kita rencananya akan melahirkan Lil Aussie nanti.

Btw ya, M dulu juga lahir di RS ini, karena rumah mereka masih dalam satu wilayah layanan RS Osborne Park. Semacam satu rayon gtu lah kalau jaman sekolah dulu 😋

Peserta yang hadir malam kemarin cukup banyak, ada sekitar 12 pasangan. Pemberi materi ada 2 orang; bidan Peta dan phisioterapist Ocean. Cara mereka menjelaskan cukup detail, lengkap dengan gerakan fisik yang penuh ekspresi (baca: drama bgts). Walaupun ada beberapa becandaan dan istilah medis yang saya ga paham, tapi secara keseluruhan bisa dimengerti dengan jelas.

Pertama dijelaskan mengenai apa-apa saja yang diperiksa oleh dokter/bidan dan kenapa, lalu gerakan yang baik dan benar dilakukan selama hamil dan pada saat bayi sudah lahir untuk menghindari low back pain dan sakit persendian, dan yang paling seru adalah bagian menjelang waktu melahirkan.

Bidan Peta bilang kalau kontraksi bisa dimulai beberapa minggu sebelum hari H, salah satunya yang disebut kontraksi palsu. Rasa sakitnya seperti sakit datang bulan, bisa semalaman sakit dan besoknya normal, sakit datang dan pergi.
Kontraksi tahap kedua, berlangsung selama 30detik, satu sama lain berjarak sekitar 10menit.
Kontraksi tahap ketiga, berlangsung selama 40detik, dengan selang waktu 10menit.
Kontraksi tahap akhir, berlangsung selama 60detik, beberapa kali dalam 10menit. Dan kalau sudah berlangsung cukup lama, itu artinya sudah waktunya berangkat ke rumah sakit.

Sedangkan indikasi kedua untuk segera ke rumah sakit adalah pecahnya air ketuban. Bisa dipastikan kalau bayi akan lahir dalam waktu 24jam setelah pecah air ketuban.

Dijelaskan juga peran suami (support person) pada saat kontraksi sudah mulai intens, apa-apa saja yang diharapkan dari para suami sehingga bumil bisa menjalani fokus dalam menjalani proses melahirkan dan stress-free.

Bumil diharapkan tinggal di rumah selama mungkin dan baru berangkat ke rumah sakit pada saat kedua indikasi tsb di atas muncul. Karena umumnya secara psikologis, rumah sakit memberi kesan tidak nyaman dan kalau itu terjadi akan dapat mrmbuat proses melahirkan menjadi lebih lama. Untungnya rumah sakit kami ini jaraknya hanya sekitar 5menit berkendara, karena posisinya sekitar 300m jalan kaki dan kelihatan dari depan rumah.

Oiya, dijelaskan juga posisi bayi yang paling baik untuk proses melahirkan natural adalah kepala di bawah dan menghadap ke arah ibunya. Kalau nanti posisi bayi tidak ideal, misalnya kepala di bawah tapi membelakangi ibu, dan pihak RS menyarankan untuk dilakukan ceasarian tapi kita tetap ingin normal, maka kita diharuskan pindah ke Kings Edward Hospital. Karena RS daerah tidak memiliki kelengkapan untuk keadaan khusus, dan semua tindakan sulit (complicated labour) hanya bisa dilakukan di Kings Edward Hospital.

Terus terang ya, mendengarkan penjelasan mereka sepanjang kelas berlangsung itu sejuta rasa banget. Ya semangat, ya tegang, ya takut juga…
Insya Allah kita bertiga kuat dan sehat ya, jadi semua bisa berjalan lancar tanpa halangan, aamiin…

Tambahan, saking banyaknya penjelasan sampe lupa beberapa hal berikut;

Setelah kelas selesai, kita diajak melihat area Birthing Suite atau area untuk melahirkan. Koridornya kelihatan beda banget sama area Maternity Ward, dan tadinya saya pikir (ngarep) ini adalah area VIP. Soalnya karpet koridornya beda, tata lampunya kelihatan lebih tenang dan adem, trus juga lebih sepi.

Ruang pertama yang kita lihat adalah kamar mandi. Bukan kamar mandi biasa loh, isinya cuma bath-tub yang super besar dan toilet. Jadi selama masa kontraksi, bumil bisa berendam disini bersama support person. Posisinya tentu ga seperti kita berendam pada umumnya. Posisi seperti berlutut dan lengan bersandar ke pinggiran bath-tub, hampir seperti nungging deh. Diharapkan ini akan membantu mengurangi rasa sakit tapi tidak menghambat proses bukaan.

Setelah itu kita ke ruangan lain yang cukup besar, dari pintu kita langsung masuk ke ruang duduk. Sebelah kanan ruang melahirkan lengkap dengan segala perlengkapan alat, bed besar dengan tumpuan kaki (mehh, langsung deg-degan loh lihat ini kekekekkk), walaupun ditata sedemikian rupa supaya tampak seperti kamar inap biasa, tetap mengerenyit juga jidat saya deh lihatnya.

Sebelah kiri dari ruang duduk adalah area kamar mandi, ukurannya biasa dan ga besar seperti kamar rendam. Sayang ga boleh ambil foto ruangan, jadi ya semoga penjelasannya cukup jelas ya…

Soal berapa orang support person yang kita inginkan itu terserah bumil, rumah sakit ga membatasi. Tapi kayanya klo diluar negeri ga bakal serame di Indonesia ya penunggunya. Waktu ponakan pertama saya lahir itu, wihhh yang nunggu diluar ruang operasi udah kaya orang nganter pergi haji, rameeee… Saya nanti cuma ditemani sama M dan ibu saya. Alhamdulillah ibu saya bersedia nemenin saya lama-lama di Perth dan ninggalin 2 cucunya. Tengkyu ya Mimo sayaaang *peyuks

Keajaiban Alam Semesta

Belakangan saya punya kebiasaan baru yang menakjubkan luar biasa. Semakin kesini kan Lil Aussie semakin meriah gerakannya, membuat perut saya bergerak naik turun, bergetar, berdenyut, kadang juga ngilu geli.

Memandangi perut saya yang bergerak-gerak itu Subhanallah banget rasanya, menyadari bahwa ada manusia kecil tumbuh di dalamnya, membuat mata saya selalu buram.

Sungguh sebuah anugrah maha luar biasa dan keajaiban alam semesta yang ga bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Lucunya ya, Lil Aussie justru paling aktif ketika saya dan M sudah goleran di tempat tidur, masih sibuk dengan bacaan masing-masing. Sepertinya Lil Aussie pengen pamer ke ayahnya ya klo sudah bisa jumpalitan dan akrobat. Dan melihat senyum dan mata M mandangin perut saya yang bergerak itu bikin hati saya meleleh…

Sehat terus ya Lil Aussie sayang, semoga semua lancar sampai waktunya nanti kita bertemu ya…

Love u,
Ibu & Daddy

Inferno, Dan Brown

20140105-000230.jpg

Seperti biasa buku-bukunya Dan Brown selalu menarik. Walaupun awalnya sempat ngerasa bosan sama alur ceritanya, tapi begitu ketemu sama ‘twist & turn’ khasnya Dan Brown, langsung ga bisa lepas deh.

Seingat saya cuma satu bukunya yang entah kenapa saya ga tertarik baca, Digital Fortress. Salah satu penulis yang saya tunggu bukunya ya dia ini.

Keren lah pokonya!