Hebohnya Urus Visa

Kita berdua sejak awal sepakat untuk memulai hidup baru di Perth. Dimana berarti saya harus mulai menyiapkan mental untuk hidup jauh dari kekuarga dan menghadapi segalanya sendiri. Dimana hal itu juga berarti saya butuh visa Australia untuk bisa tinggal disana tanpa batas waktu.

Sampai saat saya mengetik artikel ini, belum terpikirkan untuk mengganti paspor hijau menjadi biru. Toh pada dasarnya, pemegang permanent residence visa memiliki hak yang sama dengan warga negara Australia, kecuali dalam hal pemilihan umum. Dan pengecualian itu buat saya ga masalah sama sekali.

Seorang sahabat baik mengingatkan saya untuk menyimpan semua bukti korespondensi dengan M, atau apapun yang kelak akan bisa menjadi bukti keseriusan dan nyatanya hubungan kami. Dan kebetulan juga di awal hubungan, M rajin sekali kirim pos. Dari surat cinta, mainan kecil, kaos, buku-buku dan aksesoris. Jadi semua amplop pos dari M saya simpan baik-baik.

Menjelang akhir tahun 2012, mulailah kami lebih serius mencari tahu dan mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan visa Australia ini. Saya mulai  towal-towel Oom Google, baca postingan orang dan segala info yang nongol disana. M sibuk bongkar-bongkar website Imigrasi Australia.

Ternyata ada yang namanya Prospective Marriage Visa. Dimana visa ini berlaku selama 2 tahun, dan dalam kurun waktu tsb, pasangan harus sudah menikah dan sudah pernah berkunjung ke Australia untuk melihat calon kehidupan masa depannya. Sayangnya kami berencana menikah awal tahun 2013, dan kunjungan saya ke Perth pun sudah dilakukan pertengahan 2012, jadi kami tidak bisa menggunakan visa ini.

Visa yang akhirnya kami pilih adalah Partner Visa: Offshore Temporary and Permanent (subclass 309 and 100). Perhitungan waktu proses visa ini terbilang cukup menguntungkan buat kita, karena dihitung sejak tanggal kita menyerahkan dokumen ke Kedutaan Australia. Proses pengerjaan visa sendiri memakan waktu sekitar 6-12 bulan. Dan Temporary Residence Visa berlaku selama menunggu waktu 2 tahun untuk berganti menjadi Permanent Residence Visa.

Visa kami serahkan ke Kedutaan Australia di Kuningan pada akhir bulan Februari 2013. Karena visa ini seharusnya diajukan oleh pasangan yang sudah menikah, maka kami juga mencantumkan tanggal rencana pernikahan, berikut bukti kartu undangan dan surat keterangan terdaftar dari KUA.

Berikut beberapa dokumen dan kelengkapan yang harus dipenuhi dan dilampirkan dalam pengajuan visa, untuk lebih lengkapnya silahkan dilihat langsung di website Imigrasi Australia ya…

  • Surat yang dibuat oleh pelamar visa dan sponsor (CPW dan CPP) yang menyatakan dan/atau menceritakan hubungan mereka. Tidak perlu disahkan oleh notaris.
  • Formulir 888 yang dibuat oleh 2 orang saksi berwarga negara Australia, menyatakan bahwa mereka mengetahui kebenaran dan keseriusan hubungan tsb. Ditandatangani di hadapan notaris. Saksi kami adalah ibunya M dan rekan kerjanya yang kebetulan pernah bekerja di kantor Jakarta dan mengenal saya.
  • Bukti finansial, bukti keanggotaan bersama, atau bukti lain yang menyatakan pengakuan publik atas hubungan tsb. Untuk bukti finansial, M membuat rangkuman dari biaya trip kami berdua dan juga biaya yang selama ini timbul. Sedangkan bukti keanggotaan, M sejak awal mendaftarkan saya sebagai anggota klub Football kesukaannya, sehingga nomor serta kartu keanggotaan bisa dilampirkan sebagai bukti.
  • Surat keterangan kelakuan baik dari kepolisian Indonesia dan Australia.
  • Surat keterangan dari KUA mengenai terdaftarnya rencana pernikahan kami, beserta kartu undangan.
  • Untuk bukti korespondensi dan telpon, kami melampirkan amplop yang dikirim oleh M, rangkuman perjalanan M ke Jakarta dan saya ke Perth, juga foto beserta keterangan waktu dan acara.
  • Dokumen seperti akta lahir, kartu keluarga dll harus diterjemahkan oleh pihak yang telah ditunjuk oleh Kedutaan. Bisa dilihat langsung daftarnya di website.

Setelah visa diserahkan, pihak Kedutaan akan mengirimkan email berupa konfirmasi diterima ya dokumen kami, dokumen yang masih kurang, dan juga surat keterangan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Silahkan dicek juga di website untuk instansi yang ditunjuk oleh Kedutaan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan tsb.

Dua hari setelah pernikahan, kami berangkat lagi ke KUA untuk melegalisir Akta Nikah. Kemudian menyerahkan lagi ke Kedutaan beserta beberapa foto pernikahan. Lega rasanya. Sekarang bisa berangkat ke Perth untuk memulai hidup baru kami.

Oiya, selama menunggu proses partner visa, kita tetap bisa melakukan perjalan ke Australia dengan menggunakan Tourist Visa.

Untuk menyerahkan dokumen ke Kedutaan, kita harus membuat janji terlebih dahulu, melalui telpon ataupun email. Jangan lupa menyebutkan siapa saja yang akan datang, nama sesuai paspor dan nomor paspor. Jangan lupa paspornya dibawa waktu datang ya…

3 bulan berlalu, waktunya kembali ke Ibukota. Alhamdulillah beberapa hari setelah saya tiba di Jakarta, M dapat email dari Kedutaan yang menyatakan kalau Partner Visa saya disetujui. Dan saya juga terima telpon langsung dari Kedutaan. Alhamdulillah cukup menunggu 4.5 bulan saja, dan saya pun bisa berangkat dan kembali kapan saja tanpa perlu repot lagi urus visa. Dan yang pasti bisa tenang memulai hidup baru kami di Perth tanpa takut dikejar-kejar visa.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s