Dilangkahin

Beberapa waktu lalu sepupu saya ulang tahun, dan ramailah grup whatsapp keluarga besar dengan ucapan selamat dan doa. Salah satu sepupu saya (sebut saja Mawar 😛) mengucapkan; “selamat ulang tahun ya dek, semoga sehat selalu, panjang umur, bahagia dan cepat menemukan jodoh (setelah kakak)”.

Langsung saya samber, kenapa doanya pake setelah kakak ya? Dan tentunya ga ada jawaban. Yang berulang tahun menjawab dengan, “ketemu aja dulu boleh dong…”.

Beberapa tahun lalu saya pernah pergi sama Mawar dan ibunya yang adalah adik kandung ibu saya. Lupa saya persisnya apa yang kami bahas saat itu, tapi kalau ga salah soal anak laki-lakinya yang sudah punya calon dan siap menikah. Sementara Mawar sang kakak belum punya pacar dan tante saya ga mau kalau Mawar dilangkahi. Saat itu kedua adik saya sudah menikah, yang artinya saya sudah dua kali dilangkahi dan beliau ga tau kalau saya saat itu sudah jalan sama M. Lalu tante saya bilang; ” iya tante ga mau nanti kalau Mawar dilangkahi, terus nasibnya jadi kaya teteh ga kawin-kawin”. 

Saya sempat rada bengong juga, ga nyangka tante saya bisa ngomong gitu di depan saya kaya saya ga punya perasaan. Tapi saya males nyaut panjang lebar, saya iya-in aja tapi emosi bikin kuping saya terasa panas luar biasa. Waktu saya cerita ke ibu saya, beliau tersinggung luar biasa, tapi ya sudahlah, ga penting juga dibahas.

Sahabat baik saya waktu SD adalah teman pertama saya yang kebagian dilangkahi, adiknya 4 orang, dan dia dilangkahi oleh 3 adiknya. Saya adalah partner-nya di pernikahan adiknya yang pertama, saat itu kami sama-sama ga punya pacar 😄. Waktu adiknya yang kedua akan menikah, salah seorang teman komentar; “Gila! Dilangkahin dua kali? Gw sih mending lompat aja deh dari jembatan!”. Dan sampai saat ini, teman kami ini masih single dan sudah dua kali dilangkahi adiknya. Sahabat saya alhamdulillah sudah menikah, suaminya baik dan punya dua anak yang lucu dan sehat.

Waktu adik laki-laki saya bilang kalau dia sudah mempertimbangkan akan menikah dengan pacar yang sudah bersama sekian tahun, saya langsung bilang kalau saya ikhlas dilangkahi. Tapi rupanya ibu saya belum rela, selain karena calon istri adik saya belum lulus kuliah, ibu saya minta adik saya untuk tunggu sampai umur saya genap 30 tahun. Kalau masih belum ada jodoh baru boleh dilangkahi. Adik perempuan saya menikah dua tahun setelahnya.

Seorang teman saya, laki-laki, menikah lebih dulu dari kakak perempuannya. Ini lumayan drama. Waktu proses awal perijinan dll, kakak perempuannya setuju dan ga keberatan dilangkahi. Tapi pada saat lamaran, sang kakak histeris mengamuk minta pernikahan dibatalkan karena dia ga mau dilangkahi. Entah bagaimana akhirnya sang kakak setuju dan teman saya saat ini sudah punya tiga anak.

Saya percaya, kalau memungkinkan pasti ga ada deh satu manusia pun yang mau dilangkahi. Tapi kan kita juga ga bisa egois menghalangi jalan jodoh adik sendiri. Seperti yang sering kita dengar; “rejeki, jodoh dan mati adalah rahasia Allah, ga akan tertukar”. 

Jalani hidup dengan selalu berusaha untuk berbuat baik dan ikhlas, ga usah mikir jauh soal pahala karena itu bukan urusan kita. Cukup supaya bisa tidur tenang tiap malam. 

Selamat tidur dari belahan dunia sebelah sini 😘

 Rumah Kardus – Prakarya


Sudah lama saya pengen bikin mainan buat Eden, rumah sudah mirip pojokan pemulung saking banyaknya kotak bekas, botol dan tutup botol, gulungan tisu dll dsb. Buat saya dan M yang ‘gatelan’ lihat sesuatu yang ga teratur, pojokan ini sungguh bikin senewen 😄 tapi demi niat suci emak-emak yang pengen berkarya buat anaknya, ya tahan rasa lah jadinya…

Sejak pindah lagi ke Perth dan barang berdatangan, mulailah ada tumpukan kardus berbagai ukuran yang sungguh menggoda untuk dibuat ini dan itu. Dan pilihan pun jatuh pada kardus tertinggi, lalu mulailah proyek rumah kardus buat Eden.

Kardus besar itu cukup lama cuma duduk manis ditengah ruangan, dan cuma satu sisi yang selesai dikerjakan; lorong/pipa dari kertas gulung bekas tisu. Eden selalu suka main berlama-lama disini, hampir setiap hari pasti ada waktu yang dihabiskan disini. Main pakai pompom, mainan atau apa saja yang muat masuk dalam gulungan tisu.


Bagian kedua, bikin atap rumah kardus, pasang genteng, buat jendela dan pintu 😋 Gentengnya saya cuma buat dari kertas lipat yang digunting dua sudutnya, lalu ditempel dengan isolasi. Desain dasar pembuatan rumah kardus bisa dilihat di gambar bawah.

Desain rumah kardus, dapat dari Pinterest tapi lupa ng-save link-nya

Karena Eden suka sekali main di halaman, lihat benda langit dan segala penghuni taman, jadilah saya pilih tema taman untuk menghias salah satu sisi rumah kardus.

Matahari dibuat dari piring kertas yang digunting dan ditempel dengan kertas lipat, demikian juga awan, dibuat dari piring kertas yang dilumuri lem dan ditempeli bola kapas. Sedangkan untuk hujan, hanya tali plastik ditempel stiker bulat warna warni yang kemudian ditempel di sisi belakang piring kertas awan.

Bunga-bunga dibuat dari kertas tatakan cupcake, diberi stiker bulat ditengahnya. Untuk batang dan daun, kertas lipat dilipat dan gunting sesuai ukuran yang diinginkan. Sedangkan pot bunga, gelas styrofoam saya belah dua dan ditempel. Kumbang dan lebah, saya ambil dari stiker bahan yang dibeli beberapa waktu lalu di toko craft.

Selanjutnya, bagian pintu. Sempet mikir lama itu gagang pintu mo dibikin gmana, sampe akhirnya cuma dibolongin aja deh 🙈 trus buat nutupin logo perusahaan pemilik kardus, dipasanglah potongan Lego Star Wars dari kardus mainan. Iya betul, daddy yang main Lego-nya, Eden main guntingan kardusnya aja 😄 Ditambah kotak surat dan huruf E untuk penanda rumah juragan kecilnya ibu, dan bel dari lonceng dan pipe cleaner. Lonceng ini bagian kesukaan ibu, kayanya lucu aja 😋


Terakhir, bagian sisi yang ada jendelanya. Sisi atas, saya buat balon udara dari kertas lipat, pipe cleaner dan cetakan cupcake. Ditambah stiker awan dan pesawat yang dibuat dari jepit jemuran, potongan sedotan dan stiker bulat.

Sisi bawah, saya buat binatang-binatang dari piring kertas, kertas lipat, kertas busa, pompom dan mata mainan. Jadilah penguin, kodok, domba dan ayam. 


Bagian dalam, untuk alas saya potong kertas lipat berbentuk lingkaran, kotak dan segitiga, ditempel dikertas putih dan dilapis plastik laminating. Lalu ditambah jam dinding dari piring kertas dan pipe cleaner. Dan selesailah rumah juragan kecil 😍💃


Sekarang Eden punya tembok yang bebas ditempeli gambar tempel, stempel dan digambar dengan pensil, krayon atau apapun. Apakah berarti tembok ibu aman? Tentu tidak sodara-sodara, karena ada satu sisi yang dihias stempel penguin pas ibu lagi sibuk vakum kamar 😄

Terbang Bawa Bayi & Batita


Terbang pertama bawa Kiran dan Eden kejadian di Juli lalu. Kiran waktu itu umur 3 bulan, dan Eden umur 2 tahun 5 bulan. Rute Jakarta – Singapura pp.

Berangkat ga ada masalah karena kami pergi berempat. Pulangnya, M mendadak dapat panggilan buat langsung berangkat ke Australia, dan saya plus dua anak harus pulang ke Jakarta. Kepala saya langsung cenut-cenut 🙈 

Masalahnya, bawaan kami ukuran 2 dewasa, jadi ga mungkin saya sendiri dengan anak-anak. Ada 2 koper besar, dan 2 stroler. Akhirnya diputuskan, adik saya datang ke Singapura menjemput kami.

Di bandara Changi, para bayi dan stroler aman sampai ke pintu pesawat. Mereka pun anteng selama penerbangan walaupun sempat delay hampir satu jam. Ketidaknyamanan muncul ketika pesawat mendarat di Jakarta.

Sudah lama sekali saya ga lagi merasakan nyamannya pulang ke Jakarta dengan garbarata, seringkali pesawat Garuda parkir jauh dari bangunan terminal dan kami menghabiskan waktu cukup lama dalam bis. 

Parahnya, M pernah tiba dari Perth dan bis membawa penumpang ke terminal domestik. Dan sekali lagi M tiba dari Balikpapan tapi bis membawa penumpang ke terminal internasional. Penumpang kebingungan sampai akhirnya ada petugas darat yang mengarahkan mereka kembali ke bis dan diantar kembali ke terminal yang seharusnya.

Anyway, kami tiba di Jakarta dan seperti biasa pesawat parkir jauh dari bangunan terminal. Stroler diserahterima di tarmac, aman? Belum!

Stroler harus naik bis dan ga ada satu lengan pun terjulur membantu kami berdua mengangkat stroler ke dalam bis. Untung adik saya gesit, jadi kami berdua bisa langsung angkat stroler ga pake ribut.

Tiba di bangunan terminal, turun dari bis pun gada bantuan, ga usah lah ngarep di bantu, di kasih jalan duluan pun ga ada. Jadi kami harus menunggu sampai bis kosong baru bisa turun. Gotong-gotong lagi judulnya. Karena bis berhenti di jalan aspal, lalu kami harus angkat lagi stroler ke trotoar, dan kemudian naik tangga. Sementara dua anak bayi ibu dalam kondisi tidur. Kalau gotong satu dan yang satu ditinggal kan riskan juga ya?

Adik saya akhirnya gendong Eden di satu tangan, sementara tangan lain nenteng stroler. Sedangkan saya, alhamdulillah ada petugas kebersihan yang bantu angkat stroler sampai atas. Semoga selalu sehat dan penuh berkah ya Pak…

Ga kebayang deh kalau saya terbang cuma sama anak-anak, stres banget tuh kayanya 🙄

my dearest sister yang super jagoan 😍


Terbang kedua, awal November kemarin. Hanya bertiga dengan anak-anak. Kiran 6 bulan, dan Eden 2 tahun 8 bulan. Diputuskan bahwa kami ga akan bawa stroler, hanya gendongan untuk Kiran dan tali pengaman untuk Eden. Dan tas tenteng untuk perlengkapan di pesawat.

Saya ga bawa bagasi sama sekali, karena kami tiba di Jakarta cukup larut, jadi anak-anak pasti sudah capek dan kemungkinan akan rewel kalau harus tunggu bagasi. Pengalaman kami tiba dari Perth dengan penerbangan ini, bagasi baru keluar satu jam setelah proses imigrasi kami selesai. Jadi saya ga mau ambil resiko.

Untungnya selama di Perth, Eden sudah terbiasa jalan kaki dan ga lagi duduk di stroler. Kalaupun tertidur di mobil, Eden gampang bangun dan dengan senang hati langsung jalan kaki lagi. Jarang lah dia cranky kalau pas lagi pergi-pergi. Makanya saya cukup percaya diri untuk terbang bertiga.

Di bandara Perth disediakan stroler tapi jumlahnya ga terlalu banyak. Dan di area kedatangan, stroler baru diserah terimakan di area pengambilan bagasi.

Selama di bandara Perth, Eden selalu gandeng tangan saya dan ga lari kabur sana sini. Alhamdulillah latihan kami di shopping mall membuahkan hasil 😋 tali pengaman yang saya pasang karena takut dia kabur sama sekali ga perlu digunakan. Kiran pun duduk anteng di gendongan, sibuk celingak celinguk sana sini.

Di pesawat, Kiran tidur hampir sepanjang perjalanan. Sayangnya cuaca buruk di setengah perjalanan jadi Kiran ga boleh tidur di bassinet, harus dipangku dengan sabuk pengaman terpasang.

Eden seperti biasa sibuk dengan ini itu sampai akhirnya tidur setelah setengah perjalanan. Saya bahkan bisa makan tenang di pesawat 😋 

Tiba di Jakarta, saya minta bantuan pramugari untuk bawa Eden turun dari pesawat. Karena baru bangun dan mengantuk, saya ga yakin dia akan bisa aman turun tangga pesawat. Sedangkan saya gendong Kiran dan nenteng tas, rasanya beresiko kalau gandeng Eden dan ga pegangan.

Pramugari dan kru Garuda buat saya selalu sangat membantu dalam setiap penerbangan, saya ga ada keluhan deh soal ini. Mereka mampir dan ajak main anak-anak, dan ga judes dimintain tolong.

Salah satu pramugari dengan baik hati menggendong Eden sampai tarmac, dan kru darat lain membantu gendong Eden sampai bis, lalu lanjut dari turun bis sampai area imigrasi. Alhamdulillah…

Buat saya, penerbangan dengan dua anak ini semacam peringatan. Mungkin dulu waktu masih single, saya pun gada empati dan ga peduli liat ibu dan anak yang butuh bantuan. Sibuk sama diri sendiri. Besok-besok semoga saya lebih sensitif kalau ada yang butuh dibantu.

Kayanya kalau M sibuk kerja, kami sudah siap nih keliling dunia bertigaan saja 😄

Drama Sebelum Tidur

Kalau lagi senang sesuatu, biasanya benda tsb selalu dibawa Eden masuk kamar dan diletakkan di meja samping tempat tidur. Kadang mainan, buku, gambar tempel atau potongan puzzle.

Tapi beberapa hari ini, yang dibawa masuk mulai seru. Kemarin sempat beberapa malam bawa masuk boneka Upsy Daisy dari film In The Night Garden. Boneka diletakkan di atas bantal atau di samping tempat tidur.

Lalu saya nemu boneka punya keponakan, Lala dan Dipsy-nya Telletubbies. 

Dan drama benerrrrrr…

Eden minta Lala dan Dipsy juga bobo pake selimut, geletak di sebelahnya.

Malam kedua, Lala dan Dipsy juga ikut bangun dan minum kalau Eden haus.

Dan berlanjut beberapa malam dengan tokoh yang sama, sampai tadi malam.

Yang di ajak tidur; Lala, Dipsy dan kue tart mainan. Selain upacara seperti biasa, tadi malam ada acara ulang tahun dulu. Pake nyanyi happy birthday dan tiup lilin 😂

Saya yang selalu pura-pura tidur kalau nemenin Eden nyaris nyengir lebar deh 😋 untung malam ini ga bawa mainan apa-apa, langsung molor dengan manis.

penampakan peserta bobo tadi malam, lengkap dengan kue tart 😋

Tenant’s Drama

Waktu dapat kabar bahwa kami akan kembali ke Perth, hal yang paling bikin semangat adalah pindahan ke rumah baru. Menetap. Betapa kata menetap itu sungguh berarti setelah perjalanan pendek kami yang penuh dengan pindahan.

Dalam 2.5 tahun usianya, Eden sudah pindahan kurang lebih 6 lokasi. Jadi membayangkan pindah ke rumah dimana kita bisa bikin ini itu dengan bebas merdeka rasanya sungguh luar biasa.

Waktu pindahan dan periode berakhirnya sewa rumah pun nyaris berdekatan. Tapi rupanya rencana dan harapan harus sedikit bergeser dulu.

Penyewa yang menempati rumah kami punya catatan yang kurang baik; rumah dan pekarangan kotor, sering telat bayar. Agen yang menangani sudah memberi peringatan dan kami pun sepakat untuk tidak memperpanjang masa sewa mereka. Tapi kemudian mereka minta perpanjangan satu bulan untuk pindahan dan mengosongkan rumah. Tapi yang terjadi kemudian…?

Mereka kabur sodara-sodara!!! 

Rumah ditinggal dalam keadaan kotor dan terkunci, masih ada barang di dalam rumah, pintu garasi rusak penyok luar dalam. Tentunya mereka kabur dengan membawa seluruh kunci rumah. Mendengar laporan dari agen, rasanya marah, sakit hati dan sedih.

Yang paling parah, mereka menemukan beberapa jarum suntik di dapur! Jadi agen langsung menelpon polisi untuk dibuatkan laporan dan catatan. Sesak rasanya, apalagi mereka ini juga keluarga dengan 2 anak kecil.

Kemudian agen harus melakukan proses ambil alih rumah, karena masih ada barang di dalamnya. Mereka memasang tulisan di pintu yang isinya kurang lebih; untuk menyerah terimakan property dalam waktu satu minggu atau kepemilikan akan di ambil alih.

Setelah lewat dari satu minggu, agen pun masuk rumah dengan membawa tukang kunci. Kami meminta agar seluruh kunci di rumah diganti, mengingat mereka masih pegang kunci. Tapi ternyata drama belum selesai…

Agen melihat kaca jendela dapur pecah berantakan dan ada orang tidur di salah satu ruangan! Agen pun menghubungi polisi dan ternyata yang tidur adalah suami dari pasangan penyewa. Polisi pun langsung membawa dia pergi dalam keadaan terborgol. Karena memaksa masuk property orang lain sudah merupakan proses melanggar hukum.

Persis sebelum polisi tersebut pergi, datang mobil polisi lain. Rupanya orang tersebut sedang dicari polisi untuk sesuatu. Entah apa kami sudah ga pengen tau deh.

Takut, marah, kesal, sedih, kecewa. Semua campur aduk. Rumah yang kami pilih dan beli dengan penuh rasa cinta dan harapan, yang belum sempat ditinggali, diacak-acak begitu saja sama orang yang ga bertanggung jawab. Sigh…

Anywaaaaay…

Akhirnya setelah proses pembersihan yang dibantu oleh agen, serah terima kunci pun dilakukan.

Halaman berantakan terbengkalai, rumput liar disana sini dan pohon ga terurus tampak seperti belukar. Ditambah puntung rokok bertebaran disetiap sudutnya.

Salah satu pintu rusak seperti kena tonjok atau tendang, tembok bocel dan ada beberapa bekas bor, eternit bocel dan ada beberapa pengait, keran kamar mandi rusak, coretan di tembok, noda di tirai dan karpet, dll dst dsb… 💔

Uang jaminan sebesar satu bulan sewa pun ga cukup untuk membereskan segala yang ditinggalkan penyewa. Duh betul-betul bikin emosi.

Kami sudah mulai nyicil untuk melakukan pembersihan dan perbaikan. Sewa tukang disini harganya selangit, jadi lebih baik dilakukan sendiri. Resikonya, waktu pengerjaan lama karena M tetap harus kerja sedangkan saya pegang 2 bocah jadi ga bisa bantu banyak.

Semoga setelah ini rumah kami aman selamat dan jauh dari segala kejahatan, dan kami sekeluarga selalu dalam lindungan Allah SWT. Doakan kami bisa segera pindah ya…

Kelakuan Bocah


Beberapa waktu belakangan ini, daya imajinasi Eden kelihatan banyak peningkatan. Selain tambah banyak kata-kata dan kalimat baru, banyak gaya juga deh 😋

Kadang kasihan kalau liat dia gemes karena ibu-nya ga paham sama kata atau kalimat baru yang dia ucapkan. Jadi ibu harus betul-betul merhatiin kalimat di setiap tontonan atau buku yang dibacain, supaya ngerti Eden ngomong apa.

Salah satu drama yang kemarin lagi sering dia kerjain adalah pura-pura tidur sambil bunyi ngorok 😄 biasanya dia goleran di lantai/karpet atau di kursi terus pura-pura tidur. Lalu lokasi berubah jadi di atas tempat tidur, nyender bantal dan selimutan. Jadi abu ya mesti drama pura-pura nyari dan ngebangunin, atau bilang ‘sst, Eden bobo, ssst’. Tergantung kode dari juragan.

Beberapa hari lalu, tokohnya ganti, yang bobo selimutan bukan lagi Eden tapi mainan kuda. Dia bawa kuda ke kamar, taro di bawah selimut, trus panggil abu; “abu, horsey bobo, sssst”, sambil tangan di bibir dan jalan mengendap-endap 😄

Trus tiba-tiba suatu pagi dia ambil alas buat ganti popok, dan dia taro lah si boneka kelinci di atasnya, trus heboh teriak, “abu, bunny poopoo”. Dia minta ibu bersihiin bunny dengan gaya ganti popok 😂 kalau sudah selesai, Eden akan bilang, “all clean”. Gayanya daddy kalau ganti nappy.

Kelakuan Kiran yang baru 4 bulan pun ga kalah rusuh. Anak bayi ini ga mau klo digeletakin lama-lama, maunya duduk. Padahal ngguling aja belom khatam 😄 jadilah ganjel kiri kanan supaya anak bayinya bisa duduk. Dia tuh seneng banget liatin kakaknya main, ikut heboh gerakin tangan kaki dan matanya ga lepas ngikutin kemanapun kakaknya bergerak.

Kiran pun sudah mulai kami kenalkan dengan buku, dan ikutan duduk sama daddy dan kakak Eden pas acara bed time story. Lucu lihatnya, karena dia selalu berusaha pegang buku dan kepalanya selalu nyelonong ke depan 😋


Waktu itu saya pernah cerita soal sleeping bag untuk bayi, nah untuk Kiran pun kami beli karena punya Eden masih terlalu besar. Selain itu, kami pindah lagi ke Perth pas musim dingin. Tapi ternyata sleeping bag yang kami beli ga cukup hangat buat Kiran. Jadilah kami beli lagi di toko perlengkapan outdoor Macpac, bahannya enak banget dan breathable. Jadi ga takut Kiran susah nafas kalau wajahnya ketutupan.


Kadang saya merasa bersalah sama mereka, apalagi kalau mulai nangis barengan dan saya harus milih siapa duluan yang harus di samperin. Yang pusing kan kalau M lagi tugas luar dan Kiran nangis bangun malam, trus ngebangunin Eden 🙈😄 kerja bakti lahir batin deh tuh…

Bagaimana Eden dengan adanya Kiran? Saya ga yakin juga Eden ngerti apa dan siapa Kiran ya, tapi kalau Kiran nangis atau misalnya posisi duduk/tidurannya Kiran udah ajaib, hampir bisa dipastikan Eden akan lari cari saya untuk lapor dan segera datang ke Kiran. Kadang Eden duduk disebelah Kiran dan usap-usap kepalanya sambil bilang ‘sayaaang sayaaang…’. Momen kaya begini bikin mata langsung buram 😍

Sekarang ini saya lagi nungguin anak bayi buat mulai gulang guling. Sudah bisa telentang kalau sedang posisi tengkurap tapi belum sebaliknya. Sedangkan untuk Eden, saya lagi nyiapin mental untuk mulai potty training 😁 semoga semua lancar.


Ada saran atau pengalaman untuk potty training? 

Dongeng sebelum senin

Musim dingin di Perth artinya hujan turun hampir setiap hari, kadang lengkap dengan angin kencang atau malah hujan butiran es. Yang terakhir ini jarang sih kejadian, tapi bukan ga mungkin.

Pagi ini pun hujan deras dan langit lumayan gelap, tapi setelah kelihatan ada sedikit langit biru, kami pun segera bergerak keluar rumah. 

Rute pagi ini; Kings Park

Sebetulnya secara kasat mata, tempat kami tinggal saat ini ada persis di bawahnya Kings Park. Tapi menuju kesana dengan jalan kaki, pilihannya cuma 2; naik tangga lewat Jacob’s Ladder, atau nanjak lewat Mounts Street.

Jacob’s Ladder itu tangga dari Mounts Bay  Road menuju Kings Park, sebanyak 246 anak tangga 😁. Tangga tentunya bukan pilihan untuk kami yang pergi dengan 2 stroler.


Jadi pilihan jatuh ke nanjak lewat Mounts Street. Jaraknya sih mungkin cuma 200-300m aja, tapi nanjaknya sumpah curam banget! Luar biasa bikin pengen kabur selimutan lagi buat pemalas kaya saya ini 😁 tapi karena saya suka banget pergi ke Kings Park, jadi marilah kita laksanakan!

sebelum nanjak

sesudah nanjak


Sepanjang nanjak ini lumayan lah bikin kesel M karena saya berisik nunjuk mau apartemen yang ini dan itu plus ribut ngos-ngosan ga nyampe-nyampe 😄 tinggi ajaaaa nanjaknyaaaaa, mo matik bener deh ah!

Karena posisi tanahnya semacam tebing, daerah ini jadi banyak dibangun apartemen mahal yang pemandangannya langsung ke pusat kota dan sungai Swan, plus berasa punya pekarangan sendiri karena sebelahan sama Kings Park.

Memasuki area Kings Park, agak aneh karena banyak banget orang berdiri dan mondar mandir. Dan mereka ga kelihatan sedang berolahraga, ataupun menikmati Kings Park karena setiap orang matanya lekat pada layar hp masing-masing. Ga salah lagi, kami sepakat bahwa mereka adalah para pemburu Pokemon. Saya sempat tanya seorang ibu yang jalan kaki sambil menggandeng anaknya yang sibuk nyureng liat hp; “are you doing the pokemon?”, dan dia jawab iya sambil nyengir. Saya kepo? Iya 😄 nanyanya juga sambil nahan ngakak. Niat banget deh mereka ini hahahhaa…

Sampai Kings Park, tujuan utama; ngopi!


Seperti juga area terbuka lain di Perth, tempat ini juga penuh orang yang bawa jalan anjingnya. Saya suka lihat binatang, tapi ga suka kalau mereka dalam jarak dekat. Saya takut binatang. Iya, ga boong 😁 saya ga nyaman kalau ada dalam jarak serentangan tangan dari mereka.


Selesai ngopi, kami putar-putar sedikit, Eden yang lagi senang jalan kaki biar puas dulu lari-larian sebelum kembali duduk di stroler.


pemandangan kota perth dan sungai swan


jalan masuk ke kings park


Nanti kapan-kapan saya publish deh cerita soal Kings Park, semoga draft yang nyangkut itu bisa segera selesai.

Udah selesai deh dongeng sebelum senin-nya. Semoga kalian juga punya dongeng yang mengenangkan buat pengantar tidur malam ini ya…

… And they lived happily ever after… Nighty nite, sleep tight 😘

Legoland Resort Malaysia – II

Setelah kelar cerita tentang Legoland Hotel, sekarang giliran cerita tentang Legoland Theme Park dan Water Park. 

4 tiket masuk theme park/water park


Kami menginap dua malam di Legoland Hotel, dan mengambil tiket terusan untuk dua hari yang berlaku konsekutif (berkelanjutan). Karena kami tiba di Legoland Resort sekitar tengah hari dan Park tutup jam 6 sore, kami putuskan untuk menggunakan tiket di hari kedua dan ketiga saja. Rencananya, kami akan ke water park di pagi hari kedua, makan siang dan kemudian ke theme park. Demikian juga dengan hari ketiga, karena bis jemputan baru akan datang jam 4.15 sore. Jadi kami akan punya cukup waktu.

Water Park


Tiket yang sudah kami beli tidak termasuk tiket masuk water park untuk Eden dan Kiran (anak di bawah 3 tahun) jadi kami harus beli tiket baru seharga @ RM11. Harga tsb termasuk 2 buah popok berenang. Lumayan deh buat tambahan, secara saya ga bawa banyak 😋 oiya, Kiran ga ikut berenang, anak baik hati ini anteng bobo selama kami berenang.

Selain itu, untuk mendapatkan handuk, kita bisa sewa dengan harga RM30 plus deposit RM30 yang diambil saat pengembalian handuk. Kalau mau sewa gazebo juga bisa, ada beberapa pilihan paket. Tapi kalau mau pakai kursi biasa pun banyak dan kelihatannya cukup aman.


Melihat perosotan dan seluncuran, tentunya mata saya udah penuh binar-binar. Selain yang terjun tegak lurus, saya suka banget main perosotan di water park. Ralat. Saya suka banget main perosotan 😋 Tapi mengingat punya 2 anak kecil dan salah satunya bayi yang masih perlu ASI, jadilah saya harus menahan diri.

Untunglah nana dan pop berbaik hati mau jagain Eden dan Kiran selama ibu dan daddy pergi main perosotan. Kemudian pop lanjut jagain Kiran karena ibu dan nana sibuk main di kolam ssafari sama Eden, dan daddy plus 2 anaknya ga bosan main perosotan 😄 kami akhirnya selesai setelah Kiran bangun dan mulai protes kepanasan.

Water park ini dibagi dua; area anak besar yang isinya kolam ombak dan perosotan, dan area anak kecil yang isinya kolam arus, kolam safari yang ada perosotan mini plus binatang-binatangan, dan kolam main yang sayangnya lagi renovasi.

Untuk yang malas mandi atau bilas dan mau langsung main ke theme park, bisa mengeringkan badan di Dry Station. Semacam hand dryer tapi seukuran badan dewasa 😋 ada di beberapa tempat, dan ga gratis hehehee…

Kalau lapar pun ga perlu keluar area, ada beberapa kios dan ada resto juga dalam area water park, tapi kami ga sempat icip-icip.

Water park ini dirancang memang untuk anak-anak, jadi kalau mengharap akan menemukan perosotan yang seru mengerikan atau tinggi luar biasa untuk ukuran dewasa, anda berada di tempat yang salah 😋 buat saya, Atlantis  Ancol dan Waterbom Bali masih lebih seru menantang.

Sekedar catatan, disarankan untuk lebih dulu ke water park. Seperti pengalaman kami kemarin, hari ketiga itu water park ditutup karena ada kandungan amoniak dalam air (lupa persisnya).  Pengumuman ini langsung dari badan pemerintah. Kebayang kalau datang jauh-jauh dan ga bisa berenang. Karena banyak anak yang sudah siap dengan perlengkapan berenang dan menangis karena ga bisa main. Untungnya ada kolam renang hotel, jadi mungkin bisa cukup menghibur. 

Theme Park


Kebetulan kamar kami menghadap di arah theme park, jadi anak-anak sudah heboh menentukan mau naik apa dan rutenya mau lewat mana dulu 😋 

Setelah makan siang, nana, pop dan anak-anak langsung pergi. Sedangkan kami menunggu M selesai teleconference meeting baru berangkat. 

Tiket terusan itu bisa digunakan bolak balik dalam sehari. Jadi kalau pagi sudah masuk dan mau istirahat dulu di hotel lalu siang balik lagi pun bisa. Praktis buat kami yang bawa bayi dan batita. Buat yang mau sholat pun ga usah khawatir, ada beberapa musholah tersedia di masing-masing park.

Ketika kami ketemu rombongan nana dan pop, anak-anak langsung semangat, mereka tau saya pasti mau naik segala macam roller coaster. Dan M udah lama menyerahkan urusan beginian ke saya. Dia bahagia cuma nunggu stroler di bawah 😋

Miniatur Lego – Clark Quay Singapore


Yang paling menarik buat saya adalah miniatur bangunan terkenal di dunia yang semuanya dibuat dari Lego. Favourite saya; pelabuhan! Ada Tanah Lot dari Lego juga, dan kereeeen! ❤️ 

Seperti juga water park, permainan di theme park ini dibuat untuk anak usia sekolah deh kalau menurut saya. Jadi pergi ke Legoland Resort Malaysia itu memang betul-betul untuk anak. Walaupun tentu saja tetap seru dan menarik, apalagi buat saya yang baru pertama kali bawa Eden main ke tempat seperti ini 😍

Permainan untuk anak lumayan banyak jenisnya, apalagi kalau anak sudah usia sekolah TK. Pasti seru banget buat mereka. Dari kapal terbang, perahu, mobil dan kereta, juga ada permainan keluarga dimana ayah ibu anak semua aktif melakukan sesuatu untuk menang. Ada juga arena Lego Duplo, semacam playground untuk anak-anak balita. Untuk anak seusia Eden, ada batas minimal tinggi badan 80cm untuk bisa main. Alhamdulillah Eden lebih dari 80cm jadi ibu ga sia-sia antri sambil gendong 😋

andalan ibu dan eden 😋


Permainan uji nyali juga lumayan banyak, untuk anak usia belasan tahun. Ada beberapa macam jet coaster, ada permainan perahu yang kalau di Dufan namanya Niagara. Ini aselik basah kuyup parah. Pilihannya antara ganti semua pakaian termasuk sepatu, atau masuk Dry Station 😋 entah ya beneran bakal kering atau ga.

Arena yang paling ditunggu M tentunya Star Wars. Bukan permainan uji nyali, tapi semacam film pendek. Yang paling menyenangkan adalah karena tempatnya dalam ruangan AC. Sayangnya stroler ga boleh dibawa masuk, padahal lumayan buat Kiran ngadem. Terpaksa Kiran tunggu diluar sama Nana karena lagi tidur. 


Banyak permainan yang tempatnya dalam ruangan dan tidak membolehkan stroler masuk, jadi agak susah buat kami. Gantian jaga di luar juga ga enak, kasian anak-anak menunggu. 


Selain itu yang seru tentunya hiasan Lego disana sini yang dibuat berbagai macam bentuk. Paling keren menurut saya adalah kolam musik. Jadi kalau posisi kita disebelah alat musik bass, maka suara bass akan mendominasi lagu. Begitu juga kalau kita berdiri dekat terompet, maka terompet yang mendominasi. Seru ya kalau pas banyak orang, pasti tambah keren suara musiknya.


Hari ketiga itu kami nyaris ga bisa kemana-mana. Water park ditutup, dan hujan deras plus petir ga berhenti dari pagi. Beberapa permainan di theme park pun ditutup kalau cuaca tidak memungkinkan. Anak-anak mulai uring-uringan karena tau waktu mereka ga banyak lagi.

Untunglah menjelang waktu makan siang hujan reda, jadi kami bisa pergi lagi. Beruntung hari sebelumnya kami sudah puas bermain, jadi semua senang deh 😉

Legoland Resort Malaysia – I

Rombongan lenong di spot wajib Legoland

Setelah rusuh bikin paspor buat Kiran, akhirnya kami jadi juga liburan ke Legoland. 
Getting there…

Kami memutuskan untuk naik bis dari Singapura ke Legoland. Harganya $12/orang/trip. Lokasi keberangkatan dari Singapore Flyer dan turun langsung di Legoland. Info lengkapnya bisa dilihat disini.

Berangkat dari Singapore Flyer sekitar jam 10.30 pagi, dan tiba di Legoland sekitar jam 12 siang. Sedangkan pulangnya kami ambil jam 4.15 sore dan tiba sekitar jam 6. 

Usahakan barang bawaan dibuat seminimal mungkin, karena harus bawa turun barang saat imigrasi; 

  • Berangkat; hanya membawa dompet/tas kecil saat di imigrasi Singapura dan menurunkan semua barang bawaan saat di imigrasi Malaysia. 
  • Kembali; sebaliknya, hanya membawa dompet/tas kecil saat di imigrasi Malaysia dan menurunkan semua barang bawaan saat di imigrasi Singapura.

Dengan bayi dan balita, bawaan kami ga bisa ditawar lagi 😁 1 koper sedang dengan 2 stroler. Untung ada mertua dan 2 anak M yang sudah lumayan besar jadi ga terlalu rusuh deh…

The Hotel

Bangunan Legoland Hotel adalah yang pertama terlihat saat bis mendekati area Legoland Resort. Dilengkapi dengan 249 kamar bertema Kingdom, Pirate dan Adventure plus kolam renang dan beberapa pilihan resto.

Karena kami datang naik bis, jadi masuk dari belakang hotel yang menghadap ke theme park. Langsung disambut lift yang penuh bergambar karakter Lego, lampu disko dan musik. Seru!

pintu lift

disco time!

Keluar lift, langsung ketemu Foam Brick area, semacam area Lego Duplo tapi bahannya dari busa dengan ukuran besar. Juga dilengkapi area X-Box yang di aktifkan 2 kali sehari. Eden bahagia luar biasa, sibuk lari sana sini, susun Lego dan bermain warna.

brick foam area

Masuk ke lobby, makin seru lagi karena background area receptionist tuh penuh sama minifigures, dan bentukan Lego sejauh mata memandang, juga toko yang sumpah menggoda bangets!
Di area ini, ada kolam-kolam berisi Lego Brick yang bebas dimainkan. Jangan lupa perhatikan juga papan pengumuman karena ada waktu-waktu tertentu karakter Lego muncul disini dan di area Brick Foam. Selain itu, bisa juga tukar minifigure, tapi sayang saya ga baca lebih lanjut syarat dan ketentuan untuk program ini.

area receptionist

Karena rombongan kami terdiri dari 4 dewasa dan 4 anak, dipilihlah Kingdom Suite yang bisa menampung sesuai kebutuhan. Sayangnya di page booking kamar ga dijelaskan kalau tempat tidur yang tersedia berupa 1 kingbed dan 6 single bed (masing-masing berupa bunk bed 3 susun), jadi terpaksalah Nana dan Pop tidur di bunk bed 😁. 


Kamarnya lumayan besar, ada satu kamar tidur dengan kingbed, dua kamar mandi (satu shower dan satu tub), ruang tv menyatu dengan ruang makan, dan area bunk beds. Dalam kamar juga disediakan portable cot, jadi ga perlu lagi minta ke hotel.

Yang seru, di dalam kamar ada semacam peti harta karun dan peta petunjuknya. Jadilah anak-anak heboh cari jawabannya, sampe akhirnya berhasil buka kunci peti dan ngedapetin Lego-Lego ini. Selain Lego yang boleh dibawa pulang, disediakan juga 2 kontainer Lego Duplo yang bisa dimainkan di dalam kamar.


Untuk peralatan mandi, waktu hari pertama disediakan 1 pak toiletries di masing-masing kamar mandi yang berbentuk semacam kotak puzzle. Hari kedua saya tungguin ternyata ga nongol lagi 😋 selain itu, ada juga yang satuan seperti pada umumnya. Semua dibungkus dalam kemasan bergambar Lego, tapi sayang isinya standar dan bukan produk Lego.

Untuk urusan perut, ada beberapa resto tersedia di hotel, dan ada juga fast food seperti KFC (ada menu nasi 😍), BK dll di samping hotel. Semacam pusat perbelanjaan kecil. 

Sarapan pagi disediakan di Brick Restaurant. Tempatnya luas banget, seru warna warni, banyak Lego pastinya, makananya beragam banget dan enak. Kami sempat balik lagi untuk makan malam dan walaupun menu buffet ga seberagam sarapan, tapi tetap enak. Untuk makan malam, taplak mejanya cuma kertas putih bergambar plus beberapa guyonan ala bule dan setiap anak dapat 4 krayon warna. Jadi bebas merdeka deh anak-anak mau corat coret di taplak itu. Sedangkan saat sarapan, kalau placemat dibalik itu kertas gambar juga. Eden happy banget coret sana sini dibantuin sama semua orang 😋 

Siap-siap untuk antri pada saat sarapan, karena walaupun ruangan besar, tapi pengunjungnya pun luar biasa banyak.

Selain itu ada kids activity corner, dimana anak bisa menghias cupcake-nya sendiri. Dan juga ada berbagai macam permen dan coklat yang merupakan bagian dari buffet. Jadi waspadalah wahai ibu bapak 😄

Secara keseluruhan hotel Legoland ini asik banget dan seru. Makanan enak, servis bagus dan tentunya seru karena betul-betul seperti di negeri Lego. Tapi saran saya, kalau ga suka anak-anak, sebaiknya coret aja tempat ini dari bucket list. They are everywhere, literally everywhere 😄

Cerita theme park dan water park menyusul ya…

Lip & Tongue Tie


Setelah Eden mengalami proses pengguntingan Tongue Tie ga lama setelah lahir, ternyata Kiran pun harus mengalami proses yang kurang lebih sama. Karena konon salah satu penyebabnya adalah faktor genetis (yup, M side 😋).

Waktu masih di ruang persalinan dan dokter spesialis anak mengenalkan diri, saya langsung bilang kalau nanti bayinya tampak tongue tie, tolong langsung ditangani saja. Setelah lahir, dokter tsb bilang kalau Kiran memang ada sedikit tongue tie dan tidak perlu ada tindakan.

Pertama kali menyusui, rasa sakit langsung terasa dan bentuk puting saya setelah menyusui tampak kotak (harusnya agak runcing/segitiga) yang merupakan salah satu indikator bayi memiliki sindrom tongue tie. Proses menyusui pun lama, bayi tidur terus menerus karena malas menyusu (menurut dokter, bayi dengan tongue tie mengalami kesulitan menyusui jadi lebih memilih tidur), dan juga proses pelekatan (latching) yang singkat dan menyebabkan bayi menangis setiap beberapa isapan. 

Karena gejala tsb di atas tampak sama seperti Eden bayi, maka saya langsung berupaya memompa asi dan memberikan botolan kepada Kiran. Dengan demikian berat badan Kiran juga tetap terjaga dan ga rewel karena kelaparan.

Setelah dokter spesialis anak yang kami datangi setuju bahwa Kiran harus mendapat tindakan untuk tongue tie-nya, kamipun membuat janji temu dengan salah satu dokter yang direkomendasikan. Seorang profesor bedah mulut di rumah sakit yang cukup ternama. Sayangnya kami harus kecewa karena menurut beliau, usia bayi harus minimum 2.5 bulan dan tindakan dilakukan dengam bius total. Awalnya kami masih ngotot mengingat proses tindakan Eden sangat singkat dan tanpa bius. Tapi beliau bilang kalau beda negara ya beda prosedur. Jadi sudahlah, kami pulang. Perjalanan 3 jam pulang pergi pun sia-sia dan hanya buang waktu 😤

Kemudian kami dapat info kalau anak sepupu saya mengalami tongue tie dan sudah mendapat tindakan, padahal usianya hanya lebih tua beberapa hari dari Kiran. 

Berangkatlah kami ke Kemang Medical Center untuk ketemu dr. Asti Praborini, SpA yang mengambil sub spesialis laktasi. Begitu masuk, cerita apa dan bagaimana, lalu beliau minta saya menyusui Kiran untuk melihat proses latching dan posisi mnyusui, kemudian Kiran diperiksa dan ternyata borongan lip & tongue tie. Saya langsung disodori form persetujuan tindakan frenotomy dan beliau langsung mengerjakan. Prosesnya ga sampai 5 menit dan tanpa bius. Untuk lip-nya cukup banyak mengeluarkan darah, dan sepertinya memang lebih sakit 😓 


Setelah tindakan, saya diminta menyusui lagi untuk melihat apakah ada perubahan. Masalah belum selesai ternyata. Kiran terlalu akrab dengan botol susu dan semacam lupa puting, istilahnya nipple confuse, dan harus dilakukan inisiasi menyusui ulang untuk mengembalikan rangsang menyusunya. Saya diminta melakukan kontak skin-to-skin dengan Kiran selama 3 x 24 jam. Tapi karena repot dan ga nyaman, jadi saya cuma melakukan ini selama beberapa jam saja. 

Setelah selesai, kami dirujuk ke Klinik Laktasi dan mendapat pelatihan senam wajah untuk menjaga agar tidak terjadi pelekatan kembali lip & tongue tie tsb.

Butuh kurang lebih 3 hari untuk Kiran bisa kembali menyusu tanpa menjerit dan marah-marah. Alhamdulillah, semoga setelahnya sehat dan baik semuanya.