Selai Apricot ala Neng D

Ga pernah kebayang sebelumnya bahwa hari ini saya akan berhasil bikin selai apricot. Cengiran saya lebar banget deh, bangga banget sama kemajuan yang saya capai dalam waktu yang lumayan singkat.

Kemarin ini kami panen apricot, satu pohon yang tidak terlalu besar itu menghadiahkan kami satu baskom apricot. Itu sudah sempat dipanen teman saya satu kantong besar. Jadi kayanya hasil panen kali ini lumayan sangat sukses. Setelah itu saya bingung, mau diapakan apricot sebanyak ini? Takut keburu busuk malah jadi mubazir. Dan kami ga punya tetangga, depan rumah lapangan besar, kanan drainase, gang buntu pulak.

Lalu M bilang kalau dia suka sekali selai apricot. Jadilah kami sepakat untuk bikin selai, dengan resep contekan dari internet.

Pagi itu kami ke shopping center untuk cari botol selai, lemon dan gula. Sampai rumah langsung deh sibuk di dapur.

Bahan yang dibutuhkan:

  • 8 cup apricot yang sudah dikupas, dibuang bijinya dan dilembutkan
  • 1/4 cup air perasan lemon
  • 6 cup gula

Cara memasak:

  • Campur apricot dan air perasan lemon dalam panci, aduk rata
  • Masukkan gula, masak sampai mendidih dengan api kecil
  • Buang busa dan masak sampai mengental atau kurang lebih 25 menit

Proses memasak selai ternyata lumayan gampang, walaupun persiapan apricot-nya lumayan lama dan bikin pegal 😋 yang agak susah buat saya adalah memasukkan selai yang masih panas ke dalam botol panas hasil steril.

Bersamaan dengan selai yang mulai matang, proses sterilisasi botol selai pun dimulai. Botol dan tutupnya dimasak sampai air mendidih dan dibiarkan dalam panci dengan api kecil, sampai selai siap dimasukkan dalam botol. Dan tutup botol dibiarkan dalam panci berapi kecil sampai botol siap di tutup. Botol ditutup dalam keadaan selai masih panas dan mulut botol sudah dibersihkan. Bagian ini semua M yang kerjakan 😍

Dari sebaskom apricot, kami bisa buat 5 botol selai. Keren ya? 😉

Saya jadi tergoda untuk mulai bikin selai sendiri. Ternyata masak sendiri itu betul-betul bikin pilihan untuk hidup lebih sehat jadi lebih mudah.

Iklan

Gendut

Belakangan ini saya teramat jengah dengan kata yang satu ini; gendut.

Rasanya setiap hari akan ada perempuan yang posting foto dengan caption gendut, ataupun komentar di foto dengan kata dan kalimat serupa. Abaikan lebar pinggang, posisi miring andalan (biar perut ketutupan), lupakan lengan gelambir, salah fokus ke pipi chubby, dan lain-lain dan sebagainya dan seterusnya.

Berat saya sekarang 69 kg, dengan tinggi 154 cm.

Iya, saya gendut.

Saya sangat suka makan dan sangat malas olahraga. Jadi saya gendut, ya sudahlah.

Ada salah satu teman yang hampir selalu bilang kalau dia gendut. Entah di sosial media, ataupun di whatssap grup. Padahal dia ga gendut. Dan ini hampir setiap hari. Iya, setiap hari.

Ada satu teman yang statusnya selalu tentang upaya supaya kurus, padahal dia sekarang sudah sangat kurus dibanding beberapa tahun lalu. Sampai beberapa orang, termasuk saya, khawatir jangan-jangan dia terobsesi pengen kurus.

Dan banyak orang yang entah karena ga ada ide mau pasang caption apa di foto selfie-nya, lalu isinya hanya tentang gendut.

You know what? You really do not need excuses to post a selfie picture. Yang suka tinggal kasih jempol, yang ga suka ya tinggal lewat aja kan?

Sungguh melelahkan.

Kalau ga mau gendut ya hidup sehat lah, olahraga teratur dong. Ga usah mengeluh dan berisik setiap saat di sosial media, capek bacanya. Sama capeknya kaya baca perseteruan tiada akhir soal politik di Indonesia.

Saya termasuk yang susah kurus, tapi ga perlu juga kan ya saya bela diri kalau ada yang bilang saya gendut. Males nulisnya, tapi yang pasti bakalan lebih males bacanya.

Round is also a shape, as I would always say many times.

Saya punya beberapa teman yang anaknya sudah disuruh diet dari mulai masuk SD dengan alasan; nanti ga ada cowok yang mau loh. Atau, cowok ganteng mana mau sama cewek gendut.

Buat saya ini sudah sangat berlebihan. Tapi bukan area saya untuk komentar.

Gendut atau kurus itu urusan masing–masing, tapi kalau setiap saat dibahas… blah banget!!!

Mari berusaha melatih pikiran supaya mampu melihat diri sendiri dan sekitar dengan lebih baik dari sekedar label gendut dan kurus.

Saskatoon Forestry Farm Park & Zoo

Pertama tau kalau ada kebun binatang di Saskatoon kami berdua lumayan kaget. Ga kebayang binatangnya pasti kedinginan secara suhu disini lumayan ekstrim. Dan akhirnya setelah lihat prakiraan cuaca dan katanya hari itu cuaca akan cerah bermatahari, kami pun segera berangkat ke Saskatoon Forestry Farm Park & Zoo.

Begitu mobil parkir, ternyata udara masih dingin dan salju mulai turun. Untung saja kami tetap bawa perlengkapan perang lengkap, plus payung, jadi acara kebun binatang bisa lanjut.

Kebun binatang bisa dibilang tutup selama musim dingin, jadi ga ada biaya masuk, seikhlasnya saja untuk donasi. Selain banyak binatang yang dipindah ke ruangan berpenghangat, tidak ada kantin atau penjual makanan, jadi lebih seperti taman berisi beberapa binatang. Siapa yang sangka akan bisa lihat grizzly bear, cougar, serigala, bison dan binatang khas Canada dan Amerika Utara. Oiya, ada komodo juga loh, ukuran kecil saja dan ada dalam ruangan berpenghangat bersama binatang tropik lainnya.

Selain lihat binatang, yang menarik buat saya adalah pemandangannya. Air yang membeku di tanah bikin semua tampak beda, kolam di tengah kebun binatang yang membeku bikin semuanya tampak menakjubkan. Saya ga punya cukup kata-kata deh untuk menggambarkan ini. Semoga fotonya cukup mewakili ya…

Tentang negeri salju, Saskatoon

Saskatoon? Apa pulak itu? 😄 iya, begitu jawaban saya waktu M bilang kalau dia ditawarin kerja disana. Tapi begitu kedengeran kata salju dan Canada, saya langsung ngangguk mantap. Hayuk!

Saskatoon adalah salah satu kota di propinsi Saskatchewan, Canada. Kisaran suhu di sini antara -30 di musim dingin dan 30+ di musim panas. Dan termasuk kota yang paling banyak dapat sinar matahari se-Canada! Makanya banyak tulisan ‘Sunny Saskatoon’. Rada aneh sih secara kami datang pas musim dingin ya 😄

Berpenduduk sekitar 250.000 jiwa, mata pencaharian masyarakat di sini umumnya dari peternakan dan pertambangan potasium. Secara geografis, propinsi Saskatchewan ini datar banget dan keluar kota sedikit aja langsung disambut lahan-lahan pertanian, yang putih ketutup salju atau coklat lumpur pas saljunya udah hilang 😛 tapi kebayang deh, di musim lain pasti bakal hijau cantik, atau warna warni sesuai dengan jenis tanamannya.

Kami tinggal di sebuah apartemen di pinggir sungai Saskatchewan, di area yang disebut Broadway Avenue. Lumayan strategis, selain banyak resto, ada supermarket, banyak tempat ngopi, toko pernak pernik dll. Ada toko keju namanya ‘Cheese Warehouse’ dan jual cemilan kecil yang enak-enak bangets. Area perumahan di sekitar pun tampak menyenangkan, apalagi yang rumahnya menghadap sungai, wih asik banget liatnya. Persis seberang apartemen ada sekolah, dan di halaman depannya ada miniatur rumah yang ternyata adalah perpustakaan mini. Setelah Eden tau kalau boleh ambil buku disitu, setiap lewat pasti minta mampir dan tukar buku.

Dan ternyata, tinggal di negara bersalju ga seindah yang dibayangkan.

Ketika salju baru turun, semua tampak putih cantik, syahdu, menakjubkan. Apalagi buat anak tropis yang baru pertama kali lihat salju kaya saya 😋 begitu keluar saya baru nyadar kalau jalan di salju yang baru turun ini rasanya seperti jalan di rumput yang berembun. Lembut, bergemerisik dan tentu saja, basah. Tapi kalau jalan di atas salju yang sudah mulai mencair, wihhh harus ekstra, ekstra hati-hati. Karena permukaan tanah/lantai semua jadi licin. Bukan pemandangan aneh lihat orang terpeleset nggabruk dan konon cedera yang mengikuti juga ga cuma keseleo kecil. Kadang butuh waktu pemulihan yang cukup panjang, dan tentunya biaya secara gada tukang urut ya nek…

Selain itu, setelah salju turun, mobil pembersih salju akan lewat terutama di jalan raya dan jalan utama. Kadang mobil tersebut juga menyebarkan kerikil halus/pasir agar jalan tidak terlalu licin. Nah, ketika salju mulai cair, hilang sudah segala dongeng dan kecantikan musim dingin, yang tersisa hanya lumpur dan genangan air di sana sini. Mobil di jalan pun nyaris sewarna, coklat, tersiram lumpur jalanan hasil dari salju yang mencair. Selain itu, sampah pun mulai tampak dari balik salju yang menipis. Terutama; kotoran anjing. Jadi selain harus ekstra hati-hati melangkah karena licin, juga harus menghindar dari kotoran. Pantas saja banyak orang pakai sepatu bot karet, selain sayang sepatu kalau basah kotor berlumpur, pijakan sepatu karet juga lebih mantap dan yang penting tetap kering.

Beruntung kami kemarin tinggal di apartemen, jadi ga perlu repot membersihkan garasi dan jalan setapak di halaman. Beberapa rumah meletakkan papan sepanjang halaman, jadi seolah jembatan melintas salju 😋 dan tumpukan salju ini lumayan tebal loh, pegal pasti kalau mesti angkut salju pakai sekop setiap hari.

Sebagian besar rumah sepertinya punya ruang bawah tanah, dan ruang depan. Ruang depan ini hanya berupa ruang kecil dengan dua pintu yang memisahkan area luar dengan area dalam, jadi angin dan udara dingin tidak ikut masuk ke area dalam rumah. Beberapa rumah makan dan area publik pun memiliki ruang semacam ini, jadi kita ga kedinginan setiap kali ada orang buka tutup pintu.

Kalau salju turun lumayan deras, sudut-sudut trotoar dan pembatas jalan sudah ga akan bisa dilihat lagi. Jadi di banyak tempat kita bisa lihat tongkat berbendera untuk penanda, supaya kendaraan ga nabrak sana sini. Selain itu, di area pemukiman kita bisa lihat banyak kendaraan yang tersambung dengan kabel listrik, ternyata untuk menghangatkan mesin jadi oli tidak membeku. Saya kurang paham juga deh ya, apakah setiap mobil otomatis punya alat ini atau harus dipasang sebagai tambahan. Untuk membersihkan es dari kaca jendela pun ga bisa pake wiper lagi, mesti disikat atau diserut. Ini dalam artian harfiah loh ya. Jadi dalam mobil sewaan itu ada alat semacam sikat/congkelan, kaya alat dapur, ternyata ya itu tadi, buat bersihin kaca dari es 😄

Kami terbiasa menyimpan botol minum dalam mobil, dan kebiasaan ini juga kami terapkan di sana. Tapi saking dinginnya, air minum dalam botol pun membeku dan kami ga bisa minum 😄 suhu udara paling parah selama kami di sana; -28 derajat celcius. Tapi sekitar awal Desember 2016, teman M kirim foto kalau suhu saat itu -32 (feels like -46). Langsung nyali ciut 😄

Sebelum berangkat, saya sempat khawatir kalau kami akan kedinginan di dalam rumah. Tapi ternyata saya dan anak-anak bisa tetap pakai celana pendek dan tidur nyaman dengan pakaian secukupnya, pemanas bekerja seharian penuh dan bikin udara dalam rumah hangat dan nyaman. Keluar rumah pun ternyata ga perlu baju berlapis, saya rasa ini karena jaket yang kami beli memang sesuai medan. Kami beli jaket di toko perlengkapan outdoor terbesar di Saskatoon, namanya Cabela. Dan karena kami beli barang sudah di akhir musim dingin, jadi potongan harganya lumayan besar, bahagia deh. Oiya karena berburu diperbolehkan di Canada, jadi di toko ini saya sempat bengong, karena segala perlengkapan berburu terpampang jelas di depan mata. Ngeri.

Untuk keluar rumah, prosesi yang dilakukan lumayan banyak. Apalagi ada dua bocah yang harus dipastikan dalam keadaan hangat dan nyaman. Semua perlengkapan perang harus sudah terpasang sebelum keluar pintu apartemen; jaket, kupluk, sepatu bot, sarung tangan dan selimut untuk Kiran. Buat saya, yang paling terasa dingin itu hidung dan paha. Terlalu malas untuk pakai celana thermal, akibatnya ya kedinginan deh. Dan pulangnya, lepasin lagi deh tuh semua satu-satu 😄 oiya jangan kaget kalau sering kesetrum sana sini gara-gara listrik statis dari segala perlengkapan tadi.

Selain Starbucks, tempat ngopi Tim Hortons adalah salah satu ciri khas Canada. Kalau menurut saya sih kopinya kurang pas untuk lidah saya. Beruntung persis di seberang apartemen ada cafe Broadway Roastery yang cocok banget buat kami. Kadang suka pengen ngopi enak siang-siang, tapi mengingat upacara pakai perlengkapan perang saya dan dua bocah, dorong stroler di salju, segala cita-cita ngopi enak pun menguap 😋 cuma bisa ngintipin cafe dari jendela apartemen.

Beruntung banget saya bisa ngerasain salju dan menjalani episode pendek kehidupan di Canada. Pertimbangan jarak dan beda zona waktu dengan Perth (14 jam lebih dulu) dan Jakarta (13 jam lebih dulu) membuat kami memutuskan untuk kembali ke Australia, dan alhamdulillah juga sebelum meninggalkan Saskatoon M sudah dapat tawaran pekerjaan baru di Adelaide.

Semoga cerita lain tentang Canada bisa cepat tayang ya…

Aquarium Kardus

Belakangan ini Eden mulai kepengen punya binatang peliharaan. Saya walaupun seneng banget lihat binatang (kecuali yang satu itu tentu saja), sebener-benernya takut banget sama binatang yang posisinya dekat sama saya. Dan sebelum menikah, kami memang sepakat untuk ga punya binatang peliharaan.

Nah, permintaan Eden untuk punya binatang peliharaan bermula dari film kartun Roy, yang punya binatang peliharaan ikan mas koki. Mulailah bahasan soal ikan ini muncul setiap saat 😄 lalu ganti ke anjing, yang bertahan cukup lama. Pernah sekali waktu dia pura-pura punya anjing kecil, puppy namanya. Di ajak ngobrol, dikasih makan, digendong, di usap-usap… bahkan saya pun kebagian harus jagain puppy karena Eden mau main dulu.

Demi mewujudkan kepengen anak bayi yang mau sekolah ini, mulai lah saya cari-cari sesuatu yang bisa bikin Eden ngerasa punya binatang peliharaan. Jatuhnya; aquarium. Dan hari ini akhirnya jadi deh si aquarium-nya. Tentunya ide saya dapat dari penjelajahan di Pinterest, dan pengerjaan disesuaikan dengan ketersediaan barang di rumah.

Kotak aquarium saya ambil dari kotak bekas kemasan minuman yang memang sengaja disimpan untuk bikin-bikin prakarya. Sisi dalam saya tempel dengan kertas lipat, sedangkan dasarnya dilapis bubble wrap. Karang disusun dari pasta yang sudah diberi warna.

Karena Eden penggemar Finding Nemo dan Finding Dori, jadi saya letakkan benang wol sebagai anemones, rumahnya clown fish. Sisanya, bola kapas dan kertas lipat yang diremas sebagai karang laut. Kotak harta karun dibuat dari kotak bekas coklat dan diisi pompom kuning sebagai harta karun.

Untuk ikan dan bintang laut, saya menyimpan beberapa free printable dari Pinterest tapi maaf ya saya lupa lagi link-nya. Nanti kalau ketemu lagi saya akan update disini. Ikan-ikan tersebut saya gantung dengan tali plastik, yang terjukur dari bagian atas yang sudah di beri lubang. Jadi ikan bisa digerakkan seolah mereka berenang.

Dan reaksi anak bayi ibu ketika tau aquarium-nya sudah selesai?

“Wooow, it’s soooo cool!”

Dan mata ibu buram, hidungnya megar plus senyum super lebar 😍

Ayo Sekolah!

Tahun depan Eden genap berusia 4 tahun, waktu tuh beneran ga kerasa ya, kemarin masih diuwel-uwel eh tau-tau mau sekolah aja. Segera setelah kami dapat rumah di Adelaide, langsung cek batas usia untuk masuk sekolah, lalu daftar untuk tahun ajaran 2018. Tahun ajaran sekolah di Australia mengikuti kalender, mulai akhir Januari, sampai sekitar pertengahan Desember. Terbagi atas 4 term, dengan libur panjang sebelum Natal sampai akhir Januari, liburan musim panas.

Alhamdulillah rumah kami tepat berseberangan dengan sekolah, bel sekolah dan suara anak-anak pun bisa terdengar sampai rumah. Dari daftar peringkat sekolah, sekolah pemerintah ini tidak menduduki posisi terbaik, hanya rata-rata saja. Tapi kalau lihat fasilitas sekolah, saya rasanya sudah bahagia luar biasa. Apalagi setelah acara Parents Information Day beberapa minggu lalu, dimana para guru berbicara dan menerangkan apa dan bagaimana cara mereka belajar dan mengajar di sekolah.

“We have a nice garden outside and we let the children do some gardening, we encourage them not to pick flowers because flowers make the butterflies and bees come and help them live. We encourage them not to squeeze bugs and insects because we need them to make the garden grow… so the children can appreciate that every living thing matters and is important”.

“Our school and community are very diverse, we respect and appreciate them. Children would not see the difference unless we point it out to them”.

Kalimat pertama sempet bikin saya pengen sembunyi di bawah kursi karena saya paling males mikir ini binatang bahaya atau ga, mending langsung pejret aja daripada daripada 😋 sekarang saya harus usaha lebih baik deh, dari pada nanti Eden cerita ke gurunya kalau ibunya tukang mejretin serangga.

Kalimat kedua bikin saya langsung mikir kondisi di Indonesia, dan berdoa semoga kami bisa mengajarkan anak-anak untuk menghargai perbedaan.

Selain itu, mereka juga memperkenalkan bahasa isyarat kepada anak-anak dengan menempelkan gambar alfabet dan bahasa isyarat di banyak benda dan permainan. Misalnya gambar bahasa isyarat pintu di tempel di pintu masuk kelas, gambar bahasa isyarat rumah di tempel dalam rumah bermain kecil di halaman.

Sekolah ini mengusung konsep Climate Change Focus dengan melakukan hal-hal yang ramah lingkungan sebagai berikut;

Masuk dalam kelas, kita bisa melihat ada 2 kotak besar berisi kardus bekas, kertas koran dan sejenisnya. Benda-benda ini kemudian digunakan anak-anak dalam proses belajar. Mainan di dalam kelas pun umumnya berupa benda yang bisa disusun, dipasang dan digunakan untuk bercerita. Misalnya balok berbagai ukuran yang digunakan sebagai pendukung sudut dinosaurus, atau binatang dan kendaraan yang bisa di bongkar pasang dengan media balok, kereta api kayu beserta rel yang harus dibongkar pasang setiap kali dimainkan. Di sudut kelas ada juga dapur karena anak-anak juga diajarkan memasak dan membantu urusan dapur.

Ruang kelas dibuat berbeda tema disetiap meja dan sudutnya. Ada meja melukis/menggambar/mewarnai, meja menggunting dan menempel, meja puzzle, meja kain felt dan berbagai guntingan bentuk, meja play dough, sudut dinosaurus, sudut mainan binatang dan balok, sudut mainan bayi, sudut dapur, sudut dress up, sudut baca buku dan banyak lainnya.

Sedangkan di halaman, ada area playground, kolam pasir, kebun, kolam lumpur, rumah kebun, nature playground dengan balok kayu dan batang pohon dan lainnya.

Dalam kelas preschool setiap hari Jumat pagi, keterlibatan orangtua sangat diharapkan. Misalnya membantu menyiapkan buah (memotong dan menata dalam piring), membersihkan/mencuci perangkat makan dan meja, dan semua mainan, meja dan kursi harus dirapikan kembali sebelum kelas berakhir. Dan untuk kelas kindergarten, orangtua diharapkan kesediaan untuk membantu dengan membersihkan kelas (ga tau juga ya sejauh apa urusan bersih-bersih yang dilakukan), mencuci perlengkapan/peralatan melukis dan banyak hal lainnya. Jadi sekolah selalu dalam keadaan rapi dan bersih saat anak-anak datang dan demikian juga saat mereka meninggalkan sekolah.

Pada saat kami datang di kelas perkenalan untuk anak, pulangnya setiap anak dibekali tas berisi buku-buku. Terlihat ada pesan menu yang sebaiknya disediakan dan dibawa untuk bekal ke sekolah. Aturan yang cukup keras di sekolah ini adalah tidak membawa makanan yang mengandung kacang-kacangan karena tingginya tingkat alergi yang mungkin terjadi. Selain hanya boleh membawa minuman berisi air putih, bekal makanan hanya boleh buah, biskuit kering (tanpa krim atau gula), sayuran atau pun yoghurt dalam kemasan gelas sehingga anak dapat melatih motorik dengan sendok. Jadi jus buah, coklat, permen dan kue manis tidak diperbolehkan duduk manis dalam kotak bekal 😋 ini juga salah satu alasan terkuat saya belajar memasak. Supaya bisa bikin bekal yang enak dan sehat untuk anak sekolah.

Selamat memulai petualangan baru ya kak, doa ibu dan daddy insya allah ga akan pernah putus mengiringi langkah kakak selamanya. Semoga selalu soleh, baik budi dan sehat 😘

Ke Angkor Wat bawa batita

Kantor tempat M kerja di Jakarta kemarin punya kebijakan R&R (rest and relax), yang jatuh tempo setiap 6 bulan sekali. Tempat tujuan dibatasi pada Singapura dan Kuala Lumpur. Dan kesempatan R&R pertama kami sepakat untuk pergi ke Singapura lalu ke Angkor Wat. Lumayan kan, tiket dan akomodasi di Singapura gratis, tinggal modal sendiri untuk urusan Angkor Wat.

Keluarga saya agak ga setuju kami berangkat ke sini, mengingat Eden belum genap 2 tahun dan kehamilan saya memasuki bulan keenam. Tapi setelah cek dengan dokter, kondisi saya dan bayi sehat, plus sepakat untuk keliling santai menyesuaikan dengan kondisi Eden, berangkat lah kami.

Saya sudah browsing sana sini dan juga cari tau ke beberapa teman tentang kondisi Angkor Wat. Pertanyaan utama, apakah memungkinkan kalau kami bawa stroller? Dan jawabannya; ga bisa bawa stroller karena banyak tangga, undakan dan juga jalanan tanah kering atau basah berlumpur. M menyanggupi untuk gendong Eden, dan saya bawa ransel keperluan Eden. Aman.

Kami menginap di Palm Village Resort & Spa. Tempatnya bersih, nyaman, makanan enak dan murah, ditambah karyawan yang luar biasa ramah dan rajin ngajak main Eden jadi kami bisa sedikit santai. Secara keseluruhan kami puas banget tinggal di tempat ini. Kami pun ambil tour guide dan tuktuk dari hotel, jadi rasanya lebih aman dan nyaman. Saran saya, lebih baik memang ambil tour guide yang bukan supir. Jadi tour guide bisa antar kita keliling dan kendaraan bisa tunggu di tempat yang lain. Memudahkan kita untuk mencari rute dan melihat-lihat candi, juga praktis ga harus mutar kembali ke tempat parkir.

Selain itu, menurut saya, memilih tuktuk sebagai sarana transportasi memang paling pas. Cuaca di Siem Reap panas dan lembab, habis panas-panasan lalu duduk di tuktuk yang melaju, semilir angin tuh beuh sedep bangets deh! Mata langsung kriyep-kriyep dan perut langsung berisik minta jatah 😋 kebayang kalau naik mobil, masuk mobil yang panas, ac belum dingin kita sudah mesti turun lagi liat candi selanjutnya.

Pertama kali kami ketemu tour guide, beliau langsung menyarankan supaya kami berganti pakaian. Saya memang pakai atasan tanpa lengan dan celana pendek, sedangkan M celana pendek di atas lutut. Tour guide kami bilang, walaupun ini tempat wisata, tetap saja namanya rumah ibadah, rumah Tuhan bagi mereka yang mempercayainya. Dan alangkah baik kalau kita menghormati dengan berpakaian yang pantas. Masuk akal sih ya, di Bali pun kita diminta memakai kain penutup kalau pakaian kita kurang pantas. Jadilah saya pakai celana pendek M, dan M pakai board-short. Satu-satunya celana yang sesuai dengan permintaan tour guide.

Untuk paket kunjungan ke Angkor Wat, kami ambil paket 3 hari walaupun hanya terpakai untuk 2 hari saja. Hari pertama kami puas dan antusias banget, hari kedua mulai agak capek dan bosan lihat candi 😄

Sepanjang perjalanan keliling candi dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, Eden tampak lumayan menikmati semua prosesnya. Ga ada rewel, ga ada marah ataupun menangis. Beberapa kali berhenti karena Eden sibuk lihat batu-batu besar yang berserak di sana sini, atau kadang sibuk ikutan lihat relief di dinding candi, semangat banget setiap kali matanya bertemu dengan sosok binatang yang dia kenal. Eden pun sempat tidur di gendongan M, lanjut tidur lagi di tuktuk dan bangun penuh semangat lagi. Eden bahkan sempat jadi obyek tontonan rombongan turis karena dia sibuk main di reruntuhan candi 😄

Untungnya perjalanan keliling candi tidak membutuhkan waktu seharian penuh. Hari pertama kami sudah di hotel sebelum jam 3 sore, dan hari kedua kami bisa kembali ke hotel untuk makan siang. Kalau mau melihat setiap jengkal candi pasti satu dua hari ga akan cukup, tapi kami merasa sudah melihat semua spot yang cantik dan terkenal, jadi sudah puas banget deh.

Awalnya saya memang ragu-ragu mau ajak Eden berlibur ke tempat yang (rasanya) sama sekali ga cocok buat anak-anak. Tapi itu artinya saya harus menahan diri untuk ga berlibur ke tempat yang saya dan M mau. Dan setelah beberapa kali mencoba pergi dengan Eden, terbukti kalau punya anak kecil ga menghalangi kita untuk berlibur. Tapiiii, harus disadari betul bahwa perjalanan dibuat sesuai kebutuhan dan rutinitas anak. Misalnya kami ga bisa pergi ke pasar malam karena Eden sudah tidur jam 7 malam. Perbekalan anak pun harus lengkap, untuk Eden, saya selalu bawa botol minum, biskuit kesukaannya, buah seperti pisang atau apel dan satu atau dua mainan. Dan yang paling penting, kerelaan hati kita untuk selalu menghibur dan membuatnya tetap semangat, karena dengan demikian perjalanan jadi terasa lebih ringan.

Yuk liburan lagi!

Belajar Masak

Setiap kali saya bilang kalau saya ga bisa masak, orang cuma senyum atau komentar, “nanti juga terbiasa”. Sebagian besar ga tau bahwa saya, betul-betul ga bisa kerja di dapur. Termasuk M. Ibu saya ga suka masak dan dengan demikian beliau ga pernah nyuruh kami di dapur. Baru sekitar 1.5 dekade ini saja ibu saya mulai masak. Waktu kami kecil, setiap kali asisten mudik, pasti kami ketring atau bapak saya yang masak.

Separah apa ibu saya? Ada cerita yang hampir selalu diulang saat kumpul keluarga besar bapak, tentang ibu saya yang mencoba bikin agar-agar tapi karena kesal agar-agarnya ga juga mengeras, dibuanglah seloyang agar-agar ke saluran air yang kemudian berjajar mengental disana 😋

Pertama kali menemani M masak, saya ceritanya berbasa basi nanya apa yang bisa dibantu. Kemudian M nyodorin peeler dan wortel, saya nyureng tapi gengsi juga kan, jadi saya ketuk-ketuk si wortel pake peeler, karena memang itu pertama kali saya pegang peeler dan ga ngerti gimana cara pakainya.

M : what are you doing?

Saya : doing this (?)

M : seriously?!

Saya : I told you I can’t cook (mulai nada tinggi plus bibir cemberut)

M : I didn’t think you were that bad

Grrrrr… I am (or was) that bad!

Suatu hari waku kerja di Papua dulu, bos saya yang tau saya ga bisa masak minta bantuin saya belanja sayuran ke supermarket. Beliau mau menjamu tamu dari Jakarta. Rupanya perubahan raut wajah saya terlalu tampak sehingga beliau membatalkan dan memanggil salah satu karyawan yang memang pintar masak 😄 jawaban saya waktu beliau tanya apakah saya tau barang-barang (sayuran) yang ada dalam daftar belanjaan; kan nanti ada labelnya kan bu? Hihihi

Masih di Papua, hari itu kami mau ada acara makan-makan, lalu ikutan lah saya ke pasar tradisional Timika. Kami berempat dan saya disuruh jalan paling depan, belanjaan pertama, kangkung. Setelah lama jalan, teman saya tanya, “itu dari tadi banyak kangkung bagus kok lo ga berhenti sih?”, saya jawab, “heh? Yang mana yang kangkung emangnya?”. Langsung deh posisi jalan berubah, saya paling belakang jatah nenteng keresek belanjaan 😄

Ada sepupu saya pernah bilang, “kirain kuliah di Bandung dan tinggal sendiri, plus kerja di Papua bikin kamu mandiri dan bisa masak mba…”. Di Bandung banyak warung makan, di Papua ada mess hall yang menyediakan makan 3 kali sehari, plus teman-teman dan bos yang rajin masak dan ngundang saya makan di rumahnya. Jadi dua hal tersebut ga berpengaruh sama pengalaman dapur saya.

Setelah menikah, saya mulai mencoba resep-resep yang super mudah. Dan lumayan berhasil. Tapi saya baru serius belajar sekitar awal tahun ini. Karena Eden mulai lahap makan dan makin rajin setelah Kiran mulai mengkonsumsi makanan padat. Untungnya ada oven jadi saya bisa mulai belajar bikin masakan tanpa takut kena cipratan minyak 😋

Dan melihat keseriusan saya, M pun mulailah rajin beliin saya perlengkapan perang di dapur. Bikin saya tambah semangat coba berbagai macam resep 😍 masih pilih resep yang super mudah dan praktis tentu saja. Eden dan Kiran masih rajin longokin ibunya dan protes kalau ibunya kelamaan di dapur. Namanya juga anak baru kan, jadi resep sederhana pun butuh waktu lebih lama dari “kata resep”.

Alhamdulillah anak-anak dan M lebih sering suka hasil masakan saya, dan saya juga membiasakan anak-anak mencoba dulu masakan dan makanan baru, kalau ternyata ga suka ya ga apa-apa. Tapi saya ga mau kalau keputusan ga suka itu cuma dari hasil jilat, harus masuk dulu satu dua suap 😄 kalau ternyata tetap ga suka ya sudah. Saya berharap selera makan anak-anak lebih mirip saya yang bebas merdeka daripada M yang ga banyak pilihan.

Proses belajar masak ini ga selalu sukses, contohnya pas saya bikin lasagna beberapa hari lalu. Setelah lapisan atas dipasang, saya bingung kenapa saus putihnya masih ada. Lalu saya angkat lagi lapisan atas dan tambahkan saus putih di bawahnya. Setelah beberapa saat masuk oven, barulah saya sadar kalau harusnya si saus putih tadi saya taruh di atas lapisan penutup. Jadilah lasagna saya ngetril atasnya 😄 untungnya rasa dan tekstur tetap bagus dan enak (kecuali si lapisan atas tentu saja) jadi kami tetap lahap makan banyak.

Hasil masak terakhir yang rasanya sukses berat adalah Chicken and Cheese Sausages, penampakan cantik dan rasanya pun enak banget. Yang begini selalu bikin saya makin semangat di dapur.

Ada yang punya resep super gampang? Yuk kita cobain sama-sama…

Bermalam di Caravan/Holiday Park

Sejak pertama kali merasakan menginap di caravan/holiday park, rasanya saya ketagihan untuk selalu menginap di tempat seperti ini lagi. Untuk ukuran anak Jakarta yang pengalaman camping-nya cuma sepanjang persari, persami dan ospek jurusan, camping ala orang Australia ini sungguh terasa sangat mewah (pengalaman saya baru di seputar benua ini jadi belum bisa komentar tentang negara lain). Tenda yang super besar, tidur dalam sleeping bag hangat yang bisa disambung, jadi tetep bisa ndusel-ndusel M kalau saya kedinginan (iya saya baru tau kalau ada sleeping bag yang bisa disambung) 😋 dan beralaskan kasur lipat dari busa atau kasur tiup. Bahkan ada yang bawa semacam dipan lipat juga loh! Jadi ga ada deh tuh cerita sakit punggung kalau pulang camping disini.

Pertama kali menginap, kami memang berniat tidur dalam tenda. Satu lapak untuk tenda, lengkap dengan satu power point dan satu keran air, harganya berkisar $50/malam. Kamar mandi terpisah, untuk laki-laki, perempuan dan bahkan anak-anak. Lalu ada tempat cuci baju, cuci piring, area jemur. Untuk memasak, ada area barbeque lengkap dengan meja dan kursi piknik. Sedangkan untuk anak-anak, ada kolam renang dan area bermain.


Lapak kemah atau caravan ini juga ada berbagai macam. Ada lapak dengan en-suite; kamar mandi pribadi yang letaknya di sebelah lapak atau tidak jauh dari lapak. Bahkan di holiday park tempat kami menginap kemarin, ada lapak yang ramah binatang peliharaan.

Selain itu ada juga tempat penginapan berupa kabin sederhana sampai kabin besar dengan pemandangan cantik. Tetap judulnya ada harga ada barang.

Kabin yang kami ambil saat perjalanan darat kemarin lumayan besar, masing-masing 3 kamar dan salah satunya dengan bunk-bed. Anak-anak paling semangat deh kalau ada tempat tidur model ini, bahkan Eden pun mau ikut kakak-kakaknya tidur disini juga.

Malam pertama kami menginap di Blue Lake Holiday Park yang letaknya di seberang Blue Lake, Mt. Gambier. Kami mengambil kabin 3 kamar menghadap ke arah hutan. Dan pagi hari pas bangun, kami disambut kabut tebal dan udara yang super dingin. Bikin pemandangan sekitar area perkemahan tambah cantik.

Malam kedua kami menginap di sea view cabin Torquay Foreshore Caravan Park, dan beruntung banget bisa lihat matahari terbit yang luar biasa cantik dari teras kabin, walaupun udara dingin minta ampun, kami bisa jalan kaki ke pantai menikmati matahari terbit.

Untuk urusan dapur, kabin-kabin ini menyediakan peralatan masak dan makan yang lumayan lengkap. Syaratnya hanya seluruh perlengkapan harus dalam keadaan bersih saat check out.

Salah satu peraturan caravan/holiday park yang bikin saya lumayan nyureng waktu pertama kali baca adalah, ga boleh ada keributan di atas jam 10 malam dan ga boleh bikin api unggun. Kebayang kalau ada aturan macam ini di Indonesia, pasti ga laku ya bumi perkemahannya, udah capek nenteng gitar sepanjang jalan, eh jam 10 udah mesti bobo 😂

Jadi, ada yang mau ajak saya liburan bareng ga ya? 😋

Sunset dari teras kabin kami di Torquay Foreshore Caravan Park

Our First Long-Haul Flights & Jet Lag

Keceriaan saya menghadapi kepindahan kami ke Canada berangsur menipis setelah menyadari betapa panjang perjalanan yang harus ditempuh bersama dua bocah lelaki yang masih masuk kategori batita ini.

Kami mengambil pilihan rute Perth – Sydney – Vancouver – Saskatoon, dengan waktu transit masing-masing 6 jam. Total waktu perjalanan termasuk transit: 34 jam (7 jam + 13 jam + 2jam terbang).

Karena proses visa Canada saya yang panjang (nyaris 3.5 minggu), M pun harus berangkat duluan. Kami pun mempertimbangkan beberapa pilihan; kami ketemu di Sydney atau M balik ke Perth lalu sama-sama ke Saskatoon. Alhamdulillah bosnya di Canada setuju untuk M balik ke Perth jemput kami.

Sebetulnya saya lumayan percaya diri untuk pergi bertiga, apalagi kami dapat kelas bisnis. Kan biasanya pelayanan kelas itu jauh lebih ramah ya, jadi bisa lah saya minta dibantu secara bawa dua anak kecil. Tapi untung aja M ngotot balik ke Perth, soalnya walaupun duduk sebelahan, untuk urus Eden tetap saja kami harus keluar dari kursi yang ada dalam cubicle. Dan gendong bayi duduk di kursi bisnis lumayan ga nyaman karena ada kantong air bag di tali sabuk pengaman. Kayanya anak-anak bakalan jadi rewel klo M ga ikutan terbang sama kami. Maklum deh, namanya juga perdana naik kelas bisnis jarak jauh jadi lagi norak-noraknya banyak yang baru tau 😄 

Sabuk pengaman untuk bayi ternyata ga tersedia di penerbangan Air Canada. Jadi bayi harus digendong dengan posisi kepala di pundak kita. Agak deg-degan juga takut lepas dan jatuh klo tangan semutan atau ketiduran, dan ga bisa kasih ASI juga kan dengan posisi gtu. Baru pertama ini naik pesawat yang ga nyediain sabuk pengaman untuk bayi, dan saya tetap gendong Kiran seperti biasa saat lepas landas dan mendarat, supaya tetap bisa minum ASI.

Sementara Eden gayanya udah kaya yang biasa banget naik pesawat di kelas bisnis, duwa jutak bgt deh 😄🙈 Tapi karema makannya masih susah, dan cuma makan seadanya selama perjalanan akhirnya muntah deh persis setelah mendarat di Saskatoon. Perjalanan panjang, ga mau makan dan capek tentu saja. Alhamdulillah besoknya sudah ceria lagi. Untung Kiran masih dibantu ASI jadi lebih aman dan nyaman.


Perjalanan kami dimulai hampir tengah malam waktu Perth, dan tiba di Saskatoon persis tengah malam. Jadi kami bisa langsung tidur dan besoknya bangun siang, malah terbangun hampir tengah hari 😛. Dalam waktu hampir 2 minggu, barulah anak-anak bisa tidur pulas sesuai zona waktu yang baru.

Cerianya saya mau pulang ke Perth pun sedikit terganjal dengan rasa malas luar biasa membayangkan perjalanan panjang lagi. Kali ini rutenya Saskatoon – Vancouver – Hong Kong – Perth, dengan waktu transit 6 jam dan 3 jam. Total waktu perjalanan: 32 jam (2jam + 13.5jam + 7jam 45menit terbang).

Kali ini perjalanan lebih nyaman lagi karena Kiran dibelikan kursi sendiri. Anak bayi yang berulang tahun pertama tepat di hari keberangkatan kami ini pun tidur nyaman hampir sepanjang perjalanan. Sayangnya sempat ada turbulence jadi Kiran harus digendong dan terbangun. Tapi saya dan M sempat dong menikmati duduk manis santai ala-ala business class 😄 mumpung anak-anak tidur, kami pun makan dan sempat ikut tidur lumayan panjang.



Oiya keluar dari Canada ga ada urusan sama imigrasi. Jadi kita terbang kaya domestik aja, ga ada yang periksa apakah kita overstayed atau apapun. Kalau kata M, mereka menggunakan sistem yang sama seperti Amerika. Saya baru pertama ini keluar dari suatu negara dan ga mesti lewat proses imigrasi. 

Saya jadi ingat, loket check in untuk penumpang kelas bisnis Garuda di keberangkatan internasional bandara Soetta itu punya pintu dan petugas imigrasi sendiri loh. Petugasnya tanpa komputer, entah kalau paspor dll dibawa dulu ke loket asli dan di cek ya, karena habis check in ada petugas yang ambil alih urusan imigrasi dan kami dipersilahkan langsung ke lounge. Paspor akan dikembalikan disana. 

Kali ini perjalanan kami dimulai sekitar jam 6 pagi hari Jumat waktu Saskatoon dan tiba jam 6 pagi hari Minggu waktu Perth. Segala upaya dilakukan untuk menahan waktu tidur anak-anak, tapi akhirnya mereka tepar juga jam 3 sore. Kami pun segera tidur karena sudah kebayang kalau anak-anak pasti pola tidurnya masih kacau. Betul aja, jam 2 pagi lampu rumah sudah terang dan anak-anak sudah duduk manis minta sarapan 😄 

Lumayan nyengir deh saya sendirian ngadepin pola tidur anak-anak yang kacau balau, karena M sudah harus berangkat lagi ke Adelaide untuk penugasan yang baru. Mata sih melek ya, tapi otak dan badan ini kya ga nyambung 😄 mana Kiran masih tetap bangun malam buat minum ASI. Bisa ngabisin segelas kopi pagi dalam keadaan masih ngebul aja kyanya udah bagus banget hahahaha…

Dan seperti kata mantra emak-emak rempong; “these too shall pass”, akhirnya anak-anak pun bisa tidur nyenyak dan jet lag pun berakhir…