Penghuni Baru

Yang paling bikin bingung soal pindahan adalah proses pilah-pilah barang apa yang mau dibawa. Secara saya itu orangnya senang menyimpan barang. Surat dan kartu dari jaman rikiplik masih tersimpan rapi dalam kotak khusus, boneka dan mainan juga punya rak sendiri, belum lagi buku dan aksesoris. Percaya atau ga, saya masih menyimpan semua koleksi kertas surat yang waktu jaman SD suka tukaran sama teman (ketauan ya saya anak lama kekekekek…).

Akhirnya saya putuskan kloter pertama pindahan ini saya cuma akan bawa baju sesuai musim – kebetulan saya datang sekitar musim dingin, beberapa kain batik dan aksesoris. Yang terakhir ini saya angkut semuanya.

Setiap aksesoris saya simpan dalam kantung kecil supaya ga rusak, dan bisa aman diselipkan dalam koper. Cukup lama aksesoris saya disimpan dalam koper sebelum akhirnya menemukan lemari cantik ini.

image

Sekarang aksesoris saya bisa bernafas lega dan tergantung manis deh…

Iklan

Perth Intl Jazz Festival

Saya dan beberapa teman baik selalu menyempatkan nonton Java Jazz Festival yang diadakan setiap awal Maret di Jakarta. Jadi waktu saya lihat ada plang bertuliskan Perth International Jazz Festival, rasanya langsung campur aduk. Antara semangat, dan merindu gerombolan Java Jazz saya beserta tanda pass VIP dari  seorang teman kesayangan (yes, you, who else?).

Salah satu pertunjukan diadakan di Perth Cultural Stage, Northbridge. Seperti bisa dilihat, tempatnya menyenangkan sekali ya… Disediakan bantal dan kursi supaya tambah nyaman nontonnya.

Mari pantengin jadwalnya tahun depan…

Kemping di Kalbarri

Setelah beberapa minggu persiapan, akhirnya jadi juga deh rencana kita mau camping. Ternyata camping ala bule itu beda banget sama yang biasa kita kerjain di Indonesia. Sempet bengong juga pas diajak ke beberapa toko perlengkapan outdoor seperti Anaconda, Ray’s dan BCF (boating, camping, fishing). Buat saya, camping itu ya tidur alakadarnya pake sleeping bag dalam tenda, punya tikar untuk duduk dan siap untuk ga mandi secara toilet pasti alakadarnya banget. Jadi pas Masbul sibuk melototin tenda, kursi, kasur tiup, dipan lipat, alat barbeque dan segala macem, saya sempet protes. Heloooow, ini camping gtu loh, ngapain sih beli begituan, mahal pulak. Jawabannya cuma, ya ini kan peralatan standar, nanti sakit dong badannya kalau ga nyaman tidur karena alasnya keras. Dan demikianlah, saya nyengir aja deh pas akhirnya segala tenda, sleeping bag, kursi, meja, kasur tiup, termos, kotak pendingin, perlengkapan makan, lampu dan kabel penyambung listrik yang super panjang itu pelan-pelan masuk keranjang belanjaan. Baru pulang belanja aja bagasi udah penuh, ga kebayang deh pas nanti berangkat bakal kaya apa.

Kita memutuskan lokasi camping pertama ini di Kalbarri, lumayan jauh dari Perth, sekitar 590km atau 8 jam perjalanan. Makanya kita nginepnya jadi 2 malam, supaya ga terlalu babak belur di jalan. Salah satu alasan kenapa Kalbarri, karena posisinya agak ke utara jadi kita berharap suhunya belum akan terlalu dingin.

Dan hari itu, Sabtu, 1 Juni 2013 jam 6 pagi, berangkatlah kita dari rumah. Suhu 8 derajat aja dong… Mulai berdoa semoga cuaca di Kalbarri beneran akan lebih hangat.

Sekitar waktu makan siang kita tiba di Geraldton, penampakan kotanya cantik berlaut biru. Muter-muter sedikit dan akhirnya nyangkut di McD, makan siang praktis dan lanjut mampir ke IGA supermarket beli perbekalan. Mengingat bagasi udah sesak jadi kita cuma beli roti dan mie instan. Kita bawa cukup banyak buah, jus dan cemilan dari rumah. Ini satu lagi yang beda, keluarga saya itu tukang ngunyah, jadi kalau pergi jauh pasti segala macam kunyahan kesukaan masing-masing tersedia di mobil. Sementara Masbul ini cemilannya buah dan fruit bar kekekekekekk… Berat yak?

Perjalanan luar kota di Western Australia umumnya melewati peternakan, hutan, padang rumput dan padang pasir. Kalau beruntung ya bisa ketemu kangguru juga di pinggir jalan atau malah nyebrang jalan. Saya ga bosan deh liat ratusan domba, sapi, kuda, alpaca (ga paham Bhs. Indonesia-nya apa), kambing dan segala macam di peternakan yang kita lewatin. Plus padang rumput hijau yang kayanya ga putus-putus.

Kita sampe di Kalbarri sekitar jam 430, langsung ke Murchison River Caravan Park (www.murcp.com.au). Wihhh seru, berbagai model caravan, campervan dan tenda belatakan disana. Kalau ga bawa tenda atau caravan, kita juga bisa menginap di cabin yang disediakan. Setiap spot dapat fasilitas 1 colokan listrik dan 1 keran air. Dan kita ga boleh nyalain api untuk masak ataupun bikin api unggun karena caravan park ini berada dalam wilayah Kalbarri National Park. Tapi disediakan area dan fasilitas untuk barbeque, juga ruang laundry dan toilet plus shower yang tentu saja lengkap ada air panas dan dingin. Nyaman dan bersih, sayangnya ga sempat ambil foto karena selalu ada orang lain. Ga enak hati mo ambil fotonya.

image

image

Tenda kita ukurannya cukup besar, terbagi 3 ruang di dalamnya. Ruang tengah untuk barang dan kiri kanan untuk kamar tidur. Ga butuh waktu lama untuk berdiriin tenda, praktis banget. Selain itu ada tenda cover juga untuk nahan angin dan hujan. Selesai tiup kasur dan gelar sleeping bag, kita keluarin perbekalan deh. Abis itu mandi dan molorrr… Gelap gulita dan sepi, karena salah satu peraturannya adalah ga boleh berisik terutama setelah jam 10 malam. Kalbarri memang lebih hangat sih dibanding Perth, tapi anginya ya ampooon ngagebeg pisan. Untung kita beli sleeping bag-nya yang kiri-kanan jadi bisa disambung, plus kasur tiup dan bantal yang bikin berasa bobok nyaman di kamar sendiri.

Hari Minggu, 2 Juni 2013.

Pagi-pagi kita udah nongkrong di pantai seberang caravan park untuk lihat Pelican Feeding. Acara ini diadakan setiap hari jam 845 pagi. Agak molor secara pelikannya males melipir ke pantai, tapi untung kebagian juga liatnya.

image

Setelah selesai kita langsung menuju The Loop (Nature’s Window) dan Z-Bend. Sayang sungainya lagi kering jadi mungkin kalau dilihat fotonya ga terlalu kelihatan River Gorges-nya. Kedua tempat ini bisa dicapai dengan jalan kaki, dan lokasinya ga jauh dari parkiran mobil. Kita berdua pengen bisa balik lagi karena penasaran pengen nyobain walking track-nya, seru banget pasti bisa keliling di sepanjang river gorges dengan pemandangan yang spektakuler begitu.

image

Perjalanan lanjut menyusuri Coastal Cliffs. Haduhhh keren bgts! Tebing-tebing cantik sepanjang 13km ini bentuknya macam-macam. Berurutan dari lokasi terluar Kalbarri, ada Natural Bridge, Island Rock, Shellhouse Grandstand, Eagle Gorge, Pot Alley, Rainbow Valley, Mushroom Rock, dan terakhir Red Bluff. Perjalanan kita ditutup dengan lihat matahari terbenam dari pantai Red Bluff. Disini juga ada walking track sepanjang pesisir coastal cliff, kebayang cantik banget deh pasti… Moga-moga ada kesempatan untuk bisa balik lagi.

image

Pas beli makan malam, after sunset-nya kelihatan cantik banget. Ditambah puluhan burung yang mondar mandir berisik, langit masih semburat senja, beneran cantik.

image

Senin, 3 Juni 2013.

Pagi selesai sarapan kita langsung siap-siap pulang. Perjalanan panjang kembali ke Perth. Ga jauh dari Kalbarri, ada danau merah muda namanya Hutt Lagoon. Danaunya luas banget dan pagi itu warnanya betul-betul merah muda. Warnanya ini terbentuk dari ganggang, dan juga kadar garam yang tinggi (semoga ga salah penjelasannya). Jadi ingat Pink Beach-nya Pulau Komodo yang butiran pasirnya merah muda (peyuk gerombolan Sujana-Jejak Kaki kesayangan). Sayang kita ga nemu spot untuk parkir jadi ga bisa deh ambil foto.

Seperti rute berangkat, kita mampir lagi di Geraldton untuk makan siang. Sekalian juga mampir di tugu peringatan HMAS Sydney II Memorial. Tugu yang dibangun untuk memperingati gugurnya 645 orang kru kapal perang HMAS Sydney II waktu perang dunia kedua. Atap tugu terbuat dari perak berbentuk elang laut berjumlah 645, sesuai dengan jumlah kru yang gugur. Oiya, kapal Belanda yang namanya Batavia itu juga terdampar dekat Geraldton pada saat berlayar menuju Jakarta. Jadi jangan heran kalau pas mampir disini lihat ada beberapa plang bertuliskan ‘Batavia’.

image

Terakhir kita mampir ke Pinnacles. Cerita soal ini nanti dibahas terpisah aja ya, keren dan antik banget soalnya.

Sedikit tips untuk berlibur disini:
1. Usahakan tiba ditujuan sebelum gelap, karena jalanan luar kota umumnya sepi banget dan jarang pemukiman.
2. Kangguru senang berkeliaran sekitar waktu matahari terbit dan terbenam. Dengan jalan luar kota yang mulus, kecepatan kendaraan 100km/jam dan ukuran kangguru yang gude, kecelakaan fatal bisa terjadi kalau kita sampai nabrak mereka.
3. Selalu sedia botol air minum yang terisi penuh, karena di lokasi wisata jarang sekali tersedia toko. Beberapa tempat malah betul-betul hanya area parkir tanpa pos penjagaan.
4. Lebih baik selalu mampir kalau ada tempat peristirahatan dan pom bensin. Karena, percaya deh, tempat peristirahatan selanjutnya jauh banget. Ga seperti di Indonesia yang banyak rumah penduduk, rumah makan maupun wc umum.
5. Sesuai aturan fatigue management, sebaiknya berhenti untuk istirahat setiap 2 jam sekali.
6. Matahari disini tuh teriknya ga bohong, dan kering banget udaranya. Jadi selain kacamata hitam dan sunscreen, harus banyak minum karena buat kita yang terbiasa dengan matahari dan kelembaban negara tropis, beneran bisa bikin sakit kepala atau bahkan muntah. Yup, saya yang ga takut matahari udah ngalamin bagian ga enak ini, padahal cuman nonton Masbul main hoki aja di lapangan.

Demikian ya, semoga cerita liburan selanjutnya bisa segera diposting…

Bun in the oven!

Stripnya dua!

Akhir Juni 2103, saya sudah mulai curiga kalau saya hamil. Tapi toh akhir bulan lalu pun saya merasa demikian, yang ternyata hanya telat saja. Jadi saya pikir ceknya nanti saja kalau sudah betul-betul telat. M yang sudah instal aplikasi siklus bulanan saya bilang, kalau menurut aplikasi saya sudah telat 5 hari. Dan dia sudah minta saya cek dengan test-pack. Saya tetap masih mau tunggu.

Sehubungan dengan berakhirnya masa kunjungan visa, saya harus kembali sebelum 11 Juli. Tapi karena ayah saya ulang tahun tgl. 4 Juli, jadilah saya ambil penerbangan sehari sebelumnya.

Sehari sebelum keberangkatan, M sudah minta lagi untuk cek dengan test-pack. Akhirnya pagi itu saya cek deh, hasilnyaaaa ada 2 strip walaupun strip kedua masih samar. Rasanya pengen nyuru M pulang lagi aja deh, lemas badan saya, takjub terharu sejuta rasa.

Malamnya, M minta saya cek lagi, kali ini dia yang nongkrongin test-pack. Dan strip kedua muncul sama tegasnya dengan strip lainnya. Alhamdulillah… Kami berdua kehilangan kata-kata. Mukanya M aneh banget, sampai saya jadi ga yakin sendiri apa dia senang atau kecewa.

Ga lama kemudian berangkatlah kami ke airport. Rasanya ga karuan banget deh, baru tau kalau saya hamil malah harus pergi ninggalin M dan jauh-jauhan lagi. Huhuhu udah kerasa burem deh mata.

Ternyata ya, M mungkin juga kaget n ga percaya kalau istrinya ini hamil, jadi tadi mukanya ajaib. Soalnya pas di airport itu dia pegang-pegang perut saya, dan ngeliatin saya kaya orang jatuh cinta. Gawat deh, bisa melow jelow saya nanti di Jakarta.

Oiya, M tuh wanti-wanti banget supaya saya ga kasih tau siapa-siapa tentang kehamilan ini sampai usianya 12 minggu. Ihhhh maafkan ya M dahling, istrimu ini ga sabaran dan sudah keburu ngasih tau orang rumah. Semoga semua berjalan lancar dan baik, sehat dan sempurna.

Alhamdulillah…

Terima kasih ya Allah, atas amanah yang Engkau percayakan pada kami berdua. Semoga kami mampu menjaganya dengan baik. Aamiin…

Hebohnya Urus Visa

Kita berdua sejak awal sepakat untuk memulai hidup baru di Perth. Dimana berarti saya harus mulai menyiapkan mental untuk hidup jauh dari kekuarga dan menghadapi segalanya sendiri. Dimana hal itu juga berarti saya butuh visa Australia untuk bisa tinggal disana tanpa batas waktu.

Sampai saat saya mengetik artikel ini, belum terpikirkan untuk mengganti paspor hijau menjadi biru. Toh pada dasarnya, pemegang permanent residence visa memiliki hak yang sama dengan warga negara Australia, kecuali dalam hal pemilihan umum. Dan pengecualian itu buat saya ga masalah sama sekali.

Seorang sahabat baik mengingatkan saya untuk menyimpan semua bukti korespondensi dengan M, atau apapun yang kelak akan bisa menjadi bukti keseriusan dan nyatanya hubungan kami. Dan kebetulan juga di awal hubungan, M rajin sekali kirim pos. Dari surat cinta, mainan kecil, kaos, buku-buku dan aksesoris. Jadi semua amplop pos dari M saya simpan baik-baik.

Menjelang akhir tahun 2012, mulailah kami lebih serius mencari tahu dan mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan visa Australia ini. Saya mulai  towal-towel Oom Google, baca postingan orang dan segala info yang nongol disana. M sibuk bongkar-bongkar website Imigrasi Australia.

Ternyata ada yang namanya Prospective Marriage Visa. Dimana visa ini berlaku selama 2 tahun, dan dalam kurun waktu tsb, pasangan harus sudah menikah dan sudah pernah berkunjung ke Australia untuk melihat calon kehidupan masa depannya. Sayangnya kami berencana menikah awal tahun 2013, dan kunjungan saya ke Perth pun sudah dilakukan pertengahan 2012, jadi kami tidak bisa menggunakan visa ini.

Visa yang akhirnya kami pilih adalah Partner Visa: Offshore Temporary and Permanent (subclass 309 and 100). Perhitungan waktu proses visa ini terbilang cukup menguntungkan buat kita, karena dihitung sejak tanggal kita menyerahkan dokumen ke Kedutaan Australia. Proses pengerjaan visa sendiri memakan waktu sekitar 6-12 bulan. Dan Temporary Residence Visa berlaku selama menunggu waktu 2 tahun untuk berganti menjadi Permanent Residence Visa.

Visa kami serahkan ke Kedutaan Australia di Kuningan pada akhir bulan Februari 2013. Karena visa ini seharusnya diajukan oleh pasangan yang sudah menikah, maka kami juga mencantumkan tanggal rencana pernikahan, berikut bukti kartu undangan dan surat keterangan terdaftar dari KUA.

Berikut beberapa dokumen dan kelengkapan yang harus dipenuhi dan dilampirkan dalam pengajuan visa, untuk lebih lengkapnya silahkan dilihat langsung di website Imigrasi Australia ya…

  • Surat yang dibuat oleh pelamar visa dan sponsor (CPW dan CPP) yang menyatakan dan/atau menceritakan hubungan mereka. Tidak perlu disahkan oleh notaris.
  • Formulir 888 yang dibuat oleh 2 orang saksi berwarga negara Australia, menyatakan bahwa mereka mengetahui kebenaran dan keseriusan hubungan tsb. Ditandatangani di hadapan notaris. Saksi kami adalah ibunya M dan rekan kerjanya yang kebetulan pernah bekerja di kantor Jakarta dan mengenal saya.
  • Bukti finansial, bukti keanggotaan bersama, atau bukti lain yang menyatakan pengakuan publik atas hubungan tsb. Untuk bukti finansial, M membuat rangkuman dari biaya trip kami berdua dan juga biaya yang selama ini timbul. Sedangkan bukti keanggotaan, M sejak awal mendaftarkan saya sebagai anggota klub Football kesukaannya, sehingga nomor serta kartu keanggotaan bisa dilampirkan sebagai bukti.
  • Surat keterangan kelakuan baik dari kepolisian Indonesia dan Australia.
  • Surat keterangan dari KUA mengenai terdaftarnya rencana pernikahan kami, beserta kartu undangan.
  • Untuk bukti korespondensi dan telpon, kami melampirkan amplop yang dikirim oleh M, rangkuman perjalanan M ke Jakarta dan saya ke Perth, juga foto beserta keterangan waktu dan acara.
  • Dokumen seperti akta lahir, kartu keluarga dll harus diterjemahkan oleh pihak yang telah ditunjuk oleh Kedutaan. Bisa dilihat langsung daftarnya di website.

Setelah visa diserahkan, pihak Kedutaan akan mengirimkan email berupa konfirmasi diterima ya dokumen kami, dokumen yang masih kurang, dan juga surat keterangan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Silahkan dicek juga di website untuk instansi yang ditunjuk oleh Kedutaan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan tsb.

Dua hari setelah pernikahan, kami berangkat lagi ke KUA untuk melegalisir Akta Nikah. Kemudian menyerahkan lagi ke Kedutaan beserta beberapa foto pernikahan. Lega rasanya. Sekarang bisa berangkat ke Perth untuk memulai hidup baru kami.

Oiya, selama menunggu proses partner visa, kita tetap bisa melakukan perjalan ke Australia dengan menggunakan Tourist Visa.

Untuk menyerahkan dokumen ke Kedutaan, kita harus membuat janji terlebih dahulu, melalui telpon ataupun email. Jangan lupa menyebutkan siapa saja yang akan datang, nama sesuai paspor dan nomor paspor. Jangan lupa paspornya dibawa waktu datang ya…

3 bulan berlalu, waktunya kembali ke Ibukota. Alhamdulillah beberapa hari setelah saya tiba di Jakarta, M dapat email dari Kedutaan yang menyatakan kalau Partner Visa saya disetujui. Dan saya juga terima telpon langsung dari Kedutaan. Alhamdulillah cukup menunggu 4.5 bulan saja, dan saya pun bisa berangkat dan kembali kapan saja tanpa perlu repot lagi urus visa. Dan yang pasti bisa tenang memulai hidup baru kami di Perth tanpa takut dikejar-kejar visa.

Kilas Balik

Sesuai dengan judul di atas, saya akan mulai dengan cerita awal mula pertemuan kami. Bukan sesuatu yang terlalu aneh rasanya, apalagi dengan maraknya media sosial sekarang ini. Hubungan antar benua pun bukan lagi barang antik, seiring dengan segala kemudahan yang disediakan oleh teknologi.

Pertemuan pertama kami berlangsung di lantai 3 sebuah gedung perkantoran di daerah Sudirman. M waktu itu datang sebagai salah satu anggota tim audit HSEC dari internal perusahaan kami, dan saya sebagai Travel Coordinator perusahaan di Indonesia. Jadi saya ikut sibuk mempersiapkan kedatangan mereka, kunjungan mereka ke site kami di Kalimantan, juga jamuan makan malam dan Jakarta City Tour. Saya sempat bilang ke beberapa teman baik di kantor kalau M tampak menarik, tapi dia tampak ga tertarik sama sekali karena dia adalah satu-satunya anggota rombongan yang ga pernah ngajakin saya ngobrol. Walaupun dia juga satu-satunya anggota rombongan yang entah kenapa malah pindah dari mobil auditor ke mobil kami pengiring city tour dan duduk di sebelah saya.

Sekitar satu bulan kemudian, tiba-tiba saya dapat email dari M yang bilang kalau dia sudah baca blog saya dan kagum sama tulisan saya. Ajaib! Padahal ga banyak orang yang tau kalau saya punya blog, karena saya juga ga mencantumkan identitas asli disana. Katanya di google nama saya dan ketemu lah semua media sosial saya di blogspot, multiply dan kompasiana. Sebagian besar dia terjemahkan lewat google translate. Waktu itu saya pikir, rada gila juga nih orang ya, hahahaa… Bagaimanapun, kemudian komunikasi berlanjut.

Semua orang yang kenal saya tau persis kalau saya ga pernah tertarik untuk menjalin hubungan dengan orang asing. Tapi entah kenapa dengan M ini kok rasanya natural banget, semua mengalir aja tanpa banyak babibu. Saya selalu berpikir, menjalin hubungan dengan yang sama-sama ngomong bahasa Indonesia aja sering salah paham, gmana dengan yang beda bahasa, beda negara, duhhh malas ribet. Apalagi beda agama, big no!

Suatu hari di bulan November 2011, M pergi ke Perth Mesjid. Maksudnya sih untuk tanya-tanya dan mendalami Islam lebih jauh. Tapi ternyata setibanya disana, entah bagaimana, dia memutuskan untuk masuk Islam. “I can’t explain why, but I feel so peacefull inside and it feels right, so I decided to be a moslem”, begitu katanya.

Reaksi saya? Bengong dan sedikit panik. Wah, ini orang serius sama saya ya?… Sejak awal M kirim email itu saya sudah cerita sama orang rumah, tapi ya karena semua tau kalau saya ga suka orang asing jadi ga ditanggapi secara serius. Baru mulai heboh setelah M beli tiket dan akan tiba di Jakarta skitar akhir Desember. Suasana rumah mulai panas, diskusi serius mulai bermunculan secara rutin, bikin stres!

Singkat cerita, M datang. Kehebohan dalam hidup saya pun dimulai. Jreng jreeeeng…

Segala aturan saya terapkan. Ga boleh gandeng-gandeng saya di depan umum, ga boleh ini itu blablabla. Walaupun bekerja dengan orang asing bukan barang baru buat saya, dan menemani mereka jalan juga sering saya lakukan, pergi berdua sama M ini membuat saya jadi merasa kikuk. Saya ga nyaman dengan pandangan orang-orang. Stempel stereotype perempuan Indonesia dengan orang asing itu membuat saya ga nyaman.

Kedatangan M yang pertama buat saya ini berlangsung selama 3 minggu dan saya ga ambil cuti sama sekali. M tinggal di apartemen dekat rumah orang tua saya. Jadi pagi-pagi dia jemput saya ke rumah, berangkat kantor sama-sama, sarapan di kedai kopi gedung kantor saya, nunggu di sana sampai mall buka, pindah muter-muter mall sampai dekat waktu makan siang, balik ke kantor saya, makan siang bareng, muter mall lagi, jemput saya pulang kantor, makan malam bareng, antar saya pulang dan kemudian dia balik ke apartemen. Ada hari tertentu dimana abis anter saya ke kantor, dia balik ke rumah saya dan ngobrol sama orang rumah, atau belajar agama sama Ustadz yang dipanggil sama orang tua saya.

Sebelum kembali ke Perth, M menghadap orang tua saya. Mengungkapkan maksud dan keseriusannya menjalin hubungan dengan saya, juga rencana kami. Alhamdulillah orang tua saya merestui.

Dan alhamdulillah semua berjalan lancar, sampai akhirnya kita berdua bisa sama-sama memulai hidup baru sejak 7 April 2013 kemarin. Semoga kami berdua bisa terus tumbuh dewasa dalam menjalani hidup dengan baik dan bahagia, sampai waktunya nanti. Aamiin…