Kilas Balik

Sesuai dengan judul di atas, saya akan mulai dengan cerita awal mula pertemuan kami. Bukan sesuatu yang terlalu aneh rasanya, apalagi dengan maraknya media sosial sekarang ini. Hubungan antar benua pun bukan lagi barang antik, seiring dengan segala kemudahan yang disediakan oleh teknologi.

Pertemuan pertama kami berlangsung di lantai 3 sebuah gedung perkantoran di daerah Sudirman. M waktu itu datang sebagai salah satu anggota tim audit HSEC dari internal perusahaan kami, dan saya sebagai Travel Coordinator perusahaan di Indonesia. Jadi saya ikut sibuk mempersiapkan kedatangan mereka, kunjungan mereka ke site kami di Kalimantan, juga jamuan makan malam dan Jakarta City Tour. Saya sempat bilang ke beberapa teman baik di kantor kalau M tampak menarik, tapi dia tampak ga tertarik sama sekali karena dia adalah satu-satunya anggota rombongan yang ga pernah ngajakin saya ngobrol. Walaupun dia juga satu-satunya anggota rombongan yang entah kenapa malah pindah dari mobil auditor ke mobil kami pengiring city tour dan duduk di sebelah saya.

Sekitar satu bulan kemudian, tiba-tiba saya dapat email dari M yang bilang kalau dia sudah baca blog saya dan kagum sama tulisan saya. Ajaib! Padahal ga banyak orang yang tau kalau saya punya blog, karena saya juga ga mencantumkan identitas asli disana. Katanya di google nama saya dan ketemu lah semua media sosial saya di blogspot, multiply dan kompasiana. Sebagian besar dia terjemahkan lewat google translate. Waktu itu saya pikir, rada gila juga nih orang ya, hahahaa… Bagaimanapun, kemudian komunikasi berlanjut.

Semua orang yang kenal saya tau persis kalau saya ga pernah tertarik untuk menjalin hubungan dengan orang asing. Tapi entah kenapa dengan M ini kok rasanya natural banget, semua mengalir aja tanpa banyak babibu. Saya selalu berpikir, menjalin hubungan dengan yang sama-sama ngomong bahasa Indonesia aja sering salah paham, gmana dengan yang beda bahasa, beda negara, duhhh malas ribet. Apalagi beda agama, big no!

Suatu hari di bulan November 2011, M pergi ke Perth Mesjid. Maksudnya sih untuk tanya-tanya dan mendalami Islam lebih jauh. Tapi ternyata setibanya disana, entah bagaimana, dia memutuskan untuk masuk Islam. “I can’t explain why, but I feel so peacefull inside and it feels right, so I decided to be a moslem”, begitu katanya.

Reaksi saya? Bengong dan sedikit panik. Wah, ini orang serius sama saya ya?… Sejak awal M kirim email itu saya sudah cerita sama orang rumah, tapi ya karena semua tau kalau saya ga suka orang asing jadi ga ditanggapi secara serius. Baru mulai heboh setelah M beli tiket dan akan tiba di Jakarta skitar akhir Desember. Suasana rumah mulai panas, diskusi serius mulai bermunculan secara rutin, bikin stres!

Singkat cerita, M datang. Kehebohan dalam hidup saya pun dimulai. Jreng jreeeeng…

Segala aturan saya terapkan. Ga boleh gandeng-gandeng saya di depan umum, ga boleh ini itu blablabla. Walaupun bekerja dengan orang asing bukan barang baru buat saya, dan menemani mereka jalan juga sering saya lakukan, pergi berdua sama M ini membuat saya jadi merasa kikuk. Saya ga nyaman dengan pandangan orang-orang. Stempel stereotype perempuan Indonesia dengan orang asing itu membuat saya ga nyaman.

Kedatangan M yang pertama buat saya ini berlangsung selama 3 minggu dan saya ga ambil cuti sama sekali. M tinggal di apartemen dekat rumah orang tua saya. Jadi pagi-pagi dia jemput saya ke rumah, berangkat kantor sama-sama, sarapan di kedai kopi gedung kantor saya, nunggu di sana sampai mall buka, pindah muter-muter mall sampai dekat waktu makan siang, balik ke kantor saya, makan siang bareng, muter mall lagi, jemput saya pulang kantor, makan malam bareng, antar saya pulang dan kemudian dia balik ke apartemen. Ada hari tertentu dimana abis anter saya ke kantor, dia balik ke rumah saya dan ngobrol sama orang rumah, atau belajar agama sama Ustadz yang dipanggil sama orang tua saya.

Sebelum kembali ke Perth, M menghadap orang tua saya. Mengungkapkan maksud dan keseriusannya menjalin hubungan dengan saya, juga rencana kami. Alhamdulillah orang tua saya merestui.

Dan alhamdulillah semua berjalan lancar, sampai akhirnya kita berdua bisa sama-sama memulai hidup baru sejak 7 April 2013 kemarin. Semoga kami berdua bisa terus tumbuh dewasa dalam menjalani hidup dengan baik dan bahagia, sampai waktunya nanti. Aamiin…

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s